Dhamir dan sambungannya
الضمير المتصل وبناؤه
Mengenali dhamir berdasarkan acuannya dan membedakan bentuk dengan kedudukan i‘rab.
Bekal sebelum membaca
Nakirah/ma‘rifah dan bina; isim dapat mabni sekaligus mempunyai kedudukan i‘rab.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
فَمَا لِذِي غَيْبَةٍ أَوْ حُضُورِ
كَأَنْتَ وَهْوَ سَمِّ بِالضَّمِيرِ
Terjemahan maksud
Kata yang menunjukkan pihak yang tidak hadir atau yang hadir, seperti anta dan huwa, dinamakan dhamir.
وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَا لَا يُبْتَدَا
وَلَا يَلِي إِلَّا اخْتِيَارًا أَبَدَا
Terjemahan maksud
Dhamir muttashil ialah yang tidak dipakai untuk memulai tuturan dan tidak langsung mengikuti illa dalam pemakaian biasa.
كَالْيَاءِ وَالْكَافِ مِنِ ابْنِي أَكْرَمَكْ
وَالْيَاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيهِ مَا مَلَكْ
Terjemahan maksud
Seperti ya dan kaf pada “ibni akramak”, serta ya dan ha pada “salihi ma malak”.
وَكُلُّ مُضْمَرٍ لَهُ الْبِنَا يَجِبْ
وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ
Terjemahan maksud
Semua dhamir wajib mabni. Bentuk dhamir jar sama dengan bentuk dhamir nashab.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- غَيْبَةٍ
- pihak yang dibicarakan
- حُضُورِ
- pembicara atau lawan bicara
- ذُو اتِّصَالٍ
- yang melekat
- مُضْمَرٍ
- dhamir
03 Pahami kaidahnya
Menunjuk pembicara, lawan bicara, atau yang dibicarakan
Dhamir menggantikan penyebutan pihak menurut takallum, khithab, atau ghaib: أَنَا, أَنْتَ, dan هُوَ. “Hadir” dalam bait mencakup pembicara dan lawan bicara. Dalam teks, dhamir ghaib memerlukan acuan yang dapat dipahami; mengenali bentuknya saja belum cukup untuk memastikan kepada siapa ia kembali.
Muttashil memerlukan tempat melekat
Dhamir muttashil tidak digunakan sendirian untuk memulai tuturan dan dalam pemakaian biasa tidak langsung diletakkan setelah illa. Ya pada ابْنِي melekat kepada isim; kaf pada أَكْرَمَكَ melekat kepada fi‘il. Dalam سَلِيهِ, ya menunjuk pelaku perempuan yang diajak bicara, sedangkan ha menunjuk yang ditanya. Bentuk sambungan perlu diurai agar pelaku tidak tertukar dengan objek.
Semua dhamir mabni, kedudukannya beragam
Dhamir dapat berada dalam kedudukan rafa‘, nashab, atau jar. Kaf pada أَكْرَمَكَ menjadi objek dalam kedudukan nashab; kaf pada بِكَ berada dalam kedudukan jar. Bentuk dhamir nashab dan jar dalam kelompok yang dibahas sama, tetapi fungsinya berbeda. Karena mabni, kita mengatakan “dalam kedudukan nashab”, bukan menambahkan fathah i‘rab pada akhirnya.
Pendalaman & batas penerapan
Nazam memberi batas “ikhtiyaran”, yakni pemakaian prosa biasa. Syarah mencatat bentuk penyair yang menempatkan dhamir sambung setelah illa. Bentuk khusus itu bukan pola utama untuk membuat kalimat pemula.
04 Uraikan kalimatnya
أَكْرَمَكَ الْمُعَلِّمُ
Guru memuliakanmu.
Lihat analisis i‘rab
أَكْرَمَ: madhi. Kaf dhamir mabni pada fathah dalam kedudukan nashab sebagai maf‘ul bih. الْمُعَلِّمُ: fa‘il marfu‘. Kaf bukan pelaku meskipun dekat dengan fi‘il.
هَذَا كِتَابُهُ
Ini bukunya.
Lihat analisis i‘rab
كِتَابُ: khabar marfu‘ dan mudhaf. Ha dhamir mabni pada dhammah dalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih; acuannya harus diketahui dari konteks.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apa kedudukan ha dalam كتابه?
Buka pembahasan
Dalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih.
Apa kedudukan kaf dalam أكرمك?
Buka pembahasan
Dalam kedudukan nashab sebagai maf‘ul bih.
Apa dua dhamir dalam سَلِيهِ?
Buka pembahasan
Ya mukhathabah sebagai fa‘il dan ha sebagai maf‘ul bih, keduanya mabni.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 88–93 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.