Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 60
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Ilmu dan tanggung jawab belajar · Bait 60 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
كل مهم
setiap urusan penting
قصدوا تحصله
yang dikehendaki terwujud
من غير أن يعتبروا
tanpa mempertimbangkan
من فعله
siapa yang melakukannya
Terjemahan bait 60

Setiap urusan penting yang dikehendaki terwujud, tanpa mempertimbangkan siapa secara pribadi yang melakukannya.

Syarah · keterangan lengkap

Definisi yang menjelaskan bait 59

Pada kewajiban kolektif, syariat terutama menuntut terwujudnya suatu kebutuhan. Bila telah dikerjakan secara memadai oleh sebagian orang, tujuan kewajiban itu tercapai. Berbeda dengan kewajiban pribadi seperti salat fardu, yang tidak gugur dari seseorang hanya karena temannya sudah salat.

Identitas tidak utama, kemampuan tetap penting

Tanpa mempertimbangkan siapa bukan berarti pekerjaan boleh dilakukan sembarang orang tanpa kompetensi. Pengurusan jenazah memerlukan pengetahuan tata caranya, dan pemberian fatwa memerlukan keahlian. Yang tidak ditentukan ialah setiap individu harus melakukannya satu per satu. Orang yang mampu dan tersedia dapat memikul tanggung jawab lebih langsung, khususnya bila belum ada pengganti.

Contoh dalam kehidupan bersama

Jika ada jenazah yang memerlukan pengurusan, tidak cukup semua orang berharap orang lain akan mengerjakan. Masyarakat perlu memastikan tugas itu benar-benar terlaksana. Demikian pula kebutuhan guru: adanya banyak orang yang mendukung pendidikan tidak menggantikan kebutuhan akan orang yang belajar hingga mampu mengajar. Bait mengajarkan pembagian tugas yang bertanggung jawab. Ukuran keberhasilan bukan banyaknya orang menyebut suatu pekerjaan penting, melainkan kebutuhan tersebut tertangani dengan benar dan cukup.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 20. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

كل مهم قصدوا تحصله

كلُّ menjadi pokok penjelasan, dengan khabar yang dipahami: termasuk fardu kifayah. مهمٍّ mudhaf ilaih. قصدوا terdiri dari kata kerja dan waw pelaku; تحصلَه objek tujuan yang hendak terwujud.

من غير أن يعتبروا من فعله

من غير jar-majrur. أن يعتبروا masdar muawwal sebagai mudhaf ilaih; nunnya hilang setelah أن. من maushul sebagai objek pertimbangan; فعله shilah, dan ه kembali kepada pekerjaan penting tersebut.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

تحصله

Akar
ح ص ل
Pola / bentuk
تَفَعُّل

Masdar dari تحصّل: terwujud atau diperolehnya sesuatu. ه adalah mudhaf ilaih yang menunjuk hal penting tadi.

يعتبروا

Akar
ع ب ر
Pola / bentuk
يَفْتَعِلُوا

Mudhari‘ jamak dari اعتبر; setelah أن menjadi manshub dengan membuang nun.

Hubungan bait

Bait ini menjelaskan alasan disebut kifayah pada bait 59: yang ditekankan ialah terpenuhinya kebutuhan, bukan identitas setiap pelaku. Bait 61 memberi contoh bidangnya.

Intisari & faedah
  1. Fardu kifayah menekankan hasil kebutuhan umum yang benar-benar terpenuhi.
  2. Pelaksanaan tetap memerlukan orang yang mampu dan memenuhi syarat.
Contoh penerapan

Keadaan

Masyarakat sudah memiliki pengajar yang kompeten dan cukup untuk kebutuhan dasar setempat.

Cara memahami

Tanggung jawab bersama dinilai dari kecukupan nyata, bukan keharusan setiap warga mengambil profesi yang sama.

Batas penerapan

Jika pengajarnya tidak cukup atau tidak mampu, kebutuhan belum dianggap terpenuhi.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS At-Tawba 9:122

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

۞ وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Inti makna

Sebagian kaum beriman mendalami agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika kembali.

Kaitan dengan bait

Penguat pembagian tugas pendalaman ilmu dan penyampaian kepada masyarakat.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apa perbedaan pokok fardu ‘ain dan fardu kifayah pada penjelasan ini?

Lihat pembahasan jawaban

Fardu ‘ain dituntut dari tiap orang yang terkena kewajiban; fardu kifayah menekankan terpenuhinya kebutuhan bersama oleh pelaksana yang mencukupi.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

كل مهم

setiap urusan penting

قصدوا تحصله

yang dikehendaki terwujud

من غير أن يعتبروا

tanpa mempertimbangkan

من فعله

siapa yang melakukannya

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

كُلُّ مُهِمٍّ قَصَدُوا تَحَصُّلَهْ

Buka penggal 2

مِنْ غَيرِ أَن يَعتَبِرُوا مَن فَعَلَهْ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 60 — Tujuan kewajiban kolektifNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan