17. Fathu Makkah: Berakhirnya Kekuasaan Berhala
Waktu: Ramadan 8 H / 630 M
Tempat: Marruzh Zhahran dan Makkah
Pelanggaran terhadap Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah memberikan kebebasan kepada kabilah untuk memilih sekutu. Bani Khuza’ah bergabung dengan Nabi, sedangkan Bani Bakr berpihak kepada Quraisy. Permusuhan lama antara kedua kabilah belum sepenuhnya hilang. Bani Bakr menyerang Khuza’ah, dan sejumlah orang Quraisy memberikan bantuan.
Khuza’ah meminta pertolongan kepada Nabi. Karena serangan itu melibatkan sekutu yang dilindungi perjanjian, bantuan Quraisy merupakan pelanggaran Hudaibiyah. Abu Sufyan kemudian datang ke Madinah untuk memperbarui kesepakatan, tetapi tidak memperoleh hasil yang diharapkan.
Nabi mempersiapkan perjalanan ke Makkah. Persiapan dilakukan dengan menjaga kerahasiaan agar Quraisy tidak sempat menghimpun perlawanan besar. Pasukan yang berangkat berjumlah sekitar sepuluh ribu orang, jauh lebih besar daripada rombongan umrah dua tahun sebelumnya.
Mendekati kota
Pasukan singgah di Marruzh Zhahran dekat Makkah. Banyaknya perkemahan memperlihatkan kekuatan yang telah berkembang sejak hijrah. Abbas bin Abdul Muthalib berperan dalam pertemuan Abu Sufyan dengan Nabi. Abu Sufyan kemudian menerima Islam.
Nabi memberikan pengumuman perlindungan. Orang yang memasuki rumah Abu Sufyan, menutup pintu rumahnya, atau berada di Masjidil Haram mendapat jaminan keamanan. Ketentuan itu membantu penduduk menghindari pertempuran di jalan-jalan kota.
Pasukan memasuki Makkah dari beberapa arah. Nabi memerintahkan agar tidak memulai pertempuran kecuali jika diserang. Pada sebagian besar jalur tidak terjadi perlawanan besar. Bentrokan terbatas terjadi pada jalur pasukan Khalid bin Walid. Dengan demikian, Makkah dapat dikuasai tanpa perang yang menghancurkan seluruh kota.
Ka’bah dibersihkan
Nabi memasuki Masjidil Haram dan melakukan tawaf. Berhala-berhala di sekitar Ka’bah disingkirkan. Tempat suci itu dikembalikan sebagai pusat ibadah kepada Allah. Bilal mengumandangkan azan di atas Ka’bah. Kehadirannya mempunyai arti kuat: orang yang dahulu disiksa di Makkah karena bertauhid kini menyerukan azan di tempat paling utama kota itu.
Kunci Ka’bah tetap diserahkan kepada Utsman bin Thalhah dan keluarganya sebagai pemegang tugas tersebut. Penduduk memperoleh pengampunan yang luas. Beberapa kasus berat ditangani secara khusus, tetapi arah utama kebijakan Nabi ialah menghentikan permusuhan dan membuka kehidupan baru bagi kota.
Banyak penduduk Makkah menerima Islam dan menyatakan baiat. Tokoh serta keluarga yang dahulu menjadi pusat penentangan kini menjadi bagian dari masyarakat Muslim. Nabi menempatkan Attab bin Asid untuk mengurus Makkah.
Akibat pembebasan Makkah
Fathu Makkah berarti pembebasan atau pembukaan Makkah. Peristiwa ini mengakhiri kedudukan kota sebagai pusat utama perlawanan Quraisy terhadap Nabi. Kabilah-kabilah lain melihat bahwa kekuatan yang lama menghalangi Islam telah berubah.
Namun, Nabi tidak memindahkan pusat kehidupannya kembali ke Makkah. Beliau tetap kembali ke Madinah, kota yang telah menerima dan melindungi beliau. Hubungan dengan Ansar tidak terputus setelah kota kelahirannya dikuasai.
Perjalanan dari hijrah tahun 1 H sampai Fathu Makkah tahun 8 H memperlihatkan perubahan yang besar. Nabi yang dahulu meninggalkan Makkah dalam keadaan dikejar kini datang bersama masyarakat yang kuat. Perubahan itu didahului oleh pembangunan Madinah, pertahanan, perjanjian, dan perluasan hubungan antarkabilah.
Soal
- Siapa dua kabilah yang memilih sekutu berbeda dalam Hudaibiyah?
- Apa sebab langsung gerakan menuju Fathu Makkah?
- Kapan Fathu Makkah terjadi?
- Berapa kira-kira jumlah pasukan Muslim?
- Mengapa kerahasiaan persiapan dijaga?
- Sebutkan satu bentuk jaminan keamanan bagi penduduk.
- Apa perintah Nabi kepada pasukan mengenai pertempuran?
- Apa yang dilakukan terhadap berhala di sekitar Ka’bah?
- Siapa yang mengumandangkan azan di atas Ka’bah?
- Siapa yang ditugasi mengurus Makkah?
- Apakah Nabi kemudian menetap kembali di Makkah?
- Mengapa Fathu Makkah memengaruhi kabilah-kabilah lain?