7. Tahun Kesedihan, Thaif, serta Isra dan Mikraj
Waktu: Menjelang akhir masa Makkah; sekitar tahun ke-10 kerasulan dan sesudahnya
Tempat: Makkah, Thaif, dan Baitul Maqdis
Kehilangan dua pendukung
Setelah pemboikotan berakhir, Nabi menghadapi dua kehilangan besar. Abu Thalib wafat. Selama bertahun-tahun ia telah menjadi pelindung Nabi dalam hubungan antarkeluarga Quraisy. Tidak lama berselang, Khadijah juga wafat. Ia telah mendampingi Nabi sejak sebelum kerasulan, membenarkan wahyu pertama, dan membantu dakwah dengan tenaga serta hartanya.
Masa ini dikenal sebagai Tahun Kesedihan atau ‘Amul Huzni. Kehilangan Khadijah merupakan kesedihan keluarga yang sangat besar, sedangkan wafatnya Abu Thalib juga mengubah keadaan perlindungan Nabi di Makkah. Para penentang merasa lebih bebas mengganggu beliau. Nabi kemudian mencari tempat lain yang mungkin menerima dakwah dan memberikan perlindungan.
Perjalanan ke Thaif
Nabi pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Kota ini berada di daerah pegunungan di sebelah tenggara Makkah dan memiliki kebun-kebun. Penduduk pentingnya berasal dari kabilah Tsaqif. Nabi menemui para pemukanya dan mengajak mereka menerima Islam serta mendukung dakwah.
Ajakan itu ditolak. Sebagian penduduk mengusir dan melempari beliau. Zaid berusaha melindungi Nabi. Mereka kemudian beristirahat di sebuah kebun. Di sana Nabi bertemu Addas, seorang pelayan dari Niniwe. Percakapan tentang Nabi Yunus menjadi bagian dari pertemuan tersebut.
Nabi meninggalkan Thaif tanpa memperoleh perlindungan yang dicari. Dalam riwayat Aisyah, beliau menceritakan betapa beratnya penolakan itu. Ketika malaikat penjaga gunung menawarkan hukuman bagi orang-orang yang menolak, Nabi mengharapkan agar dari keturunan mereka kelak muncul orang yang menyembah Allah. Sesudah perjalanan itu, beliau masuk kembali ke Makkah dengan perlindungan Muth’im bin Adi.
Perjalanan Isra dan Mikraj
Pada akhir masa Makkah berlangsung peristiwa Isra dan Mikraj. Isra adalah perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Mikraj ialah perjalanan naik ke langit atas kehendak Allah. Keduanya merupakan peristiwa luar biasa yang Allah anugerahkan kepada Nabi, bukan perjalanan dagang atau perpindahan tempat tinggal.
Dalam perjalanan itu Nabi bertemu para nabi terdahulu. Beliau menerima kewajiban salat yang akhirnya ditetapkan lima waktu sehari semalam. Karena itu, Isra dan Mikraj mempunyai kedudukan penting dalam sejarah ibadah umat Islam. Peristiwa ini terjadi sebelum hijrah ke Madinah.
Ketika Nabi menyampaikan berita perjalanan tersebut, penentang di Makkah menjadikannya bahan penolakan. Abu Bakar membenarkan Nabi. Keimanan para sahabat kembali diuji dalam keadaan dakwah yang belum memperoleh tempat aman di Makkah.
Dakwah tetap berlanjut
Nabi terus menemui orang-orang yang datang pada musim haji dan pertemuan kabilah. Beliau mencari masyarakat yang bersedia menerima ajaran Islam dan memberikan perlindungan. Tidak setiap pertemuan menghasilkan penerimaan, tetapi usaha itu mempertemukan beliau dengan penduduk Yatsrib.
Perubahan arah dakwah tidak terjadi sekaligus. Wafatnya pelindung, penolakan Thaif, pertemuan dengan berbagai kabilah, dan hubungan yang kemudian tumbuh dengan Yatsrib merupakan rangkaian yang membuka jalan menuju hijrah. Pada pelajaran berikutnya, kita mengikuti bagaimana sebuah kota di utara Makkah mulai menjadi tempat harapan baru bagi kaum Muslim.
Soal
- Siapa dua pendukung Nabi yang wafat pada Tahun Kesedihan?
- Apa peran Abu Thalib dalam kehidupan Nabi?
- Mengapa Nabi pergi ke Thaif?
- Siapa yang mendampingi Nabi ke Thaif?
- Kabilah apa yang mempunyai kedudukan penting di Thaif?
- Bagaimana hasil kunjungan Nabi ke Thaif?
- Siapa yang memberikan perlindungan ketika Nabi kembali memasuki Makkah?
- Jelaskan perbedaan Isra dan Mikraj.
- Ibadah wajib apa yang diterima Nabi dalam peristiwa Mikraj?
- Apa hubungan pertemuan dengan kabilah-kabilah dan jalan menuju hijrah?