5. Dakwah di Makkah dan Para Muslim Pertama
Waktu: Tahun-tahun awal kerasulan, sekitar 610–616 M
Tempat: Makkah: rumah Al-Arqam dan Bukit Shafa
Orang-orang yang lebih dahulu menerima Islam
Nabi mula-mula mengajak orang yang dekat dengan beliau. Khadijah menerima ajaran Islam. Ali bin Abi Thalib yang masih muda, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar ash-Shiddiq juga termasuk orang-orang pertama yang beriman. Mereka kelak dikenal bersama para Muslim awal lainnya sebagai as-sabiqunal awwalun.
Abu Bakar mempunyai hubungan luas di kalangan Quraisy. Melalui ajakannya, sejumlah orang menerima Islam, di antaranya Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Dakwah berlangsung melalui hubungan pribadi: seseorang mendengar ajaran Nabi, beriman, lalu memperkenalkannya kepada orang lain.
Para Muslim awal berasal dari keadaan yang berbeda. Ada pedagang berkecukupan, pemuda dari keluarga terpandang, orang yang hidup dalam perlindungan keluarga lain, dan budak. Ajaran tauhid menghimpun mereka dalam hubungan baru yang tidak hanya ditentukan oleh kekayaan dan keturunan.
Belajar di rumah Al-Arqam
Rumah Al-Arqam bin Abil Arqam di sekitar Bukit Shafa menjadi tempat penting untuk berkumpul dan belajar. Nabi membacakan Al-Qur’an, menerangkan ajaran Islam, dan membimbing ibadah. Dalam keadaan pengikut masih sedikit, pertemuan yang terlindung memberi kesempatan kepada mereka untuk memahami ajaran dan saling mengenal.
Rumah ini dikenal sebagai Darul Arqam. Ia bukan sekolah dengan ruang kelas seperti yang kita kenal sekarang. Kegiatan belajar berlangsung dalam pertemuan bersama Nabi. Hafalan dan pembacaan Al-Qur’an menjadi bagian penting dari pembentukan masyarakat Muslim awal.
Dakwah terbuka dan penentangan
Setelah masa ajakan kepada orang-orang dekat, Nabi diperintahkan memberi peringatan kepada kerabat dan menyampaikan dakwah secara terbuka. Beliau menyeru masyarakat dari Bukit Shafa. Abu Lahab, salah seorang pamannya, menentang ajakan itu. Dakwah kemudian menjadi persoalan yang dibicarakan di seluruh Makkah.
Ajaran Nabi menolak penyembahan berhala serta menuntut pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagian pemuka Quraisy memandangnya sebagai ancaman terhadap keyakinan leluhur dan kedudukan mereka. Penentangan berkembang dari ejekan serta tuduhan menjadi tekanan terhadap para pengikut. Abu Thalib tetap melindungi keponakannya sehingga para pemuka Quraisy juga berusaha memengaruhinya.
Tekanan dan bertambahnya pengikut
Muslim yang tidak memiliki perlindungan kuat mengalami penderitaan paling berat. Bilal bin Rabah disiksa oleh tuannya karena mempertahankan iman. Abu Bakar kemudian membelinya dan memerdekakannya. Keluarga Yasir juga mengalami penyiksaan; Yasir dan Sumayyah wafat dalam penindasan itu, sedangkan putra mereka, Ammar, tetap menjadi sahabat Nabi.
Di tengah tekanan, dakwah tetap memperoleh pengikut. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi, menerima Islam. Umar bin Khattab yang sebelumnya menentang juga masuk Islam. Keduanya mempunyai keberanian dan kedudukan yang memperkuat masyarakat Muslim.
Namun, bertambahnya pengikut tidak segera mengakhiri penindasan. Keadaan Makkah masih sulit. Nabi kemudian membuka jalan agar sebagian sahabat mencari perlindungan di negeri lain, yaitu Habasyah di seberang Laut Merah.
Soal
- Sebutkan empat orang yang termasuk penerima Islam paling awal.
- Apa arti as-sabiqunal awwalun?
- Bagaimana Abu Bakar membantu perkembangan dakwah?
- Apa fungsi rumah Al-Arqam?
- Di sekitar bukit apa rumah Al-Arqam berada?
- Mengapa sebagian pemuka Quraisy menentang dakwah?
- Siapa paman yang memberi perlindungan kepada Nabi?
- Bagaimana Bilal memperoleh kebebasan?
- Sebutkan dua tokoh kuat yang masuk Islam di tengah penentangan Quraisy.
- Mengapa sebagian Muslim kemudian memerlukan tempat perlindungan di luar Makkah?