Wajah Ramah dan Langkah yang Baik
بِشْرٌ وَهِمَّةٌ وَتُقًى
Syair · Abu al-Fath al-Busti, Qashidat ‘Unwan al-Hikam; edisi Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Maktab al-Mathbu‘at al-Islamiyyah, 1984
دَعِ التَّكَاسُلَ فِي الْخَيْرَاتِ تَطْلُبُهَا # فَلَيْسَ يَسْعَدُ بِالْخَيْرَاتِ كَسْلَانُ
لَا ظِلَّ لِلْمَرْءِ يَعْرَى مِنْ تُقًى وَنُهًى # وَإِنْ أَظَلَّتْهُ أَوْرَاقٌ وَأَفْنَانٌ
Jaga keluhuran sikap saat bertemu orang yang berbeda, bergeraklah mencari kebaikan, dan rawat dasar batin yang melindungi tindakan.
Arti & penjelasan
Arti harfiah Ikuti susunan kata dalam teks
Bait 2: Tinggalkan kemalasan dalam mencari kebaikan, sebab orang malas tidak berbahagia memperoleh kebaikan.
Bait 3: Tiada naungan bagi orang yang telanjang dari takwa dan akal, walaupun dedaunan dan cabang-cabang menaunginya.
Penjelasan / syarah
Keramahan tidak disamakan dengan mempercayai semua orang tanpa batas. Naungan lahir berupa pohon dibandingkan dengan naungan moral berupa takwa dan akal. Tiga bait ini tidak bergantung pada kisah pembunuhan, diyat atau teka-teki peribahasa sejarah.
KOSAKATA
الْبِشْرِ — keramahan wajah
غَضَّانُ — segar atau berseri
التَّكَاسُلَ — bermalas-malas
نُهًى — akal yang menahan dari keburukan
أَفْنَانٌ — cabang-cabang pohon
TARGET
Hafalkan seluruh petikan; jelaskan makna setiap bait, satu kiasan, dan satu penerapannya.
SUMBER DAN REDAKSI
Abu al-Fath al-Busti, Qashidat ‘Unwan al-Hikam; edisi Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Maktab al-Mathbu‘at al-Islamiyyah, 1984
‘Unwan al-Hikam, bait 31–33, halaman 38.
https://usul.ai/fa/t/qasidat-cunwan-hukm
Petikan syair asli; judul, tambahan harakat, terjemahan, penjelasan dan latihan disusun untuk TEMAS. Bukan hadis. Redaksi dicocokkan pada 14 Oktober 2026; status pengelola tetap perlu_verifikasi.
Pelajaran untuk santri
Latihan
2. Jelaskan pesan utama serta satu keindahan ungkapan dalam petikan.
3. Berikan contoh penerapan di pesantren, lalu sampaikan nasihat satu menit dengan satu bait dan penyebutan penyair.
Pedoman jawaban Buka setelah mencoba sendiri
2. Keramahan tidak disamakan dengan mempercayai semua orang tanpa batas. Naungan lahir berupa pohon dibandingkan dengan naungan moral berupa takwa dan akal. Tiga bait ini tidak bergantung pada kisah pembunuhan, diyat atau teka-teki peribahasa sejarah.
3. Dalam perlombaan atau musyawarah, santri tetap memberi salam dan bertutur baik kepada pihak yang berbeda, sambil menjalankan tugasnya. Jika ada ancaman atau pelanggaran, cari perlindungan dan bantuan pengasuh; keramahan bukan kewajiban mengabaikan keselamatan. Nilai ketepatan petikan, atribusi, penjelasan dan kelayakan tindakan; contoh lain yang beralasan dapat diterima.
Sumber & status penelaahan
Abu al-Fath al-Busti, Qashidat ‘Unwan al-Hikam; edisi Abd al-Fattah Abu Ghuddah, Maktab al-Mathbu‘at al-Islamiyyah, 1984
Sumber masih memerlukan penelaahan. Koreksi dan rujukan pembaca sangat membantu.