Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 50
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Karunia, takdir, dan akhir kehidupan · Bait 50 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
إن الشقي
sesungguhnya orang yang celaka
لشقي الأزل
benar-benar yang celaka dalam ketetapan azali
وعكسه السعيد
dan kebalikannya ialah orang yang bahagia
لم يبدل
tidak ditukar
Terjemahan bait 50

Sesungguhnya orang celaka adalah yang [diketahui] celaka sejak azali; kebalikannya ialah orang bahagia, yang tidak ditukar [dalam ilmu Allah].

Syarah · keterangan lengkap

Apa arti azali?

Azali berarti tanpa permulaan. Yang azali pada pembahasan ini ialah ilmu Allah, bukan kehidupan manusia. Manusia tidak sudah hidup sejak azali; Allah mengetahui keberadaan, pilihan, dan akhirnya tanpa didahului ketidaktahuan. Kebahagiaan dan kecelakaan di sini berkaitan dengan akhir keimanan sebagaimana bait 48.

Perubahan manusia telah diketahui

Seseorang dapat berpindah dari kekufuran kepada iman, dari dosa kepada pertobatan, atau sebaliknya. Perubahan dalam perjalanan manusia tidak berarti pengetahuan Allah direvisi. Allah sudah mengetahui keseluruhan perjalanan itu. Maka ucapan “sudah ditetapkan” tidak dapat dipakai untuk menolak ajakan bertobat atau menyatakan usaha tidak mempunyai arti.

Tugas yang diketahui dan yang tidak diketahui

Manusia tidak mengetahui catatan akhir dirinya, tetapi mengetahui tuntunan untuk beriman, beramal, dan menjauhi kezaliman. Ia diperintahkan mengerjakan yang berada dalam tanggung jawabnya. Contohnya, pelajar yang belum berhasil memahami fikih tetap perlu belajar; ia tidak dapat menyimpulkan dirinya ditetapkan gagal. Demikian pula orang yang berdosa masih dapat memohon ampun dan memperbaiki keadaan. Bait menegaskan kesempurnaan ilmu Allah, sedangkan arahan pengamalannya ialah kerendahan hati, kesungguhan, dan harapan yang tidak putus.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 18. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

إن الشقي لشقي الأزل

إن menashabkan الشقيَّ sebagai isimnya. لَـ adalah lam penegas pada khabar شقيُّ; الأزل mudhaf ilaih. Ini penegasan keadaan yang telah diketahui dan ditetapkan, bukan pengetahuan manusia tentang nasib seseorang.

وعكسه السعيد لم يبدل

عكسُه mubtada dan السعيدُ khabar dalam susunan pembalikan makna: kebahagiaan adalah sisi sebaliknya. لم يبدّل fi‘il pasif yang menafikan perubahan pada ketetapan yang dibicarakan.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الشقي

Akar
ش ق و
Pola / bentuk
فَعِيل

Sifat dari شَقِيَ, celaka atau sengsara. Penerapan akhiratnya mengikuti penjelasan pengarang tentang akhir kehidupan.

السعيد

Akar
س ع د
Pola / bentuk
فَعِيل

Sifat yang menunjukkan kebahagiaan. Kesamaan pola dengan شقي tidak berarti maknanya sama.

Hubungan bait

Bait 48–49 membahas pengetahuan Allah tentang akhir kehidupan. Bait ini menegaskan ketetapan azali, lalu bait 51 menerangkan ajal.

Intisari & faedah
  1. Ketetapan Allah tidak menjadi alasan meninggalkan ikhtiar.
  2. Manusia menjalani perintah dan pertobatan tanpa mengaku mengetahui perkara gaib tentang dirinya.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar berkata, jika semua sudah ditetapkan, ia tidak perlu belajar atau berbuat baik.

Cara memahami

Ia memahami bahwa usaha, pilihan, dan pertobatan juga termasuk hal yang dijalani dalam takdir Allah.

Batas penerapan

Pembahasan takdir tidak menghapus tanggung jawab atas tindakan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Qamar 54:49

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍۢ

Inti makna

Allah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan-Nya.

Kaitan dengan bait

Ayat menetapkan penciptaan segala sesuatu dengan ukuran/ketentuan; tidak memerintahkan meninggalkan amal.

Buka sumber lengkap ↗

Shahih Muslim 2647a

Hadis dalam Shahih Muslim. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

Inti makna

Nabi memerintahkan tetap beramal; setiap orang dimudahkan menuju apa yang ditetapkan baginya. Riwayat ini tidak mengajarkan meninggalkan ikhtiar.

Kaitan dengan bait

Hadis mengarahkan untuk tetap beramal ketika membahas ketetapan, sehingga takdir tidak dipakai sebagai alasan pasif.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah manusia dapat memakai bait ini untuk memastikan dirinya pasti selamat?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Ia tidak mengetahui akhir dirinya dan tetap diperintahkan beriman, beramal, serta bertobat.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

إن الشقي

sesungguhnya orang yang celaka

لشقي الأزل

benar-benar yang celaka dalam ketetapan azali

وعكسه السعيد

dan kebalikannya ialah orang yang bahagia

لم يبدل

tidak ditukar

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

إنَّ الشَّقِيَّ لَشَقِيُّ الأَزَلِ

Buka penggal 2

وعَكْسُهُ السَّعِيدُ لَم يُبَدَّلِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 50 — Ketetapan azali tidak membatalkan usahaNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan