3. Masa Muda, Pernikahan, dan Pembangunan Ka’bah
Waktu: Sebelum kerasulan; usia sekitar 20–35 tahun
Tempat: Makkah dan jalur perdagangan menuju Syam
Pekerjaan dan kehidupan masyarakat
Muhammad tumbuh dalam asuhan Abu Thalib dan ikut merasakan kebutuhan keluarga yang sederhana. Pada masa muda beliau bekerja menggembala kambing. Pekerjaan ini memerlukan perhatian terhadap hewan, tempat penggembalaan, dan keadaan lingkungan. Beliau juga mengenal perdagangan yang menjadi salah satu kegiatan utama penduduk Makkah.
Kepercayaan sangat penting dalam perdagangan. Pemilik barang sering menyerahkan modal kepada orang lain untuk dibawa ke tempat yang jauh. Pedagang harus menjaga barang, menyampaikan hasil penjualan, dan memenuhi perjanjian. Muhammad dikenal masyarakat sebagai Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Kedudukan ini kelak tampak ketika Quraisy menerima beliau sebagai penengah perselisihan.
Persekutuan Hilful Fudhul
Ketika masih muda, Muhammad menghadiri persekutuan Hilful Fudhul di rumah Abdullah bin Jud’an. Latar belakangnya ialah adanya orang yang datang berdagang tetapi haknya tidak dipenuhi oleh seorang penduduk Makkah yang berpengaruh. Orang asing itu tidak memiliki keluarga kuat yang dapat melindunginya di kota tersebut.
Sejumlah keluarga Quraisy kemudian bersepakat membela orang yang dizalimi sampai haknya dikembalikan. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa urusan kota tidak hanya ditangani melalui peperangan antarkabilah. Ada pula usaha bersama untuk memperbaiki hubungan masyarakat dan melindungi kegiatan perdagangan.
Pernikahan dengan Khadijah
Khadijah binti Khuwailid adalah perempuan Quraisy yang menjalankan perdagangan. Ia mempercayakan barang dagangannya kepada Muhammad untuk dibawa ke Syam. Maisarah, pembantu Khadijah, menyertai perjalanan itu. Setelah hubungan tersebut terjalin, Muhammad menikah dengan Khadijah ketika beliau berusia dua puluh lima tahun. Abu Thalib ikut berperan dalam urusan pernikahan keluarga itu.
Dari pernikahan tersebut lahir Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah. Karena putranya bernama Al-Qasim, Nabi juga dikenal dengan panggilan Abul Qasim. Kedua putranya dari Khadijah wafat ketika masih kecil. Keempat putrinya hidup hingga masa Islam. Khadijah mendampingi beliau sejak sebelum kerasulan dan menjadi orang pertama yang membenarkan wahyu yang beliau terima.
Keluarga Nabi juga menjadi tempat tumbuh Zaid bin Haritsah. Ali bin Abi Thalib, putra Abu Thalib, kemudian tinggal dalam asuhan Muhammad. Karena itu, ketika dakwah dimulai, Ali dan Zaid telah mengenal kehidupan beliau dari dekat.
Perselisihan Hajar Aswad
Ketika Muhammad berusia sekitar tiga puluh lima tahun, Quraisy membangun kembali Ka’bah yang mengalami kerusakan. Setiap kelompok mendapat bagian pekerjaan. Perselisihan muncul ketika Hajar Aswad hendak dikembalikan ke tempatnya. Para pemimpin kabilah sama-sama menginginkan kehormatan untuk meletakkan batu itu.
Akhirnya mereka menerima Muhammad sebagai penengah. Beliau membentangkan sehelai kain dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya. Wakil-wakil kabilah memegang sisi kain lalu mengangkatnya bersama. Sesampainya di dekat tempatnya, beliau meletakkan batu itu dengan tangannya. Dengan cara tersebut, pekerjaan Ka’bah dapat diselesaikan tanpa berubah menjadi pertikaian antarkelompok.
Peristiwa ini berlangsung sebelum wahyu pertama. Jadi, kepercayaan masyarakat terhadap Muhammad sudah dikenal sebelum beliau menyampaikan dakwah Islam.
Soal
- Pekerjaan apa yang dilakukan Nabi pada masa mudanya?
- Apa arti gelar Al-Amin?
- Apa tujuan Hilful Fudhul?
- Mengapa pedagang dari luar Makkah membutuhkan perlindungan?
- Siapa Khadijah binti Khuwailid?
- Berapa usia Nabi ketika menikah dengan Khadijah?
- Sebutkan empat putri Nabi dari Khadijah.
- Mengapa Quraisy berselisih saat pembangunan Ka’bah?
- Bagaimana Nabi menyelesaikan perselisihan tersebut?
- Manakah yang lebih dahulu: penyelesaian perselisihan Hajar Aswad atau wahyu pertama?