Kasrah untuk nashab, fathah untuk jar
جمع المؤنث السالم والممنوع من الصرف
Menerapkan dua tanda pengganti yang sering tertukar.
Bekal sebelum membaca
Pelajaran 7: keadaan i‘rab berbeda dari tanda yang tampak.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
وَمَا بِتَا وَأَلِفٍ قَدْ جُمِعَا
يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا
Terjemahan maksud
Jamak dengan tambahan ta dan alif diberi kasrah ketika jar maupun nashab.
كَذَا أُولَاتُ وَالَّذِي اسْمًا قَدْ جُعِلْ
كَأَذْرِعَاتٍ فِيهِ ذَا أَيْضًا قُبِلْ
Terjemahan maksud
Demikian pula ulat dan bentuk tersebut yang menjadi nama diri, seperti Adzri‘at; i‘rab yang sama juga diterima padanya.
وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لَا يَنْصَرِفْ
مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ
Terjemahan maksud
Jarkan isim yang tidak menerima sharaf dengan fathah, selama tidak diidhafahkan dan tidak didahului al.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- يُكْسَرُ
- diberi kasrah
- أُولَاتُ
- para perempuan pemilik
- مَا لَا يَنْصَرِفْ
- isim mamnu‘ minash-sharf
- يُضَفْ
- menjadi mudhaf
03 Pahami kaidahnya
Jamak dengan alif dan ta tambahan
Jamak mu’annats salim seperti مُسْلِمَاتٌ dirafa‘kan dengan dhammah, tetapi nashab dan jarnya memakai kasrah. Dalam رَأَيْتُ الْمُسْلِمَاتِ, objek tetap manshub walaupun bertanda kasrah. Yang dimaksud ialah bentuk jamak dengan alif dan ta tambahan menurut kaidahnya; bukan semua kata yang kebetulan berakhir ات.
Bentuk yang mengikuti
أُولَاتُ bermakna para perempuan pemilik dan mengikuti i‘rab ini. Bait 42 juga menyebut bentuk yang dijadikan nama diri seperti أَذْرِعَاتٍ. Ada rincian pemakaian pada nama semacam ini; pelajaran dasar cukup mengenali bahwa fungsi sebagai nama tidak otomatis menghapus seluruh pola i‘rab jamak asalnya.
Mamnu‘ minash-sharf
Isim tertentu tidak menerima tanwin tamkin dan, ketika majrur, memakai fathah sebagai pengganti kasrah. Contoh أَحْمَدَ setelah huruf jar. Tetapi jika kata itu memakai al atau menjadi mudhaf, tanda jarnya kembali kasrah. Sebab-sebab lengkap mamnu‘ minash-sharf dipelajari di bab tersendiri; di sini kita mempelajari akibatnya terhadap tanda jar.
Pendalaman & batas penerapan
أَبْيَاتٌ bukan contoh jamak mu’annats salim hanya karena berakhir at: ta pada bentuk itu berasal dari kata tunggal بَيْتٌ. Karena itu nashabnya أَبْيَاتًا. Analisis bentuk mendahului pemilihan tanda.
04 Uraikan kalimatnya
رَأَيْتُ الطَّالِبَاتِ
Aku melihat para siswi.
Lihat analisis i‘rab
الطَّالِبَاتِ: maf‘ul bih manshub, tandanya kasrah menggantikan fathah karena jamak mu’annats salim.
صَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدَ كَثِيرَةٍ
Aku salat di banyak masjid.
Lihat analisis i‘rab
مَسَاجِدَ: majrur dengan fathah karena mamnu‘ minash-sharf, tanpa al dan bukan mudhaf. كَثِيرَةٍ: na‘at majrur dengan kasrah. Pada فِي الْمَسَاجِدِ, al mengembalikan tanda jar masajid menjadi kasrah.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Mengapa الطالباتِ pada رأيت الطالباتِ manshub?
Buka pembahasan
Karena menjadi objek; kasrah adalah tanda nashab pengganti fathah untuk kelompok ini.
Bacalah akhir kata pada فِي الْمَسَاجِد.
Buka pembahasan
فِي الْمَسَاجِدِ dengan kasrah karena sudah memakai al.
Apakah أبيات termasuk pola jamak mu’annats salim?
Buka pembahasan
Tidak. Ta berasal dari bentuk tunggal بيت; jamaknya mengikuti jamak taksir.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 73–78 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.