Kapan dhamir disambung atau dipisah?
اتصال الضمير وانفصاله
Menggunakan kaidah dasar ittishal dan memahami tempat pilihan yang disebut nazam.
01 Baca matannya
وَفِي اخْتِيَارٍ لَا يَجِيءُ الْمُنْفَصِلْ
إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيءَ الْمُتَّصِلْ
Terjemahan maksud
Dalam pemakaian biasa, dhamir terpisah tidak digunakan apabila bentuk yang melekat dapat digunakan.
وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاءَ سَلْنِيهِ وَمَا
أَشْبَهَهُ فِي كُنْتُهُ الْخُلْفُ انْتَمَى
Terjemahan maksud
Ha pada salnihi dan yang serupa boleh dilekatkan atau dipisahkan; pada kuntuhu terdapat perbedaan pendapat—
كَذَاكَ خِلْتَنِيهِ وَاتِّصَالَا
أَخْتَارُ غَيْرِي اخْتَارَ الِانْفِصَالَا
Terjemahan maksud
—demikian pula khiltanihi. Aku memilih bentuk yang melekat, sedangkan selainku memilih bentuk yang terpisah.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- اخْتِيَارٍ
- pemakaian biasa di luar kebutuhan syair
- تَأَتَّى
- memungkinkan
- صِلْ
- sambungkan
- افْصِلْ
- pisahkan
03 Pahami kaidahnya
Pola dasar: gunakan sambungan jika memungkinkan
Untuk maksud “aku memuliakanmu” dalam susunan biasa, dipakai أَكْرَمْتُكَ. Jangan menggantinya menjadi أَكْرَمْتُ إِيَّاكَ tanpa alasan susunan yang membenarkan. Bentuk terpisah digunakan ketika pelekatan tidak memungkinkan atau ketika terdapat konstruksi khusus, seperti pendahuluan objek dan pembatasan setelah illa.
Pilihan pada dua objek
Pada pola سَلْنِيهِ, ha objek kedua boleh disambung atau dipisahkan: سَلْنِي إِيَّاهُ. Pengertian dasarnya “mintalah itu kepadaku”. Pilihan ini memiliki lingkungan tertentu: dua dhamir sebagai dua objek, dengan dhamir pertama lebih khusus menurut urutan yang dijelaskan pada pelajaran berikutnya. Kaidah ini tidak membebaskan semua dhamir untuk dipisah di semua kalimat.
Mengenali perbedaan pilihan ulama
Pada pola كُنْتُهُ dan خِلْتَنِيهِ, nazam mencatat perbedaan pilihan tentang sambung atau pisah. Ibn Malik memilih sambung dalam pembahasan ini, sedangkan pihak lain memilih pisah. Sebagai pelajar, pahami dulu kedudukan dhamir: khabar kana berbeda dari objek kedua fi‘il yang menashabkan dua objek. Pilihan bahasa harus dibaca bersama jenis amilnya.
Pendalaman & batas penerapan
Dalam contoh dua objek, kedudukan dan tingkat kekhususan dhamir harus diperiksa. Pembahasan syarah membedakan objek yang asalnya mubtada-khabar dari dua objek yang tidak demikian. Karena itu contoh kuntuhu dan khiltanihi dibahas terpisah dari salnihi.
04 Uraikan kalimatnya
أَكْرَمْتُكَ
Aku memuliakanmu.
Lihat analisis i‘rab
Ta adalah fa‘il; kaf dhamir sambung dalam kedudukan nashab sebagai objek. Ini bentuk biasa ketika sambungan memungkinkan.
إِيَّاكَ أَقْصِدُ
Engkaulah yang kumaksud.
Lihat analisis i‘rab
إِيَّاكَ: dhamir terpisah dalam kedudukan nashab sebagai objek yang didahulukan. أَقْصِدُ: mudhari‘ marfu‘ dengan fa‘il أنا yang tersembunyi. Objek yang mendahului fi‘il tidak dapat melekat sebagai akhiran fi‘il itu.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apa bentuk biasa “aku memuliakanmu”?
Buka pembahasan
أَكْرَمْتُكَ, dengan kaf melekat sebagai objek.
Mengapa إِيَّاكَ أَقْصِدُ memakai dhamir terpisah?
Buka pembahasan
Objek didahulukan sebelum fi‘il sehingga tidak dapat menjadi akhiran fi‘il itu.
Sebutkan dua bentuk yang dibolehkan untuk سلنيه.
Buka pembahasan
سَلْنِيهِ dan سَلْنِي إِيَّاهُ dalam lingkungan dua objek yang dibahas.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 99–105 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.