Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Iktikaf dan kesinambungannya · Bait 492 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- سن وإنما يصح إن نوى
- iktikaf disunahkan dan sah jika diniatkan
- بالمسجد المسلم بعد أن ثوى
- oleh muslim dengan menetap di masjid
Terjemahan bait 492
Iktikaf disunahkan dan sah jika diniatkan; oleh muslim dengan menetap di masjid.
Syarah · keterangan lengkap
Ibadah menetap
Iktikaf ialah menetap di masjid dengan niat ibadah. Duduk biasa dapat menjadi iktikaf dengan maksud yang tepat, sedangkan sekadar melintas tidak memenuhi unsur menetap yang diterangkan syarah.
Masjid sebagai tempat
Dalam mazhab kitab, tempat berstatus masjid menjadi syarat. Ruang salat pribadi atau musala yang tidak mempunyai status masjid tidak otomatis diperlakukan sama hanya karena dipakai salat.
Niat dan kelayakan
Niat membedakan ibadah dari kebiasaan menunggu. Syarah juga mensyaratkan keadaan pelaku yang sesuai, termasuk kesucian dari hadas besar yang menghalangi berdiam di masjid; rincian durasi diteruskan berikutnya.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 133. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
المسلم
Fa‘il bagi نوى dalam susunan nazam, muslim yang meniatkan iktikaf.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan iktikaf dan kesinambungannya. Baca bersama bait 491 dan 493 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Iktikaf ialah menetap di masjid dengan niat ibadah.
- Dalam mazhab kitab, tempat berstatus masjid menjadi syarat.
Contoh penerapan
Keadaan
Niat membedakan ibadah dari kebiasaan menunggu.
Cara memahami
Syarah juga mensyaratkan keadaan pelaku yang sesuai, termasuk kesucian dari hadas besar yang menghalangi berdiam di masjid; rincian durasi diteruskan berikutnya.
Batas penerapan
Dalam mazhab kitab, tempat berstatus masjid menjadi syarat. Ruang salat pribadi atau musala yang tidak mempunyai status masjid tidak otomatis diperlakukan sama hanya karena dipakai salat.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Al-Qur’an 2:187
Surah Al-Baqara, ayat 187. Inti makna Indonesia merupakan ringkasan pembelajaran; baca konteks ayat pada sumber.
Baca teks ayat
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌۭ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌۭ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Inti makna
Ayat menjelaskan kebolehan hubungan suami istri pada malam puasa, batas makan sampai fajar, penyempurnaan puasa hingga malam, dan larangan hubungan intim selama iktikaf di masjid.
Kaitan dengan bait
Ayat menyebut iktikaf di masjid dan larangan hubungan intim saat iktikaf. Lama menetap, nazar, serta alasan keluar diperinci syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 492: niat dan tempat iktikaf.
Lihat pembahasan jawaban
Iktikaf ialah menetap di masjid dengan niat ibadah. Duduk biasa dapat menjadi iktikaf dengan maksud yang tepat, sedangkan sekadar melintas tidak memenuhi unsur menetap yang diterangkan syarah. Dalam mazhab kitab, tempat berstatus masjid menjadi syarat. Ruang salat pribadi atau musala yang tidak mempunyai status masjid tidak otomatis diperlakukan sama hanya karena dipakai salat.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
سن وإنما يصح إن نوى
iktikaf disunahkan dan sah jika diniatkan
بالمسجد المسلم بعد أن ثوى
oleh muslim dengan menetap di masjid
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
سُنَّ وإنما يَصِحُّ إِنْ نَوَى
Buka penggal 2
بالمسجد المُسلمُ بعد أن ثَوَى
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 492 — Niat dan tempat iktikafNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.