Mengenali isim dan fi‘il
علامات الاسم والفعل
Menentukan jenis kata melalui tanda yang dapat diterimanya.
Bekal sebelum membaca
Pelajaran 2: tiga jenis kalimah ialah isim, fi‘il, dan huruf.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
بِالْجَرِّ وَالتَّنْوِينِ وَالنِّدَا وَأَلْ
وَمُسْنَدٍ لِلِاسْمِ تَمْيِيزٌ حَصَلْ
Terjemahan maksud
Isim dapat dikenali melalui jar, tanwin, panggilan, al, dan penyandaran suatu keterangan kepadanya.
بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي
وَنُونِ أَقْبِلَنَّ فِعْلٌ يَنْجَلِي
Terjemahan maksud
Fi‘il dapat dikenali melalui ta pada fa‘alta dan atat, ya pada if‘ali, serta nun pada aqbilanna.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- الْجَرِّ
- keadaan jar
- التَّنْوِينِ
- bunyi nun tambahan pada akhir isim menurut ketentuannya
- النِّدَا
- panggilan
- يَنْجَلِي
- menjadi jelas
03 Pahami kaidahnya
Lima jalan mengenali isim
Isim dapat dikenali melalui jar, tanwin, panggilan, al, atau kedudukannya sebagai sesuatu yang diberi keterangan. Dalam بِزَيْدٍ, Zaid menerima jar; dalam كِتَابٌ terdapat tanwin; dalam يَا خَالِدُ, Khalid menjadi yang dipanggil; dalam الْكِتَابُ terdapat al. Pada زَيْدٌ حَضَرَ, kehadiran disandarkan kepada Zaid. Semua itu menunjukkan keisiman.
Tanda adalah petunjuk, bukan daftar yang wajib terkumpul
Satu tanda yang sah sudah memadai; satu isim tidak harus menerima kelima tanda. Dhamir أَنَا tidak menerima al atau tanwin, tetapi dapat menjadi pihak yang diberi keterangan dalam أَنَا طَالِبٌ. Tanwin juga tidak berarti nakirah secara otomatis: زَيْدٌ bertanwin, padahal nama diri termasuk ma‘rifah.
Tanda fi‘il memiliki tempat masing-masing
Ta pelaku pada فَعَلْتَ dan ta ta’nits yang semula bersukun pada أَتَتْ menandai fi‘il madhi. Ya lawan bicara perempuan pada اِفْعَلِي terdapat pada amar dan juga mudhari‘, seperti تَفْعَلِينَ. Nun taukid dapat masuk pada amar dan mudhari‘. Bait ini memberi tanda jenis fi‘il secara umum; pemilahan waktunya diterangkan pada bait berikutnya.
Pendalaman & batas penerapan
“Musnad” pada bait 10 menunjuk kepada penyandaran: suatu hukum atau berita disandarkan kepada isim. Ini menolong mengenali isim yang tidak menerima tanda lahir seperti tanwin. Pada panggilan, yang menjadi tanda ialah kata itu benar-benar berfungsi sebagai yang dipanggil, bukan sekadar kebetulan berada sesudah ya.
04 Uraikan kalimatnya
مَرَرْتُ بِخَالِدٍ
Aku melewati Khalid.
Lihat analisis i‘rab
مَرَرْتُ: fi‘il madhi mabni pada sukun karena tersambung ta pelaku; ta adalah fa‘il. بِـ: huruf jar. خَالِدٍ: isim majrur dengan kasrah. Keadaan jar menjadi tanda bahwa Khalid adalah isim.
كَتَبَتْ فَاطِمَةُ
Fatimah menulis.
Lihat analisis i‘rab
كَتَبَتْ: fi‘il madhi mabni pada fathah; ta ta’nits tidak mempunyai kedudukan i‘rab. فَاطِمَةُ: fa‘il marfu‘ dengan dhammah. Ta tersebut menandai feminin, bukan fa‘il.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apakah Zaid pada زَيْدٌ isim walaupun tanpa al?
Buka pembahasan
Ya. Tanwin dan kemampuannya menerima penyandaran sudah menunjukkan keisiman; semua tanda tidak harus berkumpul.
Apa beda ta dalam ذَهَبْتُ dan ذَهَبَتْ هِنْدٌ?
Buka pembahasan
Pada yang pertama ta adalah pelaku “aku”; pada yang kedua ta menandai feminin, sedangkan Hind adalah fa‘il.
Tanda apa pada الْبَيْتُ?
Buka pembahasan
Al menunjukkan keisiman. Dhammah baru ditentukan menurut kedudukan kata dalam kalimat.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 16–23 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.