Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Puasa sunah, hari larangan, dan kafarat · Bait 479 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- وست شوال وبالولاء أولى
- dan enam hari Syawal, berurutan lebih utama
- وتاسوعا وعاشوراء
- serta Tasu‘a dan Asyura
Terjemahan bait 479
Dan enam hari Syawal, berurutan lebih utama; serta Tasu‘a dan Asyura.
Syarah · keterangan lengkap
Enam hari Syawal
Enam hari puasa dalam Syawal dianjurkan sesudah hari Idulfitri. Berurutan dan segera sesudah Id lebih utama dalam syarah, tetapi tidak berarti hari Id sendiri boleh dipuasai.
Hari yang terpisah
Melaksanakan enam hari secara terpisah tetap dibedakan dari hilangnya anjuran sama sekali. Kewajiban qada yang masih ada perlu ditata menurut ketentuannya, bukan dilupakan demi mengejar sunah.
Muharam
Tasu‘a adalah 9 Muharam dan Asyura 10 Muharam. Keduanya berada pada bulan berbeda dari enam Syawal; daftar singkat ini tidak menyatukan seluruh amalan dalam satu pekan kalender.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 129. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
وبالولاء أولى
بالولاء menerangkan cara berurutan; أولى menunjukkan keutamaan, bukan syarat sah.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan puasa sunah, hari larangan, dan kafarat. Baca bersama bait 478 dan 480 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Enam hari puasa dalam Syawal dianjurkan sesudah hari Idulfitri.
- Melaksanakan enam hari secara terpisah tetap dibedakan dari hilangnya anjuran sama sekali.
Contoh penerapan
Keadaan
Tasu‘a adalah 9 Muharam dan Asyura 10 Muharam.
Cara memahami
Keduanya berada pada bulan berbeda dari enam Syawal; daftar singkat ini tidak menyatukan seluruh amalan dalam satu pekan kalender.
Batas penerapan
Melaksanakan enam hari secara terpisah tetap dibedakan dari hilangnya anjuran sama sekali. Kewajiban qada yang masih ada perlu ditata menurut ketentuannya, bukan dilupakan demi mengejar sunah.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Sahih Muslim 1162b
Riwayat sahih. Petikan Arab dicocokkan dengan teks sumber bernomor; uraian Indonesia disusun sendiri. Petikan bukan seluruh matan hadis.
Baca petikan Arab
وسئل عن صوم يوم عرفة فقال يكفر السنة الماضية والباقية
Inti makna
Riwayat menyebut keutamaan puasa Arafah dan juga membahas Asyura serta Senin. Keutamaan penghapusan dosa dibaca bersama ketentuan tobat dan hak sesama.
Kaitan dengan bait
Hadis menerangkan puasa Arafah, Asyura, dan Senin. Enam Syawal, Kamis, hari larangan, serta pemutusan puasa sunah mempunyai dalil dan rincian lain pada syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 479: enam syawal, tasu‘a, dan asyura.
Lihat pembahasan jawaban
Enam hari puasa dalam Syawal dianjurkan sesudah hari Idulfitri. Berurutan dan segera sesudah Id lebih utama dalam syarah, tetapi tidak berarti hari Id sendiri boleh dipuasai. Melaksanakan enam hari secara terpisah tetap dibedakan dari hilangnya anjuran sama sekali. Kewajiban qada yang masih ada perlu ditata menurut ketentuannya, bukan dilupakan demi mengejar sunah.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
وست شوال وبالولاء أولى
dan enam hari Syawal, berurutan lebih utama
وتاسوعا وعاشوراء
serta Tasu‘a dan Asyura
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
وسِتِّ شوالٍ وبالْوِلاءِ
Buka penggal 2
أَوْلَى وتاسوعا وعاشوراء
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 479 — Enam Syawal, Tasu‘a, dan AsyuraNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.