Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Karunia, takdir, dan akhir kehidupan · Bait 52 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- والجسم يبلى
- dan jasad menjadi lapuk / hancur
- غير عجب الذنب
- kecuali ‘ajb adz-dzanab
- وما شهيد باليا
- dan seorang syahid tidak menjadi lapuk
- ولا نبي
- demikian pula seorang nabi
Terjemahan bait 52
Jasad hancur selain ‘ajb adz-dzanab; seorang syahid tidak hancur, demikian pula seorang nabi.
Syarah · keterangan lengkap
Kebangkitan tidak bergantung pada utuhnya jasad
Bait berada dalam pembahasan kehidupan setelah mati. ‘Ajb adz-dzanab lazim dijelaskan sebagai bagian kecil di pangkal tulang ekor yang disebut dalam hadis kebangkitan. Informasi ini merupakan berita wahyu; pengarang tidak sedang menyajikan laporan laboratorium atau prosedur untuk menguji sisa jasad. Kuasa Allah membangkitkan manusia tidak bergantung pada kemampuan manusia melihat atau melacak bagian tersebut.
Kemuliaan nabi dan syuhada
Terdapat riwayat tentang bumi yang tidak memakan jasad para nabi. Matan juga menyebut syuhada, dan syarah menghubungkannya dengan kemuliaan mereka serta kehidupan di sisi Allah. Rincian cakupan pernyataan tentang setiap syahid dibahas para ulama; tidak tepat menjadikannya uji fisik untuk menentukan siapa pasti syahid. Kehormatan seseorang tidak boleh dibatalkan hanya berdasarkan kondisi jenazah yang diketahui manusia.
Batas penggunaan
Jasad yang tampak utuh bukan bukti mandiri bahwa orang tersebut pasti wali, dan jasad yang terurai bukan bukti orang itu tercela. Kondisi alamiah serta informasi yang tidak lengkap membuat penilaian seperti itu tidak dapat dibenarkan. Pelajaran yang dituju ialah iman kepada kebangkitan dan penghormatan kepada orang yang dimuliakan Allah. Menjaga kehormatan jenazah tetap berlaku; bait ini bukan dorongan membongkar makam untuk membuktikan keutamaan.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 18. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
والجسم يبلى غير عجب الذنب
الجسمُ mubtada, يبلى kalimat khabar. غيرَ menunjukkan pengecualian, عجبِ mudhaf ilaih dan الذنبِ mudhaf ilaih berikutnya. عجب الذنب ialah istilah yang dijelaskan dalam hadis.
وما شهيد باليا ولا نبي
ما dapat bekerja seperti ليس dalam pembacaan ini: شهيدٌ isimnya dan بالياً khabarnya yang manshub. ولا نبي mengikutkan nabi pada penafian, dengan khabar yang dipahami dari sebelumnya.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait 51 menyebut keberlangsungan ruh; bait ini membahas jasad. Bait 53 kemudian mengajarkan batas berbicara tentang ruh.
Intisari & faedah
- Keadaan jasad dan keadaan ruh dibedakan.
- Perkara gaib dibicarakan menurut keterangan wahyu dan syarah, bukan pengalaman pribadi yang tidak teruji.
Contoh penerapan
Keadaan
Pelajar menganggap tubuh yang tidak cepat rusak pasti membuktikan kesalehan pemiliknya.
Cara memahami
Ia menahan kesimpulan karena kondisi fisik saja tidak cukup menetapkan derajat seseorang.
Batas penerapan
Jangan menjadikan fenomena jasad sebagai satu-satunya ukuran iman atau kesyahidan.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 4935
Hadis dalam Shahih al-Bukhari; konteks iman kepada kebangkitan. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.
Baca petikan Arab
لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ
Inti makna
Riwayat kebangkitan menyebut hancurnya tubuh manusia dengan pengecualian bagian yang disebut ‘ajb al-dzanab.
Kaitan dengan bait
Hadis menyebut ‘ajb adz-dzanab dalam pembahasan kebangkitan; bukan dalil untuk menilai kesalehan seseorang dari pengamatan jasad.
Buka sumber lengkap ↗QS Aal-i-Imraan 3:169
Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.
Baca teks ayat
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Inti makna
Orang yang terbunuh di jalan Allah tidak dipandang mati seperti sangkaan manusia; mereka hidup di sisi Tuhan dan diberi rezeki.
Kaitan dengan bait
Ayat menyebut kehidupan mereka yang gugur di jalan Allah di sisi Tuhan; rincian jasad dan ruh tetap dibaca melalui syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apa beda يبلى dengan يُبتلى?
Lihat pembahasan jawaban
يبلى berarti menjadi rusak/hancur, sedangkan يُبتلى berarti diuji. Tambahan huruf mengubah bentuk dan makna.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
والجسم يبلى
dan jasad menjadi lapuk / hancur
غير عجب الذنب
kecuali ‘ajb adz-dzanab
وما شهيد باليا
dan seorang syahid tidak menjadi lapuk
ولا نبي
demikian pula seorang nabi
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
والجِسمُ يَبْلَى غيرَ عَجْبِ الذَّنَبِ
Buka penggal 2
وما شهيدٌ بَالِيَاً ولا نَبِي
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 52 — Jasad, ‘ajb adz-dzanab, nabi, dan syuhadaNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.