Nakirah dan enam contoh ma‘rifah
النكرة والمعرفة
Mengenali nakirah melalui al yang berpengaruh dan mengelompokkan contoh ma‘rifah.
Bekal sebelum membaca
Tanda isim pada pelajaran 3 dan idhafah pada pelajaran 8–9.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
نَكِرَةٌ قَابِلُ أَلْ مُؤَثِّرَا
أَوْ وَاقِعٌ مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا
Terjemahan maksud
Nakirah ialah yang menerima al yang menghasilkan kema‘rifahan, atau yang menempati kedudukan kata semacam itu.
وَغَيْرُهُ مَعْرِفَةٌ كَهُمْ وَذِي
وَهِنْدَ وَابْنِي وَالْغُلَامِ وَالَّذِي
Terjemahan maksud
Selainnya ialah ma‘rifah, seperti hum, dzi, Hind, ibni, al-ghulam, dan alladzi.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- نَكِرَةٌ
- isim yang belum menentukan individu
- مُؤَثِّرَا
- menghasilkan kema‘rifahan
- مَعْرِفَةٌ
- isim yang menentukan acuannya menurut jenisnya
- ذِي
- isim isyarah feminin dalam bait ini
03 Pahami kaidahnya
Belum menunjuk individu tertentu
Nakirah menunjukkan sesuatu tanpa menetapkan individu tertentu dalam pengertian katanya. رَجُلٌ berarti seorang laki-laki, belum menentukan siapa. Salah satu pengujiannya ialah menerima al yang menghasilkan kema‘rifahan: الرَّجُلُ. Kata مُؤَثِّرًا pada bait membatasi jenis al yang dimaksud; bukan setiap tambahan al selalu mengubah nakirah menjadi ma‘rifah.
Ada nakirah yang tidak menerima al secara langsung
ذُو dalam ذُو عِلْمٍ bermakna “pemilik ilmu”. Ia tidak menerima al secara langsung pada pemakaian ini, tetapi menempati makna صَاحِبٌ yang dapat menerima al. Inilah tujuan bagian kedua bait 52. Definisi perlu mencakup makna dan pemakaian, tidak berhenti pada percobaan menempelkan dua huruf.
Enam kelompok yang dicontohkan
Bait 53 mencontohkan dhamir melalui هُمْ, isim isyarah melalui ذِي, nama diri melalui هِنْد, yang diidhafahkan kepada ma‘rifah melalui ابْنِي, yang memakai al melalui الْغُلَام, dan isim maushul melalui الَّذِي. Ini peta awal; rincian tiap kelompok menyusul dalam Alfiyah. Tanwin bukan lawan ma‘rifah: زَيْدٌ tetap ma‘rifah walaupun bertanwin.
Pendalaman & batas penerapan
Nama seperti الحارث sudah mempunyai kema‘rifahan sebagai nama; tambahan al pada pemakaian nama tidak berfungsi sama dengan al pada رجل. Demikian pula tidak semua idhafah otomatis menghasilkan ma‘rifah: كِتَابُ طَالِبٍ masih nakirah. Ada rincian idhafah lafzhiyyah yang dipelajari kemudian.
04 Uraikan kalimatnya
هَذَا كِتَابٌ
Ini sebuah buku.
Lihat analisis i‘rab
هَذَا: mubtada berupa isim isyarah ma‘rifah, mabni dalam kedudukan rafa‘. كِتَابٌ: khabar marfu‘ berupa nakirah. Status nakirah tidak mencegah kata menjadi khabar.
كِتَابُ الطَّالِبِ جَدِيدٌ
Buku milik siswa itu baru.
Lihat analisis i‘rab
كِتَابُ: mubtada marfu‘ dan mudhaf; menjadi ma‘rifah karena idhafah maknawi kepada الطَّالِبِ yang ma‘rifah. جَدِيدٌ: khabar marfu‘.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apakah زَيْدٌ nakirah karena bertanwin?
Buka pembahasan
Tidak. Ia nama diri dan termasuk ma‘rifah.
Apa beda كتاب طالب dan كتاب الطالب?
Buka pembahasan
Yang pertama diidhafahkan kepada nakirah dan tetap nakirah; yang kedua idhafah maknawi kepada ma‘rifah sehingga menjadi ma‘rifah.
Mengapa ذو علم dapat nakirah walaupun tidak menerima al?
Buka pembahasan
Karena ذو dalam arti pemilik menempati makna صاحب yang menerima al.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 86–88 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.