14. Khandaq: Madinah Menghadapi Pasukan Sekutu
Waktu: Syawal–Zulkaidah 5 H / 627 M
Tempat: Madinah dan permukiman Bani Quraizhah
Terbentuknya pasukan Ahzab
Pada tahun 5 H, ancaman terhadap Madinah menjadi lebih besar. Sejumlah pemimpin Bani Nadhir yang telah meninggalkan Madinah mendatangi Quraisy dan kabilah-kabilah lain untuk membentuk persekutuan. Quraisy dari Makkah dan Ghathafan dari kawasan Najd termasuk kekuatan utama yang bergabung.
Pasukan gabungan berjumlah sekitar sepuluh ribu orang. Karena terdiri atas beberapa kelompok, mereka disebut Ahzab, artinya golongan-golongan atau pasukan sekutu. Tujuannya mengepung dan menghancurkan kekuatan Muslim di Madinah. Abu Sufyan memimpin pasukan Quraisy dalam persekutuan tersebut.
Nabi memperoleh kabar mengenai persiapan lawan dan bermusyawarah dengan sahabat. Menghadapi jumlah yang jauh lebih besar, Muslim memerlukan pertahanan yang dapat menghalangi serangan langsung, terutama pasukan berkuda.
Parit di bagian yang terbuka
Salman al-Farisi mengusulkan penggalian parit. Ia mengenal cara pertahanan itu dari negeri asalnya, Persia. Madinah memiliki kebun, permukiman, dan kawasan batuan yang menyulitkan gerakan pasukan pada beberapa sisi. Parit digali pada bagian terbuka yang paling memungkinkan diserang, terutama di sebelah utara.
Nabi dan para sahabat bekerja menggali dalam keadaan makanan terbatas dan cuaca berat. Tanah serta batu harus dipindahkan sebelum pasukan lawan datang. Taktik ini memberi nama lain bagi pertempuran tersebut: Khandaq, yang berarti parit.
Ketika pasukan sekutu tiba, gerakan mereka tertahan. Kuda tidak dapat begitu saja melompati parit yang lebar. Pertempuran tidak berbentuk bentrokan seluruh pasukan di lapangan terbuka seperti Badar atau Uhud. Yang terjadi terutama ialah pengepungan, saling melepaskan anak panah, serta upaya terbatas mencari celah pertahanan.
Pengepungan dan bubarnya persekutuan
Muslim menghadapi tekanan dari luar sekaligus kekhawatiran dari arah permukiman Bani Quraizhah. Hubungan perjanjian dengan kelompok tersebut rusak pada masa pengepungan sehingga keamanan keluarga di dalam kota ikut terancam. Keadaan ini membuat pertahanan Madinah sangat berat.
Nu’aim bin Mas’ud, yang telah masuk Islam tetapi belum diketahui pihak lawan, berperan menimbulkan ketidakpercayaan di antara kelompok-kelompok sekutu. Pengepungan yang panjang juga membutuhkan makanan bagi manusia dan hewan. Ketika kemenangan cepat tidak tercapai, persekutuan menjadi semakin rapuh.
Angin kencang serta cuaca buruk mengacaukan perkemahan lawan. Akhirnya pasukan sekutu meninggalkan Madinah. Mereka tidak berhasil menembus pertahanan kota. Surah Al-Ahzab menerangkan kesulitan yang dialami Muslim dan pertolongan Allah dalam menghadapi pasukan gabungan tersebut.
Sesudah pengepungan
Sesudah pasukan sekutu pergi, Nabi menghadapi Bani Quraizhah yang telah melanggar perjanjian pada saat kota terkepung. Setelah pengepungan terhadap benteng mereka, keputusan diserahkan kepada Sa’ad bin Mu’adz, tokoh Aus yang sebelumnya mempunyai hubungan persekutuan dengan mereka. Ia menetapkan hukuman berat menurut keadaan perang masa itu: hukuman mati terhadap para lelaki dewasa dan penawanan keluarga. Peristiwa ini merupakan bagian paling berat dalam hubungan politik Madinah pada masa tersebut.
Sa’ad sendiri telah terluka dalam Perang Khandaq dan kemudian wafat. Berakhirnya ancaman Ahzab menjadi titik perubahan. Serangan gabungan terbesar terhadap Madinah telah gagal. Setelah itu, posisi Muslim semakin kuat untuk berhubungan dengan Makkah melalui jalan yang kelak menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah.
Soal
- Apa arti Ahzab?
- Sebutkan dua kekuatan utama dalam pasukan sekutu.
- Siapa pengusul penggalian parit?
- Mengapa parit tidak perlu mengelilingi setiap bagian Madinah?
- Apa pengaruh parit terhadap pasukan berkuda?
- Bagaimana bentuk utama pertempuran Khandaq?
- Sebutkan dua kesulitan yang melemahkan pasukan sekutu.
- Apa peran Nu’aim bin Mas’ud?
- Siapa yang memberi keputusan atas Bani Quraizhah?
- Mengapa berakhirnya Khandaq menjadi titik perubahan?