Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Syarah Tuhfatul Athfal · Pelajaran 5
الْعَوْدَةُ إِلَى الْمَكْتَبَةِ
تَجْوِيدُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

الشَّرْحُ الْمُيَسَّرُ لِتُحْفَةِ الْأَطْفَالِ

نَقْرَأُ وَنَفْهَمُ وَنُحْسِنُ التِّلَاوَةَ

مَعْهَدُ عِبَادِ الرَّحْمَنِ تِيمَاسَ · لِلصَّفِّ الثَّانِي مِنَ الْمَرْحَلَةِ الْمُتَوَسِّطَةِ

٦١ بَيْتًا٢٦ دَرْسًا٧٠ سُؤَالًاعَرَبِيَّةٌ بِحَرَكَاتٍ كَامِلَةٍ

اِضْغَطْ عَلَى كَلِمَةٍ لِمَعْنَاهَا بِالْإِنْدُونِيسِيَّةِ، أَوْ أَظْهِرْ مَعَانِيَ الْكَلِمَاتِ كُلَّهَا.

٢٤
الدَّرْسُ ٥ · الْأَبْيَاتُ ٩–١١

نُدْغِمُ مَعَ الْغُنَّةِ

أَنْ نَعْرِفَ حُرُوفَ «يَنْمُو» وَاسْتِثْنَاءَ الْكَلِمَةِ الْوَاحِدَةِ.

نَقْرَأُ الْمَتْنَ

٩

dan yang kedua idgham (meleburkan) pada enam (huruf) yang termuat

dalam yarmalun (ي ر م ل و ن) menurut para ahli qiraah sungguh telah tetap

١٠

tetapi ia dua bagian satu bagian dileburkan

di dalamnya dengan dengung melalui yanmu (ي ن م و) diketahui

١١

kecuali apabila keduanya berada dalam satu kata maka jangan

engkau leburkan seperti dunya kemudian sinwan menyusul

نَفْهَمُ الشَّرْحَ

حَرْفَانِ يَصِيرَانِ كَحَرْفٍ وَاحِدٍ

idgham memasukkan huruf pertama ke dalam kedua dan huruf-hurufnya di sini enam dihimpun oleh yarmalun empat darinya kita meleburkan bersamanya dengan dengung yaitu ya dan nun dan mim dan wau dihimpun oleh yanmu dan dengung suara keluar dari rongga hidung

شَرْطٌ مُهِمٌّ

terjadi ini idgham pada dua kata dan kita mempertahankan dengung dua harakat adapun jika berkumpul nun dan ya atau wau dalam kata satu maka kita menjelaskan nun dan itu pada dunya dan bunyan dan sinwan dan qinwan

نَفْهَمُ الْمِثَالَ

مَنْ يَعْمَلْ

الزَّلْزَلَةُ: ٧

nun pada akhir kata dan ya pada awal kata lainnya maka hukumnya idgham dengan dengung

نَنْتَبِهُ

jangan ubah dengung menjadi mad dan dipelajari langsung tempat-tempat khusus seperti Ya Sin demi Al-Qur’an dan Nun demi pena dari guru sebab bagi Hafs di dalamnya izhar

نَتَدَرَّبُ

قَارِنْ بَيْنَ «مَنْ يَعْمَلْ» وَ«دُنْيَا»: سَمِّ الْحُكْمَ، ثُمَّ بَيِّنْ أَثَرَ الْكَلِمَةِ الْوَاحِدَةِ.

نُرَاجِعُ فَهْمَنَا

  1. مَا حُرُوفُ الْإِدْغَامِ بِغُنَّةٍ؟

    دَلِيلُ الْجَوَابِ

    الْيَاءُ وَالنُّونُ وَالْمِيمُ وَالْوَاوُ.

  2. لِمَاذَا لَا نُدْغِمُ فِي «دُنْيَا»؟

    دَلِيلُ الْجَوَابِ

    لِأَنَّ النُّونَ وَالْيَاءَ اجْتَمَعَتَا فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ.

مَعْنَى الْكَلِمَةِ فِي السِّيَاقِ

Catat bacaanmu

Syarah Tuhfatul Athfal · Pelajaran 5 — نُدْغِمُ مَعَ الْغُنَّةِ

Tersimpan di perangkat ini. Masuk agar progres dapat dibuka di perangkat lain.
Masuk untuk sinkronisasi

BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Syarah Tuhfatul Athfal · Pelajaran 5 — نُدْغِمُ مَعَ الْغُنَّةِTuhfatul Athfal · versi 70

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan