Nun wiqayah sebelum ya pembicara
نون الوقاية
Membedakan nun wiqayah dari bagian kata dan mengenali pemakaian utamanya.
01 Baca matannya
وَقَبْلَ يَا النَّفْسِ مَعَ الْفِعْلِ الْتُزِمْ
نُونُ وِقَايَةٍ وَلَيْسِي قَدْ نُظِمْ
Terjemahan maksud
Sebelum ya pembicara yang melekat pada fi‘il, nun wiqayah wajib digunakan; bentuk laysi pernah dipakai dalam nazam.
وَلَيْتَنِي فَشَا وَلَيْتِي نَدَرَا
وَمَعَ لَعَلَّ اعْكِسْ وَكُنْ مُخَيَّرَا
Terjemahan maksud
Laytani banyak dipakai dan layti jarang. Pada la‘alla berlaku kebalikannya; engkau memiliki pilihan—
فِي الْبَاقِيَاتِ وَاضْطِرَارًا خَفَّفَا
مِنِّي وَعَنِّي بَعْضُ مَنْ قَدْ سَلَفَا
Terjemahan maksud
—pada huruf-huruf yang tersisa. Sebagian pendahulu meringankan minni dan ‘anni karena kebutuhan syair.
وَفِي لَدُنِّي لَدُنِي قَلَّ وَفِي
قَدْنِي وَقَطْنِي الْحَذْفُ أَيْضًا قَدْ يَفِي
Terjemahan maksud
Pada ladunni, bentuk laduni sedikit; pada qadni dan qathni, penghilangan nun juga terkadang dipakai.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- يَا النَّفْسِ
- ya pembicara
- وِقَايَةٍ
- perlindungan
- فَشَا
- banyak dipakai
- نَدَرَا
- jarang dipakai
03 Pahami kaidahnya
Nun pelindung pada fi‘il
Jika ya pembicara melekat sebagai objek fi‘il, digunakan nun wiqayah, seperti أَكْرَمَنِي dan يُكْرِمُنِي. Nun bukan pelaku atau objek; ia tidak mempunyai kedudukan i‘rab. Ya adalah dhamir objek. Sebutan wiqayah mengacu pada perlindungan bentuk akhir kata dari perubahan yang dituntut ya pembicara. Dalam pola isim biasa seperti كِتَابِي, nun ini tidak ditambahkan.
Layta, la‘alla, dan saudara-saudaranya
Bentuk yang umum ialah لَيْتَنِي; tanpa nun, لَيْتِي, jarang dan dibahas sebagai pemakaian khusus. Pada la‘alla, yang lebih umum justru لَعَلِّي; لَعَلَّنِي lebih sedikit. Pada إِنَّ، أَنَّ، كَأَنَّ، لَكِنَّ, kedua bentuk dengan atau tanpa tambahan nun dibahas sebagai pilihan, seperti إِنِّي dan إِنَّنِي. Jangan menghapus nun asli hurufnya ketika membandingkan bentuk tersebut.
Minni, ‘anni, ladunni, qadni, dan qathni
Pada مِنِّي dan عَنِّي, nun wiqayah bertemu nun asal sehingga terdengar bertasydid. Bentuk ringan yang disebut bait 70 berkaitan dengan kebutuhan syair. Bait 71 menyebut لَدُنِّي dengan bentuk ringan yang lebih sedikit, serta قَدْنِي dan قَطْنِي dalam arti “cukup bagiku”. Qad dan qath di sini bukan otomatis qad tahqiq atau qath bermakna “pernah” pada setiap konteks.
Pendalaman & batas penerapan
Syarah mencatat perbedaan penilaian tentang sebagian bentuk langka: apakah boleh dalam prosa atau khusus kebutuhan syair. Pelajaran ini mengikuti pola yang umum untuk latihan, sambil mempertahankan catatan nazam agar pembaca dapat mengenali variasinya saat membaca kitab.
04 Uraikan kalimatnya
أَكْرَمَنِي الْمُعَلِّمُ
Guru memuliakanku.
Lihat analisis i‘rab
أَكْرَمَ: fi‘il madhi. Nun: nun wiqayah, tidak mempunyai kedudukan i‘rab. Ya: dhamir mabni dalam kedudukan nashab sebagai objek. الْمُعَلِّمُ: fa‘il marfu‘.
لَعَلِّي أَفْهَمُ
Semoga aku memahami.
Lihat analisis i‘rab
لَعَلَّ: huruf yang menashabkan isim dan merafa‘kan khabar. Ya: isim la‘alla dalam kedudukan nashab. أَفْهَمُ beserta fa‘il أنا yang tersembunyi menjadi jumlah khabar. Bentuk ini tidak menambahkan nun wiqayah.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Uraikan nun dan ya pada يُكْرِمُنِي.
Buka pembahasan
Nun adalah wiqayah tanpa kedudukan i‘rab; ya dhamir objek dalam kedudukan nashab.
Mana pola yang lebih umum: لعلّي atau لعلّني?
Buka pembahasan
لَعَلِّي, sebagaimana kebalikan pola لَيْتَنِي dalam nazam.
Apakah كتابي memerlukan nun wiqayah?
Buka pembahasan
Tidak dalam pola isim biasa ini. Ya langsung menjadi mudhaf ilaih.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 108–117 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.