Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 49
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Karunia, takdir, dan akhir kehidupan · Bait 49 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
لم يزل
senantiasa
الصديق
ash-Shiddiq (Abu Bakar)
فيما قد مضى
dalam masa yang telah berlalu
عند إلهه
di sisi Tuhannya
بحالة الرضا
dalam keadaan diridai
Terjemahan bait 49

Ash-Shiddiq senantiasa, dalam masa yang telah berlalu, berada dalam keadaan diridai di sisi Tuhannya.

Syarah · keterangan lengkap

Kaitan dengan bait 48

Sesudah membahas pengetahuan Allah tentang akhir orang beriman, pengarang menyebut Abu Bakar sebagai contoh orang yang diketahui berakhir dalam kebahagiaan iman. Penjelasan ini berada dalam rangkaian tentang ilmu Allah dan kedudukan hamba. Jangan memisahkannya menjadi cerita sejarah yang mengklaim rincian setiap detik kehidupan beliau tanpa sumber.

Memahami keridaan

Keridaan Allah tidak dipahami sebagai perubahan emosi seperti manusia yang semula tidak tahu lalu baru menyukai seseorang setelah mendapat kabar. Dalam kerangka ilmu kalam, ilmu Allah meliputi perjalanan serta akhir kehidupan hamba. Ungkapan senantiasa diarahkan kepada kedudukan yang dijelaskan pengarang, bukan penetapan bahwa Abu Bakar menjadi nabi atau maksum dari semua kekeliruan manusiawi.

Pelajaran bagi pembaca

Keutamaan Abu Bakar mendorong meneladani keteguhan dalam membenarkan Rasulullah, kejujuran, dan pengorbanan. Kita tidak boleh menyimpulkan bahwa karena akhir seseorang telah diketahui Allah, proses iman, amal, dan pertobatannya menjadi tidak penting. Proses itulah yang dijalani manusia dengan tanggung jawab. Pada bait ini, bentuk ilahihi, “Tuhannya”, mengikuti lafaz yang diterangkan dalam Ghayat al-Bayan. Salinan daring yang terpotong pada kata ilah dirapikan sesuai penjelasan tersebut dan perbaikannya dicatat dalam catatan naskah.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 18. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

لم يزل الصديق فيما قد مضى

لم menafikan dan menjazmkan يزل dari زال. الصديقُ isim يزل yang marfu‘. فيما قد مضى keterangan masa; ما maushul, قد penegas, dan مضى fi‘il lampau sebagai shilah.

عند إلهه بحالة الرضا

عندَ zharaf, إلهِ mudhaf ilaih, dan ه mudhaf ilaih kembali kepada Abu Bakar. بحالة الرضا melengkapi khabar يزل: berada dalam keadaan rida menurut ilmu Allah.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

يزل

Akar
ز و ل
Pola / bentuk
يَفْعَلْ setelah i‘lal

Dari زال يزال. Pada لم يزل, alif tengah hilang karena jazm dan susunannya menunjukkan keberlangsungan.

الرضا

Akar
ر ض ي
Pola / bentuk
فِعَل (masdar رِضًا)

Masdar yang berarti keridaan. Bentuk alif akhirnya berkaitan dengan huruf lemah.

Hubungan bait

Ash-Shiddiq adalah Abu Bakar yang telah disebut pada bait 35. Di sini beliau menjadi contoh dalam pembahasan ilmu Allah tentang akhir kehidupan pada bait 48.

Intisari & faedah
  1. Contoh khusus tidak dijadikan izin mengklaim keselamatan pasti diri sendiri.
  2. Ilmu Allah tidak berkembang karena baru memperoleh informasi.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang merasa amalnya hari ini menjamin bahwa ia tidak perlu lagi menjaga iman.

Cara memahami

Ia meneladani kesungguhan Abu Bakar dan tetap memohon keteguhan.

Batas penerapan

Penghormatan kepada sahabat tidak sama dengan memastikan nasib semua orang tanpa dalil.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS At-Tawba 9:40

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍۢ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Inti makna

Dalam peristiwa hijrah, Allah menolong Nabi; beliau menenangkan sahabatnya di gua bahwa Allah bersama mereka.

Kaitan dengan bait

Ayat menyebut sahabat Nabi di gua, yang dikenal sebagai Abu Bakar; menjadi penguat kedudukan beliau, bukan uraian lengkap istilah ilmu azali pada bait.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Ke mana ه pada إلهه kembali?

Lihat pembahasan jawaban

Kepada ash-Shiddiq, Abu Bakar: di sisi Tuhannya.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

لم يزل

senantiasa

الصديق

ash-Shiddiq (Abu Bakar)

فيما قد مضى

dalam masa yang telah berlalu

عند إلهه

di sisi Tuhannya

بحالة الرضا

dalam keadaan diridai

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

لم يَزَلِ الصِّدِّيقُ فيما قَد مَضَى

Buka penggal 2

عند إلهِهِ بِحَالَةِ الرِّضَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 49 — Abu Bakar sebagai contoh dalam pembahasan ilmu AllahNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan