4. Wahyu Pertama dan Permulaan Kerasulan
Waktu: Ramadan, sekitar 610 M; Nabi berusia 40 tahun
Tempat: Gua Hira dan Makkah
Menjelang datangnya wahyu
Ketika mendekati usia empat puluh tahun, Muhammad sering menyendiri untuk beribadah di Gua Hira. Gua itu berada di gunung dekat Makkah yang sekarang dikenal sebagai Jabal Nur. Beliau membawa bekal dan tinggal beberapa waktu, kemudian pulang kepada Khadijah untuk mengambil bekal berikutnya. Hira bukan tempat tinggal keluarga beliau, melainkan tempat beliau beribadah dengan tenang.
Sebelum menerima wahyu di gua, beliau mengalami mimpi yang benar. Mimpi itu menjadi bagian dari permulaan wahyu sebagaimana diterangkan Aisyah. Kehidupan beliau kemudian berubah ketika Malaikat Jibril datang membawa firman Allah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan.
Pertemuan dengan Jibril
Di Gua Hira, Jibril memerintahkan Muhammad membaca. Beliau menjawab bahwa beliau tidak dapat membaca. Malaikat mendekap beliau lalu melepaskannya dan mengulangi perintah itu. Setelah peristiwa tersebut berulang, Jibril menyampaikan permulaan Surah Al-‘Alaq: perintah membaca dengan nama Allah yang menciptakan manusia dan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui.
Dengan turunnya wahyu, Muhammad menerima tugas sebagai nabi. Wahyu bukan hasil perenungan beliau sendiri, melainkan firman Allah yang disampaikan melalui malaikat. Al-Qur’an tidak turun sekaligus menjadi satu buku. Ayat-ayatnya turun secara bertahap selama masa kerasulan, mengikuti kehendak Allah dan keadaan yang dihadapi umat.
Khadijah dan Waraqah
Setelah mengalami peristiwa di Hira, Nabi pulang dalam keadaan sangat terguncang dan meminta agar diselimuti. Khadijah mendengarkan cerita beliau. Ia menguatkan suaminya dengan mengingatkan perbuatan-perbuatan baik yang telah dikenal: menyambung hubungan keluarga, membantu orang yang kesulitan, memuliakan tamu, dan menolong orang yang terkena musibah.
Khadijah kemudian membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang telah lanjut usia dan mengenal kitab suci terdahulu. Sesudah mendengar penuturan Nabi, Waraqah menjelaskan bahwa yang datang adalah malaikat pembawa wahyu yang juga mendatangi Nabi Musa. Ia memperingatkan bahwa tugas kerasulan akan mendapat penentangan dari masyarakat.
Khadijah membenarkan Nabi dan menjadi pendukung pertama beliau. Dukungan itu berarti besar karena tugas yang diterima belum diketahui masyarakat luas, sedangkan pengalaman di Hira sangat mengguncang diri beliau.
Dari penerima wahyu menjadi penyampai peringatan
Sesudah permulaan wahyu terdapat masa jeda. Kemudian wahyu datang kembali. Permulaan Surah Al-Muddatstsir memerintahkan Nabi bangkit memberi peringatan dan mengagungkan Allah. Beliau mulai mengajak orang terdekat kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.
Masa kerasulan Nabi berlangsung sekitar dua puluh tiga tahun: tiga belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Pada masa Makkah, ajaran tentang keesaan Allah, hari kebangkitan, tanggung jawab manusia, dan perbaikan kehidupan masyarakat mendapat penekanan. Dakwah yang dimulai di lingkungan keluarga ini kemudian mengubah perjalanan Makkah dan Jazirah Arab.
Soal
- Di manakah Nabi menerima wahyu pertama?
- Berapa usia Nabi ketika menerima wahyu pertama?
- Pada bulan apakah wahyu pertama turun?
- Siapa malaikat yang menyampaikan wahyu?
- Surah apa yang bagian awalnya menjadi wahyu pertama?
- Bagaimana keadaan Nabi ketika pulang dari Hira?
- Bagaimana Khadijah membantu Nabi?
- Siapa Waraqah bin Naufal?
- Apakah seluruh Al-Qur’an turun pada satu malam di Hira?
- Berapa lama masa kerasulan Nabi di Makkah dan Madinah?