20. Hari-Hari Terakhir Nabi dan Kelanjutan Umat
Waktu: Akhir Safar–Rabiulawal 11 H / 632 M
Tempat: Madinah
Persiapan pasukan Usamah
Sesudah Haji Wada, Nabi tetap mengurus masyarakat dan hubungan dengan daerah luar. Beliau menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid untuk bergerak ke utara. Usamah masih muda, tetapi Nabi mempercayakan kepemimpinan kepadanya. Ayahnya, Zaid bin Haritsah, telah gugur dalam Perang Mu’tah.
Ketika persiapan itu berlangsung, Nabi mulai sakit. Keberangkatan pasukan tertunda karena keadaan beliau dan kebutuhan masyarakat Madinah. Perjalanan ini kemudian dilaksanakan pada masa Abu Bakar. Dengan demikian, tugas yang telah dimulai Nabi tidak berhenti hanya karena terjadi pergantian kepemimpinan.
Sakit dan salat berjamaah
Penyakit Nabi semakin berat. Dengan izin istri-istri beliau, perawatan berlangsung di rumah Aisyah. Rumah itu berdekatan dengan masjid sehingga beliau masih mengetahui keadaan jamaah. Ketika tidak mampu mengimami salat, Nabi memerintahkan Abu Bakar menjadi imam.
Pada pagi hari Senin, Nabi sempat membuka tirai dan melihat para sahabat sedang salat. Mereka merasa gembira melihat beliau. Akan tetapi, keadaan beliau kembali melemah. Nabi wafat pada hari Senin, bulan Rabiulawal tahun 11 H, dalam usia sekitar enam puluh tiga tahun.
Kabar itu mengguncang Madinah. Para sahabat telah hidup bersama beliau sebagai guru, pemimpin, sahabat, dan anggota keluarga. Umar pada mulanya sangat sulit menerima berita wafatnya Nabi. Suasana kota dipenuhi kesedihan dan kebingungan.
Abu Bakar menenangkan masyarakat
Abu Bakar datang dan memastikan keadaan Nabi. Sesudah itu, ia berbicara kepada orang-orang. Ia mengingatkan bahwa Muhammad telah wafat, sedangkan Allah tetap hidup dan tidak mati. Abu Bakar membacakan ayat bahwa Muhammad adalah seorang rasul, dan rasul-rasul sebelumnya juga telah berlalu.
Penjelasan itu membantu masyarakat menerima kenyataan. Kematian Nabi tidak berarti ajaran yang beliau bawa berakhir. Al-Qur’an telah diajarkan, ibadah telah dibimbing, dan para sahabat mempunyai tanggung jawab meneruskan kehidupan umat.
Keluarga serta sahabat mengurus jenazah beliau. Nabi dimakamkan di tempat beliau wafat, yaitu kamar Aisyah. Tempat tersebut pada waktu itu merupakan rumah yang berada di sisi Masjid Nabawi.
Kepemimpinan sesudah Nabi
Sementara pengurusan jenazah berlangsung, masyarakat juga menghadapi kebutuhan mendesak untuk menentukan kepemimpinan. Sebagian Ansar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Jarrah datang membahas keadaan bersama mereka.
Setelah pembicaraan, Abu Bakar menerima baiat sebagai khalifah. Baiat yang lebih luas kemudian dilakukan oleh masyarakat. Khalifah ialah pemimpin yang meneruskan pengurusan umat sesudah Nabi; ia tidak menjadi nabi dan tidak menerima wahyu baru.
Masa berikutnya dikenal sebagai masa Khulafaur Rasyidin. Empat nama utamanya adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka menghadapi persoalan yang berbeda-beda: menyatukan kembali kabilah, mengatur wilayah yang meluas, menjaga mushaf, dan menangani perpecahan politik. Empat pelajaran berikut mengikuti urutan pemerintahan mereka.
Soal
- Siapa yang ditunjuk memimpin pasukan ke utara menjelang wafat Nabi?
- Apa hubungan Usamah dengan Zaid bin Haritsah?
- Di rumah siapa Nabi dirawat pada akhir sakitnya?
- Siapa yang diperintahkan menjadi imam salat ketika Nabi sakit?
- Pada tahun berapa Nabi wafat?
- Berapa kira-kira usia Nabi ketika wafat?
- Apa pokok penjelasan Abu Bakar kepada masyarakat?
- Di mana Nabi dimakamkan?
- Apa yang dimaksud dengan khalifah dalam pelajaran ini?
- Urutkan empat Khulafaur Rasyidin.