Empat keadaan i‘rab dan tanda asal
أنواع الإعراب وعلاماته الأصلية
Memisahkan keadaan i‘rab, fungsi kata, dan tanda yang menunjukkan keadaan tersebut.
01 Baca matannya
وَالرَّفْعَ وَالنَّصْبَ اجْعَلَنْ إِعْرَابَا
لِاسْمٍ وَفِعْلٍ نَحْوُ لَنْ أَهَابَا
Terjemahan maksud
Rafa‘ dan nashab menjadi keadaan i‘rab bagi isim dan fi‘il, seperti lan ahaba.
وَالِاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا
قَدْ خُصِّصَ الْفِعْلُ بِأَنْ يَنْجَزِمَا
Terjemahan maksud
Isim memiliki jar secara khusus, sebagaimana fi‘il memiliki jazm secara khusus.
فَارْفَعْ بِضَمٍّ وَانْصِبَنْ فَتْحًا وَجُرْ
كَسْرًا كَذِكْرُ اللَّهِ عَبْدَهُ يَسُرْ
Terjemahan maksud
Tandai rafa‘ dengan dhammah, nashab dengan fathah, dan jar dengan kasrah, seperti pada “dzikrullahi ‘abdahu yasurru”.
وَاجْزِمْ بِتَسْكِينٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ
يَنُوبُ نَحْوُ جَا أَخُو بَنِي نَمِرْ
Terjemahan maksud
Tandai jazm dengan sukun. Tanda lain dapat menggantikannya, seperti dalam “telah datang saudara Bani Namir”.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- الرَّفْعَ
- rafa‘
- النَّصْبَ
- nashab
- الْجَرِّ
- jar
- يَنُوبُ
- menggantikan
03 Pahami kaidahnya
Empat keadaan, bukan empat bunyi semata
Isim dapat rafa‘, nashab, atau jar; mudhari‘ yang mu‘rab dapat rafa‘, nashab, atau jazm. Isim tidak dijazmkan dan fi‘il tidak dijarkan. Rafa‘ dan nashab terdapat pada kedua jenis itu, sedangkan jar khusus isim dan jazm khusus fi‘il. Istilah marfu‘ atau manshub menyatakan keadaan kata, bukan semata bunyi akhirnya.
Tentukan fungsi sebelum tanda
Dalam contoh sederhana, fa‘il itu marfu‘ dan maf‘ul bih itu manshub. Setelah menentukan fungsi, periksa jenis katanya untuk menetapkan tanda. Tanda asal rafa‘ ialah dhammah; nashab fathah; jar kasrah; jazm sukun. Tetapi tanda dapat diganti: أَخُو pada bait 26 marfu‘ dengan waw. Inilah pengantar bagi kelompok tanda pengganti pada pelajaran-pelajaran berikutnya.
Membaca contoh padat di dalam bait
Ungkapan ذِكْرُ اللَّهِ عَبْدَهُ يَسُرُّ berarti “Allah mengingat hamba-Nya menggembirakan”. ذِكْرُ menjadi mubtada; lafaz Allah mudhaf ilaih secara lafaz dan pelaku dari mashdar secara makna; عَبْدَهُ adalah objek mashdar. Penempatan contoh ini menunjukkan bahwa tiga tanda i‘rab dapat muncul dalam satu rangkaian. Untuk latihan awal, kita mulai dari kalimat yang lebih sederhana.
Pendalaman & batas penerapan
Satu label i‘rab dapat memiliki tanda berbeda sesuai kelompok kata. Karena itu “marfu‘ dengan waw” tidak bertentangan dengan “rafa‘ bertanda asal dhammah”. Yang pertama menyebut pengecualian tanda, bukan keadaan i‘rab yang baru.
04 Uraikan kalimatnya
قَرَأَ الطَّالِبُ الْكِتَابَ
Siswa membaca buku.
Lihat analisis i‘rab
قَرَأَ: madhi mabni pada fathah. الطَّالِبُ: fa‘il marfu‘ dengan dhammah. الْكِتَابَ: maf‘ul bih manshub dengan fathah. Fathah pada kata kerja adalah bina; fathah pada objek adalah i‘rab.
لَمْ يَجْلِسْ فِي الْبَيْتِ
Ia tidak duduk di rumah.
Lihat analisis i‘rab
يَجْلِسْ: mudhari‘ majzum oleh lam, tandanya sukun; fa‘ilnya هو yang tersembunyi. فِي: huruf jar. الْبَيْتِ: majrur dengan kasrah.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Apa dua keadaan yang dimiliki isim dan mudhari‘ mu‘rab?
Buka pembahasan
Rafa‘ dan nashab. Jar khusus isim, jazm khusus fi‘il.
Mengapa الطالبُ pada قَرَأَ الطَّالِبُ berakhir dhammah?
Buka pembahasan
Karena menjadi fa‘il yang marfu‘, dan isim tunggal ini menggunakan dhammah sebagai tanda rafa‘.
Apakah fathah selalu berarti nashab?
Buka pembahasan
Tidak. Fathah pada كَتَبَ adalah tanda bina fi‘il madhi.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 41–43 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.