Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 81
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Thaharah dan hukum air · Bait 81 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
ولا بماء مطلق
dan bukan dengan air mutlak
حلته عين نجاسة
yang dimasuki benda najis
وهو بدون القلتين
sedangkan jumlahnya kurang dari dua qullah
Terjemahan bait 81

Dan bukan dengan air mutlak yang dimasuki benda najis, sementara jumlahnya kurang dari dua qullah.

Syarah · keterangan lengkap

Kaidah air sedikit dalam mazhab Syafi‘i

Air yang kurang dari dua qullah disebut sedikit dalam pembahasan ini. Apabila benda najis yang tidak dimaafkan benar-benar masuk, air menjadi najis meskipun warna, bau, atau rasanya belum berubah. Ini merupakan kaidah mazhab yang dibahas pengarang; jumlah besar mempunyai ketentuan yang dijelaskan sesudahnya.

Kepastian terkena, bukan sekadar kemungkinan

Kata hallathu menunjuk terjadinya pertemuan dengan najis. Kekhawatiran “mungkin ada najis” tanpa bukti tidak sama dengan kejadian yang diketahui. Hukum asal air yang diketahui suci tidak dibatalkan oleh dugaan semata. Misalnya, air ember yang jelas terkena air kencing berbeda dari ember yang hanya berada dekat kamar mandi tanpa tanda terkena najis.

Membedakan dari air musta‘mal

Air bekas wudu yang memenuhi definisi musta‘mal bukan otomatis najis. Sifat tidak menyucikan dan sifat najis memiliki akibat berbeda. Bait 82 juga memberi pengecualian tertentu pada pertemuan najis dengan air sedikit. Dalam praktik, bila air sedikit benar-benar tercemar najis, gunakan air lain yang suci menyucikan atau ikuti cara penyucian yang sah. Menghilangkan rasa jijik saja atau menambahkan pewangi tidak mengubah hukumnya menjadi suci.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 26. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

ولا بماء مطلق حلته عين

ولا بماء meneruskan daftar air yang tidak dapat dipakai dari bait 77. مطلق sifat bagi ماء. حلّتْ fi‘il madhi, ه objek kembali kepada air, dan عينُ fa‘il yang diakhirkan.

نجاسة وهو بدون القلتين

نجاسةٍ mudhaf ilaih bagi عين pada penggal sebelumnya. وهو kalimat hal: air itu dalam keadaan kurang dari dua qullah. ب pada بدون huruf jar; دون mudhaf dan القلتين mudhaf ilaih majrur dengan ya karena mutsanna.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

عين

Akar
ع ي ن
Pola / bentuk
فَعْل

Dalam konteks ini berarti zat atau benda nyata, bukan mata. Makna kosakata berubah menurut pasangan dan pembahasannya.

القلتين

Akar
ق ل ل
Pola / bentuk
Mutsanna dari قُلَّة

Dua qullah; ya menandai jar/nashab. Nama satuan tidak langsung sama dengan liter modern.

Hubungan bait

Ini kelanjutan pengecualian air pada bait 77, setelah pembahasan campuran suci. عين harus disambungkan dengan نجاسة; bait 82 memberi pengecualian dan bait 83–85 membahas air banyak.

Intisari & faedah
  1. Air kurang dari dua qullah memiliki ketentuan khusus ketika terkena najis dalam mazhab Syafi‘i.
  2. Keberadaan najis perlu diketahui, bukan sekadar dicurigai.
Contoh penerapan

Keadaan

Sejumlah kecil air diketahui kemasukan zat najis yang tidak termasuk pengecualian.

Cara memahami

Hukumnya dinilai menurut ketentuan air sedikit, meskipun warnanya belum berubah.

Batas penerapan

Air sedikit tidak otomatis najis; pemicunya ialah masuknya najis yang diperhitungkan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Sunan Abu Dawud 63

Hadis; dinilai sahih oleh al-Albani pada sumber tertaut. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

Inti makna

Apabila air mencapai dua qullah, air itu tidak menanggung najis, dengan rincian pemahaman fikihnya.

Kaitan dengan bait

Hadis dua qullah menjadi salah satu dasar pembedaan air sedikit dan banyak; rincian pemahamannya dijelaskan dalam mazhab.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa عين dan نجاسة tidak diterjemahkan terpisah sebagai dua benda?

Lihat pembahasan jawaban

Karena keduanya membentuk idhafah عين نجاسة, zat suatu najis.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

ولا بماء مطلق

dan bukan dengan air mutlak

حلته عين نجاسة

yang dimasuki benda najis

وهو بدون القلتين

sedangkan jumlahnya kurang dari dua qullah

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

ولا بِماءٍ مُطْلَقٍ حَلَّتْهُ عَيْنْ

Buka penggal 2

نَجَاسَةٍ وَهْوَ بِدُونِ القُلَّتَيْنْ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 81 — Air sedikit yang terkena najisNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan