6. Hijrah ke Habasyah dan Pemboikotan di Makkah
Waktu: Mulai tahun ke-5 kerasulan; pemboikotan sekitar tahun ke-7–10 kerasulan
Tempat: Makkah dan Habasyah di seberang Laut Merah
Menyeberangi Laut Merah
Pada tahun kelima kerasulan, Nabi mengizinkan sebagian sahabat meninggalkan Makkah menuju Habasyah. Negeri ini berada di Afrika timur, di seberang Laut Merah. Penguasanya dikenal dengan gelar Najasyi. Nabi mengetahui bahwa di bawah pemerintahannya orang tidak dibiarkan mengalami kezaliman.
Rombongan pertama berjumlah kecil. Di antara mereka terdapat Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah, putri Nabi. Setelah itu berlangsung perpindahan yang lebih besar. Ja’far bin Abi Thalib termasuk tokoh utama Muslim di Habasyah. Perjalanan dilakukan untuk memperoleh tempat aman bagi kehidupan dan ibadah, sementara Nabi tetap berada di Makkah.
Keberangkatan tersebut menunjukkan bahwa penentangan Quraisy sudah memaksa sejumlah keluarga meninggalkan tempat asalnya. Mereka menempuh perjalanan darat dan laut, lalu tinggal dalam masyarakat dengan bahasa dan agama yang berbeda.
Ja’far di hadapan Najasyi
Quraisy tidak membiarkan para pengungsi tinggal tenang. Mereka mengirim utusan, di antaranya Amr bin Ash, untuk meminta Najasyi menyerahkan Muslim kembali ke Makkah. Para utusan membawa hadiah dan berusaha mendapatkan dukungan dari lingkungan istana.
Najasyi memanggil Muslim untuk mendengar penjelasan mereka. Ja’far menerangkan keadaan masyarakat Arab sebelum Islam, ajaran yang dibawa Nabi, dan penindasan yang menyebabkan mereka meninggalkan negeri. Ia juga membacakan ayat-ayat Surah Maryam yang menerangkan Maryam dan Nabi Isa.
Sesudah mendengar kedua pihak, Najasyi menolak menyerahkan Muslim kepada utusan Quraisy. Mereka dapat tinggal dengan perlindungan di Habasyah. Sebagian kembali lebih awal, sedangkan Ja’far dan rombongannya baru bergabung dengan Nabi di Madinah pada masa Khaibar, tahun 7 H.
Piagam pemboikotan
Di Makkah, para pemuka Quraisy meningkatkan tekanan terhadap keluarga yang melindungi Nabi. Mereka membuat kesepakatan untuk memutus hubungan jual beli dan pernikahan dengan Bani Hasyim serta Bani Muthalib sampai Muhammad diserahkan. Kesepakatan itu dituliskan dalam sebuah lembar dan disimpan di Ka’bah.
Keluarga-keluarga tersebut berkumpul di lembah atau kawasan Syi’ib Abu Thalib. Tidak semua orang yang terkena pemboikotan telah menjadi Muslim; sebagian bertahan karena ikatan keluarga dan perlindungan kepada Nabi. Abu Lahab justru berada di pihak yang menentang.
Pemboikotan berlangsung sekitar tiga tahun. Persediaan makanan menjadi sulit. Hubungan dagang terhambat dan kehidupan keluarga-keluarga yang dikepung mengalami kesusahan. Bantuan kadang dikirim secara diam-diam oleh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga atau menolak kekerasan pemboikotan.
Berakhirnya pemboikotan
Sejumlah tokoh Makkah akhirnya menentang kesepakatan tersebut. Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abi Umayyah, Muth’im bin Adi, dan beberapa orang lain berusaha membatalkannya. Mereka menilai tidak patut membiarkan keluarga-keluarga di lembah terus kelaparan sementara penduduk lainnya dapat hidup seperti biasa.
Pemboikotan berakhir dan keluarga Nabi dapat meninggalkan kawasan itu. Akan tetapi, tekanan bertahun-tahun telah melemahkan kehidupan mereka. Tidak lama kemudian Nabi menghadapi kehilangan dua pendukung besar: Abu Thalib dan Khadijah. Kejadian-kejadian ini membawa dakwah Makkah memasuki masa yang semakin berat.
Soal
- Ke mana sebagian sahabat berhijrah pada tahun kelima kerasulan?
- Apa nama gelar penguasa Habasyah?
- Siapa pasangan suami istri dari keluarga Nabi yang ikut hijrah awal?
- Siapa yang berbicara mewakili Muslim di hadapan Najasyi?
- Apa tujuan utusan Quraisy datang ke Habasyah?
- Surah apa yang dibacakan Ja’far?
- Apa keputusan Najasyi?
- Sebutkan dua hubungan yang diputus melalui pemboikotan.
- Apakah semua keluarga yang terkena pemboikotan telah menjadi Muslim?
- Jelaskan perbedaan hijrah ke Habasyah dan pemboikotan di Syi’ib Abu Thalib.