Bangkit dan berhenti menyalahkan keadaan
لإبراهيم عبـد الفتاح طوقان
Syair · Ibrahim Tuqan, Tafa’ul wa Amal, al-A‘mal al-Syi‘riyyah al-Kamilah
كَفْكِفْ دُمُوعَكَ لَيْسَ يَنْفَعُكَ الْبُكَاءُ وَلَا الْعَوِيلُ
وَانْهَضْ وَلَا تَشْكُ الزَّمَانَ فَمَا شَكَا إِلَّا الْكَسُولُ
وَاسْلُكْ بِهِمَّتِكَ السَّبِيلَ وَلَا تَقُلْ كَيْفَ السَّبِيلُ
مَا ضَلَّ ذُو أَمَلٍ سَعَى يَوْمًا وَحِكْمَتُهُ الدَّلِيلُ
كَلَّا وَلَا خَابَ امْرُؤٌ يَوْمًا وَمَقْصَدُهُ نَبِيلُ
أَفْنَيْتَ يَا مِسْكِينُ عُمْرَكَ بِالتَّأَوُّهِ وَالْحَزَنْ
وَقَعَدْتَ مَكْتُوفَ الْيَدَيْنِ تَقُولُ حَارَبَنِي الزَّمَنْ
مَا لَمْ تَقُمْ بِالْعِبْءِ أَنْتَ فَمَنْ يَقُومُ بِهِ إِذَنْ
أَضْحَى التَّشَاؤُمُ فِي حَدِيثِكَ بِالْغَرِيزَةِ وَالسَّلِيقَةْ
مِثْلَ الْغُرَابِ نَعَى الدِّيَارَ وَأَسْمَعَ الدُّنْيَا نَعِيقَهْ
أَمَلٌ يَلُوحُ بَرِيقُهُ فَاسْتَهْدِ يَا هَذَا بَرِيقَهْ
مَا ضَاقَ عَيْشُكَ لَوْ سَعَيْتَ لَهُ وَلَوْ لَمْ تَشْكُ ضِيقَهْ
وَانْهَضْ وَلَا تَشْكُ الزَّمَانَ فَمَا شَكَا إِلَّا الْكَسُولُ
وَاسْلُكْ بِهِمَّتِكَ السَّبِيلَ وَلَا تَقُلْ كَيْفَ السَّبِيلُ
مَا ضَلَّ ذُو أَمَلٍ سَعَى يَوْمًا وَحِكْمَتُهُ الدَّلِيلُ
كَلَّا وَلَا خَابَ امْرُؤٌ يَوْمًا وَمَقْصَدُهُ نَبِيلُ
أَفْنَيْتَ يَا مِسْكِينُ عُمْرَكَ بِالتَّأَوُّهِ وَالْحَزَنْ
وَقَعَدْتَ مَكْتُوفَ الْيَدَيْنِ تَقُولُ حَارَبَنِي الزَّمَنْ
مَا لَمْ تَقُمْ بِالْعِبْءِ أَنْتَ فَمَنْ يَقُومُ بِهِ إِذَنْ
أَضْحَى التَّشَاؤُمُ فِي حَدِيثِكَ بِالْغَرِيزَةِ وَالسَّلِيقَةْ
مِثْلَ الْغُرَابِ نَعَى الدِّيَارَ وَأَسْمَعَ الدُّنْيَا نَعِيقَهْ
أَمَلٌ يَلُوحُ بَرِيقُهُ فَاسْتَهْدِ يَا هَذَا بَرِيقَهْ
مَا ضَاقَ عَيْشُكَ لَوْ سَعَيْتَ لَهُ وَلَوْ لَمْ تَشْكُ ضِيقَهْ
MAKNA INDONESIA
Bangkit dari pesimisme dengan ikhtiar, tujuan mulia, hikmah, dan kesediaan memikul tanggung jawab.
Arti & penjelasan
Arti harfiah Ikuti susunan kata dalam teks
Bait 1: Usaplah air matamu; tangis dan ratapan tidak memberimu manfaat.
Bait 2: Bangkitlah dan jangan mengeluhkan zaman; yang terus mengeluh hanyalah pemalas.
Bait 3: Tempuhlah jalan dengan tekadmu; jangan berkata: bagaimana jalannya?
Bait 4: Orang yang berharap dan berusaha tidak tersesat ketika kebijaksanaan menjadi penuntunnya.
Bait 5: Tidak pula orang bertujuan mulia itu gagal.
Bait 6: Engkau menghabiskan umur, wahai yang malang, dalam keluhan dan kesedihan.
Bait 7: Engkau duduk dengan tangan terikat dan berkata: zaman memerangiku.
Bait 8: Jika engkau tidak memikul beban, siapa yang memikulnya?
Petikan berikutnya, bait 9: Pesimisme dalam ucapanmu sudah menjadi naluri dan kebiasaan.
Bait 10: Seperti gagak yang meratapi negeri dan memperdengarkan suaranya kepada dunia.
Bait 11: Harapan tampak kilaunya; mintalah petunjuk pada kilaunya.
