Asma sittah dan syarat i‘rab huruf
الأسماء الستة
Menggunakan waw, alif, dan ya pada asma sittah dengan memeriksa syaratnya.
Bekal sebelum membaca
Pelajaran 7: keadaan i‘rab dapat ditandai huruf pengganti harakat.
Buka pengantar dasar ↗01 Baca matannya
وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالْأَلِفْ
وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الْأَسْمَا أَصِفْ
Terjemahan maksud
Rafa‘kan dengan waw, nashabkan dengan alif, dan jarkan dengan ya isim-isim yang akan kusebutkan.
مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا
وَالْفَمُ حَيْثُ الْمِيمُ مِنْهُ بَانَا
Terjemahan maksud
Di antaranya dzu jika bermakna pemilik, serta fam apabila huruf mimnya dilepaskan.
أَبٌ أَخٌ حَمٌ كَذَاكَ وَهَنْ
وَالنَّقْصُ فِي هَذَا الْأَخِيرِ أَحْسَنْ
Terjemahan maksud
Juga ab, akh, ham, dan han. Pada kata terakhir, pemakaian bentuk pendek lebih baik.
وَفِي أَبٍ وَتَالِيَيْهِ يَنْدُرُ
وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ
Terjemahan maksud
Pada ab dan dua kata sesudahnya, bentuk pendek itu jarang; pemakaian alif dalam semua keadaan lebih masyhur daripada bentuk pendek tersebut.
وَشَرْطُ ذَا الْإِعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لَا
لِلْيَا كَجَا أَخُو أَبِيكَ ذَا اعْتِلَا
Terjemahan maksud
Syarat i‘rab ini ialah kata-kata itu diidhafahkan kepada selain ya pembicara, seperti “saudara ayahmu datang dengan memiliki kedudukan tinggi”.
02 Kosakata kunci
Pilihan istilah dan frasa penting pada pelajaran ini.
- ذُو
- pemilik
- بَانَا
- terpisah atau terlepas
- النَّقْصُ
- bentuk pendek dengan i‘rab harakat
- يُضَفْنَ
- diidhafahkan
03 Pahami kaidahnya
Enam kata yang dibahas
Kata-katanya ialah أَبٌ, أَخٌ, حَمٌ, فَمٌ, ذُو, dan هَنٌ. Dzu harus bermakna pemilik, dan fam memakai bentuk tanpa mim seperti فُوكَ. Dengan syaratnya, rafa‘ ditandai waw, nashab alif, dan jar ya. Bandingkan أَبُوكَ, أَبَاكَ, dan أَبِيكَ. Hubungan kekerabatan atau arti kata tidak menentukan i‘rab; fungsi dalam kalimatlah yang menentukan.
Periksa syarat sebelum mengganti tanda
Kata harus berbentuk tunggal, bukan tashghir, dan diidhafahkan kepada selain ya pembicara. Dalam جَاءَ أَبٌ, kata ab tidak diidhafahkan sehingga tanda rafa‘nya dhammah. Dalam جَاءَ أَبِي, mudhaf kepada ya pembicara tidak memakai waw sebagai tanda rafa‘; tanda diperkirakan pada huruf sebelum ya. Dalam bentuk ganda, ia mengikuti i‘rab mutsanna.
Mengapa sering disebut asma khamsah?
Han adalah kata kinayah yang antara lain digunakan untuk sesuatu yang tidak disebut terus terang. Pada kata ini, nazam mengutamakan bentuk pendek yang memakai harakat. Karena kelaziman tersebut, pembelajaran dasar sering memusatkan lima kata lainnya. Bait 30 juga mencatat bahasa qashr dan naqsh pada ab, akh, dan ham. Itu catatan variasi bahasa; pola utama latihan kita tetap waw, alif, dan ya dengan syaratnya.
Pendalaman & batas penerapan
Qashr dalam pembahasan ab dan saudaranya berarti penggunaan alif pada ketiga keadaan; naqsh berarti menghilangkan huruf tambahan dan menggunakan harakat. Jangan menyamakan qashr sebagai variasi ini dengan seluruh pembahasan isim maqshur tanpa melihat konteks.
04 Uraikan kalimatnya
جَاءَ أَبُوكَ
Ayahmu datang.
Lihat analisis i‘rab
أَبُو: fa‘il marfu‘ dengan waw karena termasuk asma sittah dan memenuhi syarat; ia mudhaf. Kaf dhamir dalam kedudukan jar sebagai mudhaf ilaih.
رَأَيْتُ أَبَاكَ وَمَرَرْتُ بِأَبِيكَ
Aku melihat ayahmu dan melewati ayahmu.
Lihat analisis i‘rab
أَبَا: maf‘ul bih manshub dengan alif. أَبِي setelah ba: majrur dengan ya. Kaf pada keduanya mudhaf ilaih, bukan penanda i‘rab.
05 Uji pemahamanmu
Coba jawab dengan alasan sebelum membuka pembahasan.
Lengkapi رَأَيْتُ ... dengan “ayahmu”.
Buka pembahasan
أَبَاكَ, karena maf‘ul bih manshub dengan alif.
Mengapa جَاءَ أَبٌ tidak memakai waw?
Buka pembahasan
Karena ab tidak diidhafahkan; ia dii‘rabkan dengan harakat.
Apa syarat khusus ذُو?
Buka pembahasan
Bermakna صاحب, yakni pemilik; bukan setiap lafaz dzu dalam semua pemakaian.
Kemajuan tersimpan di perangkat ini.
Rujukan pelajaran
Syarah Ibnu Aqil · jilid 1 · halaman 43–54 ↗
Tautan membuka awal rentang pembahasan. Catatan kaki dalam edisi ini dapat berasal dari penyunting; uraian pelajaran disusun kembali dalam bahasa Indonesia.