21. Abu Bakar: Menyatukan Kembali dan Menghimpun Al-Qur’an
Waktu: Kekhalifahan 11–13 H / 632–634 M
Tempat: Madinah, Yamamah, Irak, dan Syam
Khalifah pertama menghadapi keadaan genting
Abu Bakar adalah sahabat dekat Nabi, termasuk orang pertama yang beriman, dan teman perjalanan hijrah. Sesudah menerima baiat, ia menghadapi keadaan yang jauh lebih luas daripada urusan kota Madinah. Sebagian kabilah menganggap hubungan mereka dengan Madinah berakhir setelah Nabi wafat. Ada yang menolak menyerahkan zakat, ada yang meninggalkan Islam, dan ada yang mengikuti orang yang mengaku sebagai nabi.
Abu Bakar memandang bahwa kewajiban agama dan persatuan masyarakat tidak boleh berhenti karena wafatnya Nabi. Ia tetap memberangkatkan pasukan Usamah yang sebelumnya telah disiapkan. Keputusan itu memperlihatkan kelanjutan tugas pemerintahan pada saat banyak pihak mengira Madinah akan runtuh.
Perang Riddah dan Yamamah
Abu Bakar mengirim pasukan ke berbagai daerah untuk menghadapi pemberontakan. Rangkaian pertempuran ini dikenal sebagai Perang Riddah. Keadaan pihak yang dihadapi tidak seragam: ada penolakan zakat, pembangkangan politik, dan pengikut nabi palsu. Khalid bin Walid menjadi salah seorang panglima penting.
Di Yamamah, pasukan Muslim menghadapi Musailamah dan pengikutnya. Pertempuran berlangsung keras dan menyebabkan banyak korban. Musailamah tewas dan kekuatannya dikalahkan. Wilayah-wilayah yang memberontak berangsur kembali berada dalam hubungan dengan pemerintahan Madinah.
Banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam pertempuran tersebut. Kehilangan ini membuat Umar memikirkan perlunya menghimpun tulisan Al-Qur’an dalam satu kumpulan yang terjaga. Ia kemudian menyampaikan usul kepada Abu Bakar.
Tugas Zaid bin Tsabit
Pada mulanya Abu Bakar berhati-hati menerima usul penghimpunan karena pekerjaan itu belum dilakukan dalam bentuk kumpulan resmi pada masa Nabi. Setelah membahas kebutuhan tersebut, ia menerima usul Umar dan menugasi Zaid bin Tsabit. Zaid pernah menjadi penulis wahyu dan dikenal teliti.
Al-Qur’an ketika itu telah dihafal oleh para sahabat dan ditulis pada berbagai bahan. Zaid menghimpun catatan dengan pemeriksaan dan bantuan hafalan para sahabat. Pekerjaan tersebut bukan menyusun ayat baru, melainkan mengumpulkan wahyu yang telah diajarkan Nabi.
Kumpulan lembaran itu disimpan oleh Abu Bakar. Sesudah beliau wafat, penyimpanannya beralih kepada Umar, kemudian kepada Hafshah binti Umar. Lembaran-lembaran ini kelak dipakai sebagai dasar penyalinan mushaf pada masa Utsman.
Awal gerakan ke Irak dan Syam
Sesudah keadaan Jazirah Arab lebih terkendali, pasukan Muslim bergerak ke Irak dan Syam. Irak berada dalam lingkungan kekuasaan Persia, sedangkan Syam dikuasai Romawi Timur. Khalid berperan dalam gerakan ke Irak, termasuk daerah Hirah, kemudian diperintahkan membantu pasukan di Syam.
Di Syam terdapat beberapa pemimpin pasukan, antara lain Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, dan Amr bin Ash. Pertempuran Ajnadain pada tahun 13 H menjadi salah satu kejadian penting dalam tahap awal ini. Gerakan tersebut berkembang lebih jauh pada masa Umar.
Abu Bakar memerintah sekitar dua tahun. Ketika sakit pada tahun 13 H, ia bermusyawarah dengan para sahabat mengenai penggantinya dan menunjuk Umar. Setelah Abu Bakar wafat, masyarakat memberikan baiat kepada Umar. Masa pemerintahannya singkat, tetapi berhasil mempertahankan persatuan, memulai penghimpunan Al-Qur’an, dan membuka tahap baru hubungan dengan wilayah di luar Arab.
Soal
- Mengapa keadaan sesudah wafat Nabi genting bagi Madinah?
- Mengapa pemberangkatan pasukan Usamah penting?
- Apa yang dimaksud dengan Perang Riddah?
- Siapa yang dihadapi pasukan Muslim di Yamamah?
- Apa akibat pertempuran Yamamah yang mendorong penghimpunan Al-Qur’an?
- Siapa pengusul penghimpunan dan siapa pelaksananya?
- Apakah penghimpunan itu berarti menulis wahyu baru?
- Urutkan tempat penyimpanan lembaran sesudah penghimpunan.
- Di bawah pengaruh kerajaan mana Irak dan Syam saat gerakan awal Muslim?
- Sebutkan tiga hasil penting masa Abu Bakar.