11. Perubahan Kiblat dan Perang Badar
Waktu: Tahun 2 H / 624 M
Tempat: Madinah dan Badar, barat daya Madinah
Kiblat dan puasa Ramadan
Pada awal tinggal di Madinah, Nabi dan para sahabat salat menghadap Baitul Maqdis. Pada tahun kedua Hijriah, turun perintah menghadap Masjidil Haram di Makkah. Ka’bah menjadi kiblat umat Islam. Perubahan itu disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.
Pada tahun yang sama, puasa Ramadan diwajibkan. Kehidupan Muslim mulai memiliki ketentuan ibadah yang semakin lengkap. Salat, puasa, zakat fitrah, dan kebersamaan masyarakat berkembang di tengah keadaan politik yang masih tidak aman. Quraisy tetap menjadi lawan penting setelah Muslim meninggalkan Makkah.
Dari kafilah menuju pertempuran
Hubungan antara Makkah dan Madinah masih diliputi permusuhan. Harta sebagian Muhajirin telah ditinggalkan atau dirampas di Makkah, sementara kafilah Quraisy melewati jalur perdagangan menuju Syam. Pada Ramadan tahun 2 H, Nabi berangkat bersama sekitar 313 sahabat untuk menghadapi kafilah besar Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dalam perjalanan pulang dari Syam.
Abu Sufyan memperoleh kabar tentang gerakan Muslim. Ia meminta bantuan ke Makkah lalu mengalihkan jalur kafilah ke arah pesisir sehingga dapat lolos. Akan tetapi, pasukan Quraisy yang telah berangkat tidak seluruhnya mau kembali. Abu Jahal mendorong mereka meneruskan perjalanan untuk menunjukkan kekuatan.
Keadaan berubah: rombongan Muslim yang semula menuju kafilah berhadapan dengan pasukan sekitar seribu orang. Nabi bermusyawarah dengan para sahabat. Muhajirin dan Ansar menyatakan kesiapan mendukung beliau. Mereka kemudian mengambil posisi di kawasan Badar yang memiliki sumur-sumur.
Jalannya Perang Badar
Pertempuran berlangsung pada 17 Ramadan 2 H. Sebelum bentrokan besar, terjadi pertarungan antara beberapa orang dari kedua pihak. Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ubaidah bin Harits tampil dari pihak Muslim. Nabi berdoa memohon pertolongan Allah dan mengatur barisan sahabat.
Meskipun jumlahnya lebih kecil, pasukan Muslim akhirnya menang. Sejumlah pemuka Quraisy, termasuk Abu Jahal, tewas. Sekitar tujuh puluh orang Quraisy terbunuh dan tujuh puluh lainnya ditawan. Empat belas Muslim gugur. Ubaidah termasuk yang terluka berat dan kemudian wafat.
Kemenangan ini mengubah pandangan kabilah-kabilah terhadap Madinah. Muslim bukan lagi kelompok pengungsi yang dapat diabaikan. Namun, Badar juga membuat Quraisy bertekad membalas kekalahan. Karena itu, kemenangan tidak mengakhiri ancaman terhadap Madinah.
Sesudah pertempuran
Tawanan dibawa ke Madinah dan ditangani menurut keputusan Nabi. Sebagian dibebaskan melalui tebusan. Urusan harta yang diperoleh dalam perang diatur agar tidak menjadi perselisihan di antara sahabat. Surah Al-Anfal membahas sejumlah keadaan yang berkaitan dengan Badar dan pembagian hasil perang.
Pada waktu yang berdekatan, keluarga Nabi mengalami kesedihan. Ruqayyah sakit dan wafat di Madinah. Utsman bin Affan tidak ikut ke Badar karena merawat istrinya atas izin Nabi. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa sejarah sebuah tahun mencakup perang, keluarga, dan kehidupan kota sekaligus.
Untuk memahami Badar, perhatikan rangkaiannya: permusuhan Makkah–Madinah, gerakan menghadapi kafilah, lolosnya kafilah, kedatangan pasukan Quraisy, musyawarah sahabat, lalu pertempuran dan akibatnya.
Soal
- Ke arah mana Muslim salat sebelum perubahan kiblat?
- Apa kiblat Muslim setelah perubahan itu?
- Pada tahun berapa puasa Ramadan diwajibkan?
- Siapa pemimpin kafilah Quraisy yang pulang dari Syam?
- Bagaimana Abu Sufyan menyelamatkan kafilahnya?
- Mengapa rombongan Nabi akhirnya berhadapan dengan pasukan besar?
- Kapan Perang Badar berlangsung?
- Bandingkan jumlah pasukan kedua pihak secara umum.
- Sebutkan dua sahabat yang tampil dalam pertarungan awal.
- Apa dua akibat penting kemenangan Badar?
- Mengapa Utsman tidak ikut ke Badar?
- Susun urutan: pertempuran Badar, lolosnya kafilah, keberangkatan menghadapi kafilah.