12. Perang Uhud: Ketika Keadaan Berubah
Waktu: Syawal 3 H / 625 M
Tempat: Gunung Uhud dan Hamra’ul Asad di sekitar Madinah
Quraisy datang membalas Badar
Setahun setelah Badar, Quraisy menyiapkan pasukan untuk menyerang Madinah. Abu Sufyan memimpin sekitar tiga ribu orang. Mereka membawa pasukan berkuda dan perlengkapan yang lebih banyak. Tujuannya membalas kekalahan serta memulihkan kedudukan Quraisy di hadapan kabilah lain.
Nabi bermusyawarah mengenai cara menghadapi serangan. Sebagian mengusulkan bertahan di kota, sedangkan sebagian lain menginginkan keluar menghadapi lawan. Akhirnya pasukan Muslim bergerak menuju Uhud di sebelah utara Madinah. Jumlah awalnya sekitar seribu orang.
Dalam perjalanan, Abdullah bin Ubay menarik diri bersama sekitar tiga ratus pengikut. Pasukan yang meneruskan perjalanan bersama Nabi tinggal sekitar tujuh ratus. Perubahan ini memperlebar perbedaan jumlah antara kedua pihak sebelum pertempuran dimulai.
Tugas lima puluh pemanah
Nabi menempatkan pasukan dengan Gunung Uhud sebagai pelindung di bagian belakang. Lima puluh pemanah di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair ditempatkan pada sebuah bukit kecil. Posisi mereka bertugas menutup jalan yang dapat digunakan pasukan berkuda lawan untuk menyerang dari belakang.
Nabi memerintahkan para pemanah tetap berada di tempatnya, baik Muslim tampak menang maupun kalah, sampai menerima perintah. Tugas itu sangat penting karena sebuah celah di belakang barisan dapat mengubah jalannya pertempuran.
Pada awal pertempuran, Muslim berhasil mendesak pasukan Quraisy. Sebagian lawan mundur dan meninggalkan barangnya. Melihat keadaan tersebut, banyak pemanah menganggap pertempuran telah selesai. Mereka meninggalkan posisi meskipun Abdullah bin Jubair mengingatkan perintah Nabi.
Serangan dari belakang
Khalid bin Walid, yang saat itu belum masuk Islam dan memimpin pasukan berkuda Quraisy, melihat celah pertahanan. Ia bergerak memutari posisi Muslim dan menyerang dari belakang. Pasukan Quraisy yang semula mundur kembali menyerang. Muslim terjepit dan barisan menjadi kacau.
Nabi terluka. Kabar bahwa beliau terbunuh sempat menambah kebingungan. Para sahabat kemudian berkumpul melindungi beliau dan bergerak ke tempat yang lebih aman di lereng Uhud. Pertempuran menimbulkan korban berat di pihak Muslim.
Sekitar tujuh puluh sahabat gugur, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair. Hamzah terkena tombak Wahsyi, sedangkan Mush’ab gugur ketika membawa panji Muslim. Kedua tokoh itu sebelumnya mempunyai peran besar: Hamzah memperkuat dakwah di Makkah dan Mush’ab menyiapkan masyarakat Yatsrib sebelum hijrah.
Akibat Uhud dan gerakan berikutnya
Pasukan Quraisy akhirnya meninggalkan medan Uhud dan kembali ke Makkah. Mereka tidak menduduki Madinah. Namun, Muslim harus menghadapi kehilangan banyak sahabat, merawat yang terluka, dan memulihkan keadaan. Para syuhada dimakamkan di kawasan Uhud.
Tidak lama setelah itu, Nabi mengajak pasukan bergerak menuju Hamra’ul Asad untuk menunjukkan bahwa Madinah masih mempunyai kekuatan. Gerakan ini membantu mencegah lawan menganggap Muslim sudah tidak mampu bertahan.
Uhud memperlihatkan betapa cepat keadaan perang dapat berubah. Penjelasan sejarahnya terletak pada hubungan antara posisi pasukan, tugas pemanah, celah yang terbuka, dan serangan berkuda. Memahami urutan itu membuat kita mengetahui penyebab perubahan hasil, bukan sekadar menghafalkan bahwa Uhud terjadi pada tahun 3 H.
Soal
- Apa tujuan utama Quraisy datang ke Uhud?
- Siapa pemimpin pasukan Quraisy?
- Mengapa jumlah Muslim berkurang sebelum pertempuran?
- Berapa pemanah yang ditempatkan Nabi?
- Siapa pemimpin para pemanah?
- Apa tugas posisi pemanah?
- Mengapa sebagian pemanah meninggalkan tempatnya?
- Bagaimana Khalid bin Walid memanfaatkan keadaan itu?
- Sebutkan dua sahabat penting yang gugur di Uhud.
- Apakah Quraisy menduduki Madinah setelah Uhud?
- Apa tujuan gerakan ke Hamra’ul Asad?
- Jelaskan sebab-akibat antara ditinggalkannya bukit dan berubahnya keadaan perang.