Mengetuk Pintu Harapan
بَابُ الرَّجَاءِ
Syair · Abu Ishaq al-Ilbiri, Ta’iyyah; pembacaan edisi Amr ibn Haiman, 2022, bersumber pada Diwan al-Ilbiri
وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافًا # بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّى
وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعًا عَسَاهُ # سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَا
وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الْأَرْضِ دَأْبًا # لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَا
Jaga ikhtiar, doa yang tulus, pengakuan kesalahan dan harapan kepada Allah. Kedekatan batin dibangun melalui kebiasaan yang berlanjut.
Arti & penjelasan
Arti harfiah Ikuti susunan kata dalam teks
Bait 2: Serulah ketika engkau bersujud kepada-Nya dengan pengakuan, sebagaimana Dzu al-Nun, putra Matta, menyeru-Nya.
Bait 3: Teruslah mengetuk pintu-Nya; semoga Dia membuka pintu-Nya bagimu jika engkau mengetuknya.
Bait 4: Perbanyaklah mengingat-Nya di bumi secara terus-menerus, agar engkau disebut di langit ketika mengingat-Nya.
Penjelasan / syarah
Doa dan zikir digambarkan sebagai mengetuk pintu. Ini kiasan kedekatan dan pengharapan, bukan gambaran fisik Allah. Dzu al-Nun adalah Nabi Yunus; seruannya merujuk pengakuan dalam QS al-Anbiya 21:87. Puisi ini karya al-Ilbiri, bukan hadis. Mengingat Allah tidak menggantikan tindakan dan pertanggungjawaban.
KOSAKATA
التَّوْفِيقَ — pertolongan untuk mencapai kebaikan
أَخْلِصْ — tuluskanlah
اعْتِرَافًا — dengan pengakuan
ذُو النُّونِ — sebutan Nabi Yunus
قَرْعًا — ketukan
دَأْبًا — terus-menerus sebagai kebiasaan
TARGET
Hafalkan seluruh petikan; jelaskan makna setiap bait, satu kiasan, dan satu penerapannya.
SUMBER DAN REDAKSI
Abu Ishaq al-Ilbiri, Ta’iyyah; pembacaan edisi Amr ibn Haiman, 2022, bersumber pada Diwan al-Ilbiri
Ta’iyyah, bait 56–59. Dipilih menggantikan khutbah yang belum dapat dipertanggungjawabkan nisbahnya kepada Nabi.
https://amribnhaiman.blogspot.com/2022/12/pdf.html?hl=ar
Petikan syair asli; judul, tambahan harakat, terjemahan, penjelasan dan latihan disusun untuk TEMAS. Bukan hadis. Redaksi dicocokkan pada 14 Oktober 2026; status pengelola tetap perlu_verifikasi.
Pelajaran untuk santri
Latihan
2. Jelaskan pesan utama serta satu keindahan ungkapan dalam petikan.
3. Berikan contoh penerapan di pesantren, lalu sampaikan nasihat satu menit dengan satu bait dan penyebutan penyair.
Pedoman jawaban Buka setelah mencoba sendiri
2. Doa dan zikir digambarkan sebagai mengetuk pintu. Ini kiasan kedekatan dan pengharapan, bukan gambaran fisik Allah. Dzu al-Nun adalah Nabi Yunus; seruannya merujuk pengakuan dalam QS al-Anbiya 21:87. Puisi ini karya al-Ilbiri, bukan hadis. Mengingat Allah tidak menggantikan tindakan dan pertanggungjawaban.
3. Santri menghadapi kegagalan dengan memperbaiki usaha, berdoa dan meminta nasihat. Tidak menyimpulkan bahwa doa teman pasti kurang tulus hanya karena hasilnya belum sesuai harapan. Nilai ketepatan petikan, atribusi, penjelasan dan kelayakan tindakan; contoh lain yang beralasan dapat diterima.
Sumber & status penelaahan
Abu Ishaq al-Ilbiri, Ta’iyyah; pembacaan edisi Amr ibn Haiman, 2022, bersumber pada Diwan al-Ilbiri
Sumber masih memerlukan penelaahan. Koreksi dan rujukan pembaca sangat membantu.