مَتْنُ تُحْفَةِ الْأَطْفَالِ كَامِلًا
نَظْمُ سُلَيْمَانُ الْجَمْزُورِيُّ · ٦١ بَيْتًا
اِقْرَأِ الْمَتْنَ أَوَّلًا، وَاضْغَطْ عَلَى رَقْمِ الْبَيْتِ لِفَتْحِ شَرْحِهِ.
اِفْتَحْ فِهْرِسَ الشَّرْحِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
berkata orang yang mengharap rahmat Yang Maha Pengampun
senantiasa Sulaiman dia al-Jamzuri
segala puji bagi Allah seraya berselawat atas
Muhammad dan keluarganya dan orang yang mengikuti
adapun selanjutnya ini nazam bagi pelajar yang ingin belajar
tentang nun dan tanwin dan berbagai mad
aku menamainya dengan Tuhfah (hadiah) anak-anak
bersumber dari guru kami al-Mihi pemilik kesempurnaan (keutamaan ilmu)
aku berharap dengannya agar memberi manfaat kepada para pelajar
dan pahala dan penerimaan dan balasan baik
bagi nun jika bersukun dan bagi tanwin
empat hukum maka ambillah penjelasanku
maka yang pertama izhar (membaca jelas) sebelum huruf-huruf
dari tenggorokan enam telah diurutkan maka hendaklah engkau mengenalinya
hamzah lalu ha kemudian ain ha tebal tenggorokan (ح)
keduanya tanpa titik kemudian ghain kha
dan yang kedua idgham (meleburkan) pada enam (huruf) yang termuat
dalam yarmalun (ي ر م ل و ن) menurut para ahli qiraah sungguh telah tetap
tetapi ia dua bagian satu bagian dileburkan
di dalamnya dengan dengung melalui yanmu (ي ن م و) diketahui
kecuali apabila keduanya berada dalam satu kata maka jangan
engkau leburkan seperti dunya kemudian sinwan menyusul
dan bagian kedua idgham tanpa dengung
pada lam dan ra kemudian tetapkanlah sifat takrirnya (lihat syarah)
dan yang ketiga iqlab (mengubah bunyi) ketika bertemu ba
menjadi mim dengan dengung disertai penyamaran
dan yang keempat ikhfa (menyamarkan) ketika bertemu yang tersisa
dari huruf-huruf harus dilakukan oleh pembaca yang baik
pada lima dari setelah sepuluh lambangnya
pada kata-kata ini bait sungguh aku memuatnya
sifatilah pemilik pujian betapa banyak bermurah hati seseorang sungguh menjadi mulia
tetaplah baik bertambahlah dalam ketakwaan rendahkanlah orang zalim
dan dengungkanlah mim kemudian nun keduanya ditasydidkan
dan namailah masing-masing huruf dengung yang jelas
dan mim jika bersukun datang sebelum huruf-huruf hijaiyah
selain alif mad bagi orang yang memiliki akal
hukum-hukumnya tiga bagi orang yang menguasainya
ikhfa idgham dan izhar saja
maka yang pertama ikhfa ketika bertemu ba
dan namailah ia syafawi (berkaitan dengan bibir) bagi para pembaca
dan yang kedua idgham dengan yang sama dengannya (mim) datang
dan namailah idgham kecil wahai pemuda
dan yang ketiga izhar pada sisanya
dari huruf-huruf dan namailah ia syafawiyah
dan waspadalah ketika bertemu wau dan fa agar tidak ia tersamarkan
karena kedekatannya dan karena kesamaan (tempat keluar) maka pahamilah
bagi lam al dua keadaan sebelum huruf-huruf
yang pertama dari keduanya menjelaskannya maka pahamilah
sebelum empat bersama sepuluh ambillah pengetahuan tentangnya
dari (ungkapan) carilah hajimu dan takutlah yang mandul/tidak berbuah darinya
yang kedua dari keduanya meleburkannya pada empat
dan sepuluh juga dan lambangnya maka pahamilah
jadilah baik kemudian sambunglah kekerabatan engkau beruntung bertamulah kepada pemilik berbagai nikmat
tinggalkanlah buruknya prasangka kunjungilah orang mulia untuk kemuliaan
dan lam yang pertama namailah ia qamariyah
dan lam yang lain namailah ia syamsiyah