Bait 12: Hidupmu tidak akan sempit seandainya engkau berusaha untuknya dan tidak mengeluhkan kesempitannya.
Bait 2: Bangkitlah dan jangan mengeluhkan zaman; yang terus mengeluh hanyalah pemalas.
Bait 3: Tempuhlah jalan dengan tekadmu; jangan berkata: bagaimana jalannya?
Bait 4: Orang yang berharap dan berusaha tidak tersesat ketika kebijaksanaan menjadi penuntunnya.
Bait 5: Tidak pula orang bertujuan mulia itu gagal.
Bait 6: Engkau menghabiskan umur, wahai yang malang, dalam keluhan dan kesedihan.
Bait 7: Engkau duduk dengan tangan terikat dan berkata: zaman memerangiku.
Bait 8: Jika engkau tidak memikul beban, siapa yang memikulnya?
Petikan berikutnya, bait 9: Pesimisme dalam ucapanmu sudah menjadi naluri dan kebiasaan.
Bait 10: Seperti gagak yang meratapi negeri dan memperdengarkan suaranya kepada dunia.
Bait 11: Harapan tampak kilaunya; mintalah petunjuk pada kilaunya.
Bait 12: Hidupmu tidak akan sempit seandainya engkau berusaha untuknya dan tidak mengeluhkan kesempitannya.
Penjelasan / syarah
Syair menyapa seseorang yang larut dalam keluhan, lalu mendorongnya bangkit, memilih tujuan mulia, memakai kebijaksanaan, dan mengambil tanggung jawab. Maktuf al-yadayn secara harfiah berarti kedua tangan terikat; dalam konteks ini ia menggambarkan tidak bertindak. Gagak yang memperdengarkan ratapan merupakan perumpamaan kebiasaan menyiarkan pesimisme, sedangkan kilau harapan menjadi gambaran penunjuk arah. Pernyataan bahwa hanya pemalas yang mengeluh dan bahwa tujuan mulia tidak pernah gagal adalah penguatan retoris. Ia tidak dijadikan ukuran untuk menyalahkan semua orang yang bersedih atau menjamin usaha selalu menghasilkan keberhasilan. Inti nasihatnya ialah mengimbangi harapan dengan tindakan yang terarah.
CATATAN PENYUNTINGAN CETAK 14 OKTOBER 2026
Ibrahim Tuqan, Tafa’ul wa Amal, al-A‘mal al-Syi‘riyyah al-Kamilah: https://www.safahat.org/books/25090535/20/ . Dua petikan dengan bait di antaranya tidak dipilih; jeda dipisahkan dengan baris kosong. Koreksi في حديثك (bukan من حديثك), سَعَيْتَ; harakat akhir stanza mengikuti waqaf/qafiyah. Bait mudawwar ditulis satu baris agar kata tidak terpotong. Nama penulis diseragamkan menjadi Ibrahim Tuqan.
CATATAN PENYUNTINGAN CETAK 14 OKTOBER 2026
Ibrahim Tuqan, Tafa’ul wa Amal, al-A‘mal al-Syi‘riyyah al-Kamilah: https://www.safahat.org/books/25090535/20/ . Dua petikan dengan bait di antaranya tidak dipilih; jeda dipisahkan dengan baris kosong. Koreksi في حديثك (bukan من حديثك), سَعَيْتَ; harakat akhir stanza mengikuti waqaf/qafiyah. Bait mudawwar ditulis satu baris agar kata tidak terpotong. Nama penulis diseragamkan menjadi Ibrahim Tuqan.
Pelajaran untuk santri
Nilai ini mendidik santri TEMAS agar bersungguh-sungguh, berani mencoba, mengevaluasi hasil, dan tidak menggantungkan cita-cita pada angan-angan.
Latihan
1. Perubahan sikap apa yang diminta penutur pada bagian awal?
2. Apa dua bekal yang menyertai harapan dan usaha dalam syair?
3. Apa fungsi perbandingan dengan burung gagak pada bagian berikutnya?
2. Apa dua bekal yang menyertai harapan dan usaha dalam syair?
3. Apa fungsi perbandingan dengan burung gagak pada bagian berikutnya?
Pedoman jawaban Buka setelah mencoba sendiri
1. Berhenti hanya mengeluh, lalu bangkit dan berusaha.
2. Hikmah sebagai penuntun dan tujuan yang mulia.
3. Menggambarkan ucapan pesimistis yang terus mengabarkan kemuraman sehingga pembaca terdorong mengubah sikapnya.
2. Hikmah sebagai penuntun dan tujuan yang mulia.
3. Menggambarkan ucapan pesimistis yang terus mengabarkan kemuraman sehingga pembaca terdorong mengubah sikapnya.
Sumber & status penelaahan
Ibrahim Tuqan, Tafa’ul wa Amal, al-A‘mal al-Syi‘riyyah al-Kamilah · halaman 177
Sumber masih memerlukan penelaahan. Koreksi dan rujukan pembaca sangat membantu.