16. Khaibar, Surat kepada Penguasa, dan Mu’tah
Waktu: Tahun 7–8 H / 628–629 M
Tempat: Khaibar, Madinah, dan Mu’tah di wilayah utara
Khaibar di utara Madinah
Khaibar merupakan kawasan pertanian dan benteng-benteng di utara Madinah. Sebagian pemimpin yang terlibat dalam pembentukan pasukan Ahzab tinggal di sana. Setelah Hudaibiyah mengurangi ancaman dari arah Makkah, Nabi dapat memusatkan perhatian pada keadaan di utara.
Pada tahun 7 H, pasukan Muslim bergerak menuju Khaibar. Pertahanannya tidak berupa satu kota terbuka, melainkan beberapa benteng yang harus dihadapi satu demi satu. Ali bin Abi Thalib memperoleh panji pada salah satu tahap penting pertempuran. Setelah benteng-benteng dikuasai, dibuat kesepakatan mengenai pengelolaan lahan pertanian.
Penduduk yang mengolah kebun tetap bekerja dengan pembagian hasil yang disepakati. Pengaturan ini memperlihatkan bahwa sesudah pertempuran masih ada urusan pangan, pekerjaan, dan hasil kebun yang harus diselesaikan. Khaibar kemudian menjadi salah satu sumber hasil pertanian penting bagi masyarakat Muslim.
Kepulangan dari Habasyah
Pada masa Khaibar, Ja’far bin Abi Thalib bersama rombongan yang telah lama tinggal di Habasyah bergabung dengan Nabi. Mereka dahulu meninggalkan Makkah untuk mencari perlindungan dari penindasan Quraisy. Kini mereka menemukan masyarakat Muslim yang telah mempunyai pusat kehidupan di Madinah.
Perjalanan Ja’far menghubungkan tiga tempat dalam sirah: Makkah sebagai tempat awal dakwah, Habasyah sebagai tempat perlindungan, dan Madinah sebagai pusat masyarakat baru. Kepulangannya juga mendahului peran penting yang akan dijalankannya sebagai salah seorang pemimpin pasukan Mu’tah.
Surat dan utusan
Dalam masa setelah Hudaibiyah, Nabi mengirim surat melalui utusan kepada sejumlah penguasa. Di antara nama yang dikenal ialah Heraklius, penguasa Romawi Timur; Kisra, penguasa Persia; Muqauqis di Mesir; serta Najasyi di Habasyah. Surat-surat itu berisi ajakan menerima Islam.
Pengiriman surat memperluas hubungan dakwah melampaui kabilah-kabilah di sekitar Madinah. Seorang utusan harus melakukan perjalanan jauh, mengenali pihak yang dituju, dan menyampaikan pesan. Tanggapan para penguasa tidak sama: ada yang menerima utusan dengan baik, ada yang menolak ajakan, dan ada yang bersikap keras.
Perjalanan utusan juga menimbulkan persoalan keamanan. Al-Harits bin Umair al-Azdi, yang membawa pesan menuju wilayah utara, dibunuh oleh seorang penguasa setempat yang berhubungan dengan kekuasaan Romawi. Pembunuhan utusan ini menjadi latar belakang pengiriman pasukan ke Mu’tah.
Tiga pemimpin dan penyelamatan pasukan
Pada tahun 8 H, sekitar tiga ribu Muslim berangkat menuju Mu’tah. Nabi tidak ikut dalam perjalanan tersebut. Beliau menetapkan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin; jika Zaid gugur, kepemimpinan beralih kepada Ja’far bin Abi Thalib, kemudian Abdullah bin Rawahah.
Pasukan menghadapi kekuatan Romawi dan sekutu-sekutu Arabnya. Pertempuran berlangsung berat. Zaid, Ja’far, dan Abdullah gugur secara berurutan. Setelah itu, pasukan memilih Khalid bin Walid untuk memimpin. Khalid mengatur gerakan pasukan sehingga dapat keluar dari keadaan berbahaya dan kembali ke Madinah.
Mu’tah tidak berakhir dengan penaklukan wilayah Romawi. Peristiwa ini merupakan pertemuan militer besar dengan kekuatan di utara dan memperlihatkan beratnya hubungan perbatasan. Khalid, yang dahulu memimpin kavaleri Quraisy di Uhud, kini telah menjadi pemimpin pasukan Muslim.
Soal
- Di mana Khaibar berada?
- Mengapa keadaan sesudah Hudaibiyah memungkinkan gerakan ke Khaibar?
- Bagaimana bentuk pertahanan Khaibar?
- Apa pengaturan pertanian setelah Khaibar dikuasai?
- Siapa yang kembali dari Habasyah pada masa Khaibar?
- Sebutkan dua penguasa yang menerima surat Nabi.
- Apa tujuan surat-surat tersebut?
- Apa peristiwa yang melatarbelakangi pengiriman pasukan Mu’tah?
- Urutkan tiga pemimpin yang ditetapkan Nabi untuk Mu’tah.
- Siapa yang memimpin setelah ketiganya gugur?
- Apakah Nabi ikut dalam pasukan Mu’tah?
- Apa hasil penting kepemimpinan Khalid di Mu’tah?