dan jelaskanlah lam kata kerja secara umum (lihat pengecualian)
pada contoh katakanlah ya dan kami berkata dan bertemu
jika dalam sifat-sifat dan tempat-tempat keluar sama
dua huruf maka dua huruf yang sama bagi keduanya lebih tepat (sebutannya)
dan jika keduanya dalam tempat keluar berdekatan
dan dalam sifat-sifat berbeda keduanya dinamai
dua huruf berdekatan atau keduanya sama
dalam tempat keluar selain (berbeda dalam) sifat-sifat keduanya dinyatakan
sebagai dua huruf sejenis kemudian jika bersukun
yang pertama dari masing-masing maka yang kecil namailah
atau diberi harakat kedua huruf dalam masing-masing maka katakanlah
masing-masing besar dan pahamilah ia melalui contoh-contoh
dan mad asli dan cabang darinya
dan namailah yang pertama alami dan ia
sesuatu yang tidak bergantung baginya atas sebab (hamzah atau sukun)
dan tidak tanpanya huruf-huruf (mad) dapat diucapkan
bahkan apa pun huruf selain hamzah atau sukun
datang setelah huruf mad maka mad alami jadinya
dan yang lain mad cabang bergantung atas
sebab seperti hamzah atau sukun secara mutlak
huruf-hurufnya tiga maka pahamilah
dari lafaz way (و ا ي) dan ia dalam nuhiha (نُوحِيهَا)
dan kasrah sebelum ya dan sebelum wau dammah
merupakan syarat dan fathah sebelum alif harus dipenuhi
dan huruf lin di antaranya ya dan wau keduanya bersukun
jika fathah sebelum masing-masing tampak
bagi mad hukum-hukum tiga berlaku
dan ia wajib dan boleh dan harus/tetap
maka wajib jika datang hamzah setelah mad
dalam satu kata dan ini sebagai muttasil dihitung
dan boleh memanjangkan dan memendekkan jika dipisahkan
masing-masing dalam satu kata dan ini munfasil
dan seperti ini jika muncul sementara sukun
karena berhenti seperti ta‘lamun nasta‘in
atau didahulukan hamzah sebelum mad dan ini
badal seperti amanu dan imanan ambillah (sebagai contoh)
dan lazim jika sukun bersifat asli
ketika menyambung dan ketika berhenti setelah mad dipanjangkan
bagian-bagian mad lazim menurut mereka empat
dan itu kilmi (pada kata) dan harfi (pada ejaan huruf) bersamanya
keduanya ringan (tanpa peleburan) berat (dengan peleburan)
maka inilah empat yang diperinci
maka jika dalam satu kata sukun berkumpul
bersama huruf mad maka ia kilmi terjadinya
atau dalam yang ejaannya tiga huruf keduanya ditemukan
dan mad di tengahnya maka harfi tampak
keduanya berat jika dileburkan
ringan masing-masing apabila tidak dileburkan
dan mad lazim harfi pada awal surah-surah
keberadaannya dan pada delapan terbatas
menghimpunnya huruf-huruf kam (ك م) asal (ع س ل) naqas (ن ق ص)
dan ain memiliki dua cara dan yang panjang lebih diutamakan
dan yang selain huruf berejaan tiga kecuali alif
maka memanjangkannya sebagai mad alami telah dikenal
dan itu juga pada pembuka-pembuka surah
dalam lafaz hayy (ح ي) tahir (ط ه ر) sungguh terhimpun
dan menghimpun huruf-huruf pembuka empat belas
sambunglah hubungan dengannya pada waktu sahur orang yang memutus hubungan denganmu ini telah masyhur
dan telah selesai ini nazam dengan pujian kepada Allah
atas penyelesaiannya tanpa akhir (bagi pujian)
bait-baitnya wewangian (juga sandi bilangan) tampak bagi pemilik akal
penanggalannya kabar gembira bagi orang yang menguasainya
kemudian selawat dan salam selamanya
atas penutup para nabi Ahmad
dan keluarga dan sahabat dan setiap pengikut
dan setiap pembaca dan setiap pendengar