Mu‘rab, mabni, dan sebab bina
المعرب والمبني من الأسماء
Membedakan perubahan i‘rab dari tetapnya bina dan mengenali empat jenis kemiripan dengan huruf.
Bekal sebelum membaca
Sudah mengenal isim, fi‘il, dan huruf. Rafa‘, nashab, dan jar akan dirinci pada pelajaran 7.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
وَالِاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي
لِشَبَهٍ مِنَ الْحُرُوفِ مُدْنِي
Terjemahan maksud
Sebagian isim mu‘rab dan sebagian mabni; kemabniannya karena kemiripan yang mendekatkannya kepada huruf.
كَالشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا
وَالْمَعْنَوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُنَا
Terjemahan maksud
Seperti kemiripan bentuk pada dua isim dalam ji’tana, serta kemiripan makna pada mata dan huna.
وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلَا
تَأَثُّرٍ وَكَافْتِقَارٍ أُصِّلَا
Terjemahan maksud
Juga karena menggantikan fi‘il tanpa menerima pengaruh i‘rab, atau karena kebutuhan yang menetap kepada pelengkap.
وَمُعْرَبُ الْأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا
مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسُمَا
Terjemahan maksud
Isim mu‘rab ialah yang selamat dari kemiripan tersebut, seperti ardh dan suma.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- مُعْرَبٌ
- kata yang menerima i‘rab
- مَبْنِي
- kata yang bentuk akhirnya tetap menurut bina
- شَبَهٍ
- kemiripan
- افْتِقَارٍ
- kebutuhan kepada pelengkap
03 Pahami kaidahnya
Apa yang berubah?
Pada جَاءَ زَيْدٌ, رَأَيْتُ زَيْدًا, dan مَرَرْتُ بِزَيْدٍ, akhir Zaid berbeda menurut kedudukan dan pengaruh amilnya. Inilah contoh isim mu‘rab. Isim mabni mempertahankan bentuk bina ketika kedudukannya berubah: هَذَا tetap berbentuk hadza dalam جَاءَ هَذَا, رَأَيْتُ هَذَا, dan مَرَرْتُ بِهَذَا. Tetapnya bentuk tidak menghapus fungsi sintaksisnya.
Empat penjelasan dalam nazam
Bait 16–17 menyebut syabah wadhi, maknawi, niyabi, dan iftiqari. Contoh wadhi ialah ta dan na dalam جِئْتَنَا yang pendek bentuknya seperti sejumlah huruf. Contoh maknawi ialah مَتَى untuk tanya atau syarat dan هُنَا untuk isyarat. Niyabi ialah isim fi‘il yang menggantikan kerja fi‘il tanpa menerima perubahan i‘rab. Iftiqar ialah kebutuhan tetap kepada pelengkap, seperti الَّذِي yang memerlukan shilah.
Gunakan penjelasan ini dengan batasnya
Syabah adalah penjelasan nahwu terhadap kelompok kata; bukan rumus bahwa setiap kata pendek pasti mabni. Lafaz يَدٌ, misalnya, tetap mu‘rab. Isim mu‘rab pada bait 18 ialah yang selamat dari kemiripan yang menyebabkan bina. Ada mu‘rab yang tandanya tampak dan ada yang diperkirakan. Karena itu, penampilan akhir yang sama pada beberapa kalimat belum cukup untuk menyimpulkan suatu kata mabni.
Pendalaman & batas penerapan
Pada bab-bab berikut ada rincian dan pengecualian untuk kelompok seperti isim isyarah dan isim maushul. Jangan menyatakan seluruh anggota setiap kelompok pasti mabni tanpa pengecualian. Kata سُمَا pada bait 18 ialah salah satu bentuk bahasa untuk isim; rujukan syarah menjelaskannya sebagai contoh i‘rab yang diperkirakan.
04 Uraikan kalimatnya
رَأَيْتُ هَذَا
Aku melihat orang ini.
Lihat analisis i‘rab
رَأَيْتُ: fi‘il madhi dan ta fa‘il. هَذَا: isim isyarah mabni pada sukun dalam kedudukan nashab sebagai maf‘ul bih. Bentuknya tetap, tetapi kedudukannya nashab.
جِئْتَنَا
Engkau datang kepada kami.
Lihat analisis i‘rab
جِئْتَ: fi‘il madhi mabni pada sukun, ta adalah dhamir mabni pada fathah dalam kedudukan rafa‘ sebagai fa‘il. نَا adalah dhamir mabni pada sukun dalam kedudukan nashab sebagai maf‘ul bih. Dua isim yang ditunjuk bait ialah ta dan na.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apa beda Zaid dan hadza ketika menjadi objek?
Buka pembahasan
Zaid menampakkan fathah: زَيْدًا. Hadza tetap هَذَا, tetapi berada dalam kedudukan nashab.
Apa dua isim dalam جِئْتَنَا?
Buka pembahasan
Ta pelaku dan na sebagai objek; bukan keseluruhan lafaz ji’tana.
Apakah setiap kata pendek mabni?
Buka pembahasan
Tidak. Syabah wadhi dibaca dalam penjelasan kelompok kata, bukan sebagai aturan jumlah huruf untuk semua isim.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 28–36 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.