Huruf, madhi, mudhari‘, dan amar
تمييز الحرف وأنواع الفعل
Membedakan fi‘il amar dari isim fi‘il serta menguji tanda mudhari‘ dan madhi.
01 Baca matannya
سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ
فِعْلٌ مُضَارِعٌ يَلِي لَمْ كَيَشَمْ
Terjemahan maksud
Selain keduanya ialah huruf, seperti hal, fi, dan lam. Fi‘il mudhari‘ dapat mengikuti lam, seperti yasyam.
وَمَاضِيَ الْأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ
بِالنُّونِ فِعْلَ الْأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ
Terjemahan maksud
Bedakan fi‘il madhi dengan ta; tandai fi‘il amar dengan nun apabila makna perintah dipahami darinya.
وَالْأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنُّونِ مَحَلْ
فِيهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ
Terjemahan maksud
Ungkapan bermakna perintah yang tidak dapat menerima nun tersebut tergolong isim, seperti shah dan hayyahal.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- سِوَاهُمَا
- selain keduanya
- مِزْ
- bedakanlah
- سِمْ
- tandailah
- صَهْ
- diamlah
03 Pahami kaidahnya
Huruf sebagai kategori kata
Huruf di sini adalah kata tugas yang maknanya terkait dengan kata lain, seperti فِي, هَلْ, dan لَمْ. Ia bukan sekadar huruf abjad. Huruf tidak menerima tanda isim maupun tanda fi‘il. Sebelum menentukannya, perhatikan konteks: satu bentuk tulisan dapat digunakan dengan fungsi berbeda dalam susunan yang berbeda.
Mudhari‘ dan madhi
Mudhari‘ dapat dimasuki lam, seperti لَمْ يَكْتُبْ. Ini pengujian terhadap kata kerjanya, bukan syarat bahwa lam harus selalu hadir. Madhi dikenali melalui penerimaannya terhadap ta pelaku atau ta ta’nits. Contoh كَتَبَ dapat menjadi كَتَبْتُ dan كَتَبَتْ. Tidak semua kata yang diawali ya adalah mudhari‘; nama يَحْيَى, misalnya, adalah isim ketika dipakai sebagai nama seseorang.
Dua syarat mengenali amar
Fi‘il amar menunjukkan tuntutan melakukan sesuatu dan dapat menerima nun taukid sesuai kaidahnya. اُكْتُبْ menunjukkan perintah dan dapat menjadi اُكْتُبَنَّ. Sebaliknya صَهْ bermakna “diamlah”, tetapi tidak menerima nun taukid seperti fi‘il amar; ia termasuk isim fi‘il. Makna perintah saja belum cukup untuk menyebut suatu kata fi‘il amar.
Pendalaman & batas penerapan
Bentuk يَشَمْ dalam nazam adalah contoh untuk pengujian dengan lam. Untuk latihan awal kita memakai يَكْتُبْ yang lebih mudah dikenali. Isim fi‘il mempunyai pembahasan tersendiri di bagian lanjut Alfiyah; pada tahap ini cukup pahami alasan ia tidak diklasifikasikan sebagai fi‘il amar.
04 Uraikan kalimatnya
لَمْ يَكْتُبْ زَيْدٌ
Zaid tidak menulis.
Lihat analisis i‘rab
لَمْ: huruf penafian dan jazm yang mengalihkan waktu makna ke masa lampau. يَكْتُبْ: mudhari‘ majzum dengan sukun. زَيْدٌ: fa‘il marfu‘.
صَهْ
Diamlah.
Lihat analisis i‘rab
Isim fi‘il amar mabni pada sukun, dengan fa‘il tersembunyi أَنْتَ. Dalam analisis yang digunakan di sini, isim fi‘il tidak mempunyai kedudukan i‘rab.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Mengapa يَكْتُبُ adalah mudhari‘?
Buka pembahasan
Salah satu tandanya dapat mengikuti lam: لَمْ يَكْتُبْ.
Apakah صَهْ fi‘il amar?
Buka pembahasan
Bukan. Ia isim fi‘il amar: bermakna perintah tetapi tidak menerima nun taukid sebagaimana fi‘il amar.
Apakah huruf pada bab ini berarti alif-ba-ta?
Buka pembahasan
Bukan. Yang dimaksud huruf ma‘ani atau kata tugas seperti fi dan lam.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 23–27 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.