Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 77
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Thaharah dan hukum air · Bait 77 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وإنما يصح تطهير
dan sesungguhnya penyucian hanya sah
بما أطلق
dengan air yang disebut secara mutlak
لا مستعمل
bukan yang telah digunakan [dalam bersuci wajib]
ولا بما
dan bukan dengan air [yang diterangkan pada bait berikut]
Terjemahan bait 77

Sesungguhnya penyucian hanya sah dengan air yang disebut air secara mutlak, bukan air bekas pakai [tertentu], dan bukan dengan air [yang dijelaskan selanjutnya].

Syarah · keterangan lengkap

Awal kitab thaharah

Thaharah meliputi bersuci dari hadas dan najis serta perkara yang searti atau serupa dengannya. Hadas ialah keadaan hukum yang menghalangi ibadah tertentu, sedangkan najis ialah benda atau keadaan kenajisan yang perlu dibersihkan. Tubuh yang terlihat bersih belum tentu bebas hadas, dan orang yang sudah berwudu masih dapat memiliki najis pada pakaian. Pembedaan ini menjadi dasar pembahasan air.

Air mutlak

Air mutlak adalah air yang masih disebut air tanpa tambahan yang mengubah hakikat namanya. Air hujan, sumur, sungai, laut, dan mata air termasuk contoh, meskipun disebutkan asalnya. Sebutan air laut tidak mengubahnya menjadi minuman lain seperti teh. Air yang dipanaskan atau didinginkan juga tidak otomatis kehilangan sifat menyucikan hanya karena perubahan suhu.

Batas kalimat hanya sah

Bait membahas penyucian dengan air menurut mazhab Syafi‘i. Ia tidak meniadakan tayamum, penyamakan kulit, atau perubahan zat tertentu yang memiliki ketentuan sendiri. Air musta‘mal yang sedikit dan sudah digunakan untuk penyucian wajib diterangkan pada bait 87; tidak setiap air yang pernah disentuh menjadi musta‘mal. Akhir bait sengaja belum selesai: kata “dan bukan dengan air” disambung oleh bait 78–79 tentang air yang berubah karena campuran suci. Ketiganya perlu dibaca sebagai satu rangkaian.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 26. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وإنما يصح تطهير بما

إنما memberi pembatasan. يصحُّ fi‘il mudhari‘ dan تطهيرٌ fa‘il. بما pada bagian ini bermakna dengan air; ما adalah bentuk ringkas ماء dalam nazam, bukan selalu isim maushul.

أطلق لا مستعمل ولا بما

أُطلقَ menerangkan air yang dapat disebut air tanpa pembatas. لا مستعمل menafikan air bekas dalam keadaan yang dibahas. ولا بما membuka jenis air berikutnya, yang keterangannya baru selesai pada bait 78–79.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

تطهير

Akar
ط ه ر
Pola / bentuk
تَفْعِيل

Masdar dari طهّر: tindakan menyucikan. Bedakan طاهر (suci) dari طهور (suci dan menyucikan).

مستعمل

Akar
ع م ل
Pola / bentuk
مُسْتَفْعَل

Isim maf‘ul dari استعمل: yang telah dipakai. Sebagai istilah air, syaratnya diperinci pada bait 87.

Hubungan bait

Ini awal pembahasan air setelah pengantar. Jangan memutus ولا بما dari بطاهر pada bait 78; keduanya menyusun satu ketentuan tentang air bercampur.

Intisari & faedah
  1. Bersuci dengan air memakai air mutlak yang memenuhi ketentuannya.
  2. Istilah musta‘mal mempunyai batas, bukan setiap air yang pernah disentuh manusia.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar hendak berwudu dengan air putih bersih yang masih disebut air biasa.

Cara memahami

Ia memeriksa bahwa air tersebut tetap air mutlak dan tidak terkena hal yang mengubah hukumnya.

Batas penerapan

Bening saja tidak cukup bila cairan sebenarnya minuman atau campuran yang bukan lagi air mutlak.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Furqaan 25:48

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ طَهُورًۭا

Inti makna

Allah mengirim angin sebagai kabar gembira dan menurunkan air yang suci lagi menyucikan dari langit.

Kaitan dengan bait

Ayat menyebut air yang menyucikan sebagai karunia Allah; rincian air mutlak dan musta‘mal dijelaskan fikih.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa ولا بما pada akhir bait perlu disambungkan dengan bait 78?

Lihat pembahasan jawaban

Karena sifat air yang dikecualikan baru dijelaskan oleh بطاهر مخالط تغيرا dan kelanjutannya.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وإنما يصح تطهير

dan sesungguhnya penyucian hanya sah

بما أطلق

dengan air yang disebut secara mutlak

لا مستعمل

bukan yang telah digunakan [dalam bersuci wajib]

ولا بما

dan bukan dengan air [yang diterangkan pada bait berikut]

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وإنَّمَا يَصِحُّ تَطهيرٌ بِمَا

Buka penggal 2

أُطلِقَ لا مُستَعمَلٍ ولا بِمَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 77 — Air mutlak sebagai dasar bersuciNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan