Tujuan pelajaran
• Membedakan membaca lirih dari tidak melafalkan.
• Memilih cara memulai dan mengetahui kapan isti‘adzah diulang.
Pustaka Temas · Seri Belajar
27 pelajaran perbandingan sughra dan kubra
Kaidah, tabel, contoh, dan latihan
Pendamping belajar Al-Jami‘ fi Usul al-Qira’at al-‘Asyr
Edisi 1 · Oktober 2026
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah; selawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Buku ini berisi pelajaran usul qiraat sepuluh dan perbandingan sughra dengan kubra, yang disusun dari kitab Al-Jami‘ fi Usul al-Qira’at al-‘Asyr.
Pelajaran ditujukan bagi pembaca yang telah mengenal dasar tajwid dan ingin memahami kaidah perbedaan para qari. Setiap pelajaran dimulai dengan istilah, lalu tabel pilihan, dua contoh terbimbing, dua catatan, dan tiga latihan. Kunci jawaban tersedia di bagian akhir.
Ini merupakan edisi belajar dengan materi yang dipilih untuk membangun pemahaman sebelum mendalami cabang tariq dan pengecualiannya. Karena itu, contoh selalu dibaca bersama nama qari serta keadaan wasal atau wakafnya. Rincian dirujukkan ke nomor materi dalam Al-Jami‘. Pembahasan farasy surah merupakan tema buku tersendiri.
Edisi Arab mempunyai terjemahan Indonesia yang sejajar, dengan tambahan penjelasan belajar berbahasa Indonesia. Nomor pelajaran, contoh, dan latihan sama dalam kedua edisi. Pahami rumusannya sebelum berlatih; cara melafalkan bacaan dipelajari melalui musyafahah.
| Langkah | Kegiatan |
|---|---|
| Persiapan | Baca dua atau tiga istilah di awal pelajaran, lalu tentukan istilah yang sudah dan belum dipahami. |
| Bandingkan | Tentukan qari atau perawi, dan tariq bila disebutkan. Setelah itu, bandingkan sughra dengan kubra sesuai batas masalahnya. |
| Penerapan | Ikuti langkah contoh dan bedakan keadaan wasal dari wakaf. Latihkan pelafalannya bersama pengajar yang menguasai bacaan tersebut. |
| Latihan | Tulis jawaban tiga soal, cocokkan dengan kunci, lalu telusuri sebab kesalahan bila ada. |
| Pendalaman | Buka rujukan Al-Jami‘ untuk menelusuri sumber, cabang tariq, atau pengecualian lainnya. |
| Tahap | Ringkasan |
|---|---|
| Talaqqi | Landasan qiraat adalah periwayatan dan pembelajaran lisan. Nisbah kepada seorang imam menunjukkan pilihan, penguasaan, dan periwayatannya. |
| Pusat pengajaran | Pusat pengajaran qiraat berkembang di Madinah, Makkah, Bashrah, Syam, dan Kufah. Secara historis, periwayatan setiap imam tidak terbatas pada dua perawi yang kemudian dikenal luas. |
| Penulisan kitab | Di antara penyusun terdahulu ialah Abu ‘Ubaid, Isma‘il al-Qadhi, ath-Thabari, dan ad-Dajuni. Kitab mereka mempunyai cakupan qiraat dan riwayat yang berbeda. |
| Tujuh imam | Ibn Mujahid memilih tujuh imam dalam kitabnya. Tujuh imam tersebut bukan makna dari istilah tujuh ahruf. |
| Syathibiyyah | Di antara rujukan terkenal qiraat tujuh ialah at-Taysir karya ad-Dani dan Hirz al-Amani karya asy-Syathibi. |
| Kitab Ibn al-Jazari | Ibn al-Jazari menghimpun jalur qiraat sepuluh dalam an-Nasyr dan ath-Thayyibah. Ad-Durrah melengkapi qiraat tujuh dengan qiraat Abu Ja‘far, Ya‘qub, dan Khalaf. |
Al-Jami‘, bagian pendahuluan; lihat juga pengantar an-Nasyr tentang penghimpunan qiraat dan sanad.
| Istilah | Pengertian |
|---|---|
| القراءة | Bacaan yang dinisbatkan kepada seorang imam qiraat, seperti qiraat Nafi‘. |
| الرواية | Bacaan yang dinisbatkan kepada perawi dari seorang imam, seperti Warsy dari Nafi‘. Sanad dapat menunjukkan perantara dalam periwayatannya. |
| الطريق | Jalur yang dinisbatkan kepada penukil dari perawi atau dari tingkatan sesudahnya, seperti al-Azraq dari Warsy. |
| الوجه | Cara membaca pada suatu masalah. Wajah dapat terikat pada tariq tertentu atau berupa pilihan dalam pelaksanaan bacaan pada tempatnya. |
| الصغرى | Qiraat sepuluh melalui jalur asy-Syathibiyyah dan ad-Durrah. |
| الكبرى | Qiraat sepuluh melalui jalur ath-Thayyibah dengan penjelasan an-Nasyr. Cakupan tariq-nya lebih luas; setiap riwayat menyendiri dalam an-Nasyr tidak otomatis menjadi pilihan yang digunakan. |
| التحرير | Penetapan nisbah wajah kepada tariq, serta penjelasan wajah yang boleh dan tidak boleh digabungkan. |
Nama tariq menunjukkan jalur periwayatan. Adanya dua wajah dalam satu riwayat belum berarti keduanya boleh digabungkan pada satu tariq.
| Imam | Dua perawi |
|---|---|
| نافع المدني | قالون، ورش |
| ابن كثير المكي | البزي، قنبل |
| أبو عمرو البصري | الدوري عن أبي عمرو، السوسي |
| ابن عامر الشامي | هشام، ابن ذكوان |
| عاصم الكوفي | شعبة، حفص |
| حمزة الزيات | خلف عن حمزة، خلاد |
| الكسائي | أبو الحارث، الدوري عن الكسائي |
| أبو جعفر المدني | ابن وردان، ابن جماز |
| يعقوب الحضرمي | رويس، روح |
| خلف العاشر | إسحاق الوراق، إدريس الحداد |
Selalu bedakan ad-Duri dari Abu ‘Amr dengan ad-Duri dari al-Kisa’i, serta Khalaf dari Hamzah dengan Khalaf sebagai imam kesepuluh.
| Tahap | Pelajaran dan kegiatan |
|---|---|
| 1: Landasan | Pelajaran 1–6: isti‘adzah, basmalah, dhamir, idgham kabir, dan ha kinayah. Fokus pada pembaca dan batas penerapan kaidah. |
| 2: Mad dan hamzah | Pelajaran 7–13: mad, jenis-jenis hamzah, naql, sakt, dan wakaf pada hamzah. Bedakan perubahan bunyi huruf dari perubahan panjang bacaan. |
| 3: Idgham dan imalah | Pelajaran 14–19: idgham shaghir, nun, imalah, ra, dan lam. Perhatikan syarat dan lafaz yang dikecualikan. |
| 4: Wakaf dan ya | Pelajaran 20–23: akhir kata, rasm, ya idhafah, dan ya zawaid. Bedakan keadaan wasal dan wakaf pada setiap contoh. |
| 5: Menghubungkan kaidah | Pelajaran 24–27: ibtida, pertemuan dua sukun, takbir, dan tahrir. Ulangi contoh pilihan dengan menyebutkan tariq-nya. |
Kita mulai dari bacaan sebelum tilawah, lalu membedakan suara lantang dan lirih, serta berhenti dan menyambung. Hukum pilihan dalam pelajaran ini sama pada shugra dan kubra; tidak setiap masalah memiliki tambahan wajah. Tujuannya ialah mengenali sebab hukum: cara membaca isti‘adzah dapat berubah karena keadaan membaca berubah, meskipun pembacanya tetap. Karena itu, bedakan masalah lafaz dari masalah konteks.
• Membedakan membaca lirih dari tidak melafalkan.
• Memilih cara memulai dan mengetahui kapan isti‘adzah diulang.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الاستعاذة | Mengucapkan a‘udzu billahi minasy-syaithanir-rajim sebelum membaca. |
| الإسرار | Melafalkan dengan suara lirih, bukan hanya mengucapkannya dalam hati. |
| الوصل | Meneruskan bacaan sesudah isti‘adzah tanpa berhenti padanya. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Lafaz dan waktu Sepuluh imam | A‘udzu billahi minasy-syaithanir-rajim sebelum membaca. | Lafaz yang sama, sebelum membaca. |
| Tambahan dan perubahan harus didukung riwayat yang sah. | ||
| Lantang dan lirih Sepuluh imam | Lantang di hadapan pendengar; dianjurkan lirih ketika sendiri atau membaca lirih. | Lantang dan lirih dengan ketentuan yang sama. |
| Ini berkaitan dengan keadaan saat membaca. | ||
| Bersama basmalah dan awal surah Sepuluh imam | Empat cara: berhenti pada kedua batas; menyambung semua; hanya memisahkan isti‘adzah; hanya memisahkan awal surah. | Keempat cara tersebut berlaku ketika memulai dengan basmalah. |
| Boleh memilih; tidak perlu membacakan semuanya setiap kali. Al-Jami‘, materi: 15. | ||
| Pertanyaan tentang bacaan Sepuluh imam | Isti‘adzah tidak diulang ketika melanjutkan sesudahnya. | Tidak diulang karena jeda tersebut. |
| Misalnya pertanyaan tentang cara membaca. Al-Jami‘, materi: 19. | ||
| Percakapan lain dan meninggalkan bacaan Sepuluh imam | Isti‘adzah diulang ketika kembali membaca. | Diulang pula ketika kembali membaca. |
| Bedakan dari pertanyaan yang berkaitan dengan tilawah. Al-Jami‘, materi: 20. | ||
Pisahkan dua keputusan: seberapa terdengar isti‘adzah dan di mana Anda berhenti. Suara lirih tetap berupa pelafalan. Setelah itu, pilih salah satu susunan sambungan yang dibolehkan ketika isti‘adzah diikuti basmalah dan awal surah.
Kesamaan shugra dan kubra pada tabel ini tetap penting: kita belajar bahwa perluasan jalur tidak otomatis mengubah setiap hukum. Untuk melanjutkan bacaan setelah jeda, lihat penyebab jedanya. Pertanyaan tentang bacaan berbeda hukumnya dari percakapan yang tidak berkaitan dengannya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Bagaimana memulai di hadapan pendengar?
1. Lafalkan sebelum membaca.
2. Bacalah lantang sesuai keadaan tersebut.
3. Pilih berhenti setelah isti‘adzah, lalu sambungkan basmalah dengan awal surah; ini salah satu dari empat cara.
4. Jika memilih menyambung, terapkan hukum washal pembacanya, termasuk gugurnya hamzah washal berikutnya; menyambung bukan sekadar menghilangkan jeda.
سؤال عن القراءة — كلام أجنبي
Apakah setiap jeda mengharuskan pengulangan isti‘adzah?
1. Kenali dahulu penyebab jeda.
2. Sesudah pertanyaan tentang bacaan, lanjutkan tanpa mengulangnya.
3. Sesudah percakapan lain, ulangi isti‘adzah lalu lanjutkan bacaan.
• Membaca isti‘adzah lirih bukan hukum ikhfa nun dan bukan tanpa pelafalan.
• Adanya lafaz lain yang diriwayatkan tidak membolehkan kita menciptakan lafaz sendiri.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
1.1 — Kapan lafaz pilihan diucapkan?
1.2 — Bolehkah menyambung isti‘adzah dengan basmalah, lalu berhenti saat memulai?
1.3 — Murid bertanya tentang cara membaca, lalu melanjutkan: apakah perlu mengulang?
Pertanyaan pertama: apakah saya memulai surah secara tersendiri atau menyambungkannya dari surah sebelumnya? Konteks ini menentukan hukum. Setelah itu, periksa bacaan imam dan bedakan basmalah, sakt, serta washal sebelum memilih cara melafalkan. Perbandingannya menyangkut keadaan pelafalan: sakt menghentikan suara tanpa napas, waqaf pada contoh berikut disertai pengambilan napas, sedangkan washal meneruskan pelafalan tanpa pemisahan tersebut.
• Membedakan permulaan mandiri dari perpindahan antar-surah.
• Menerapkan cara yang dibolehkan tanpa menisbatkan semua wajah kepada setiap jalur.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| البسملة | Mengucapkan bismillahir-rahmanir-rahim. |
| السكت | Menghentikan suara sejenak tanpa mengambil napas dan tanpa basmalah di antara dua surah. |
| الوصل بلا بسملة | Menyambung akhir surah dengan awal berikutnya menurut hukum washal. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Memulai awal surah Sepuluh imam | Basmalah pada awal setiap surah selain Bara’ah. | Basmalah dengan batasan yang sama. |
| Berlaku juga bagi imam yang menyambung antar-surah tanpa basmalah. Al-Jami‘, materi: 61. | ||
| Pemisahan dengan basmalah Qalun, Ibn Katsir, ‘Ashim, al-Kisa’i, dan Abu Ja‘far | Basmalah di antara dua surah, selain menuju awal Bara’ah. | Basmalah di antaranya dengan pengecualian yang sama. |
| Cara menyambungkan basmalah dibahas tersendiri. | ||
| Perpindahan pada Hamzah Khalaf dan Khallad dari Hamzah | Menyambung tanpa basmalah. | Menyambung tanpa basmalah. |
| Ketentuan ini tidak diterapkan pada permulaan mandiri. Al-Jami‘, materi: 34. | ||
| Wajah al-Azraq Warsy melalui al-Azraq | Basmalah, sakt, dan washal. | Ketiga wajah dengan memperhatikan jalurnya. |
| Kesamaan daftar tidak membolehkan mencampurnya dengan setiap pilihan ushul. Al-Jami‘, materi: 29. | ||
| Al-Anfal dan Bara’ah Sepuluh imam | Waqaf, sakt, atau washal; tanpa basmalah. | Ketiga cara juga tanpa basmalah. |
| Tidak ada basmalah pula saat memulai Bara’ah secara tersendiri. | ||
Konteks lebih dahulu daripada nama imam. Ketentuan Hamzah menyambung tanpa basmalah berlaku pada perpindahan antar-surah; ketika memulai surah secara mandiri, basmalah tetap dibaca selain pada Bara’ah. Karena itu, satu rumusan pendek tidak boleh dipindahkan ke keadaan yang berbeda.
Setelah memastikan bahwa basmalah dibaca, barulah memilih susunan berhenti dan menyambung. Pilihan susunan ini berbeda dari perbedaan riwayat atau jalur: keberadaan tiga wajah pada al-Azraq tidak berarti setiap wajah boleh dicampurkan dengan seluruh pilihan ushul lainnya.
آخر السورة — البسملة — أول التالية
Apa pilihan bagi pembaca yang memakai basmalah di antara dua surah?
1. Boleh berhenti pada akhir surah lalu berhenti lagi pada basmalah.
2. Boleh berhenti pada akhir surah lalu menyambung basmalah dengan surah berikutnya, atau menyambung semuanya.
3. Tidak boleh menyambung akhir surah dengan basmalah lalu berhenti pada basmalah sebelum surah berikutnya.
4. Pilih salah satu cara yang dibolehkan untuk dibaca; tidak perlu membacakan semuanya pada setiap perpindahan.
الأنفال — براءة
Bagaimana membedakan waqaf dan sakt di sini?
1. Dalam waqaf, suara dihentikan disertai pengambilan napas.
2. Dalam sakt, suara dihentikan sebentar tanpa mengambil napas.
3. Mulai Bara’ah tanpa basmalah pada keduanya; washal adalah cara ketiga.
• Sakt bukan basmalah yang dilirihkan dan bukan waqaf dengan mengambil napas.
• Jangan mencampurkan tiga susunan antar-surah dengan empat susunan isti‘adzah bersama basmalah.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
2.1 — Apakah Hamzah memulai surah selain Bara’ah tanpa basmalah?
2.2 — Bolehkah menyambung semuanya bagi yang memakai basmalah?
2.3 — Haruskah semua susunan basmalah diulang setiap berpindah surah?
Pelajaran ini memeriksa harakat ha pada dhamir mutsanna dan jamak. Bedakan ya sukun yang tetap, ya berharakat, dan ya yang dihapus. Dhammah pada ha tidak otomatis berarti mim dibaca bersilah atau ada tambahan ha saat waqaf.
• Menentukan bentuk dhamir dan huruf sebelum ha.
• Membedakan kaidah umum Ya‘qub dari tempat yang khusus bagi Ruwais.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| هاء التثنية والجمع | Ha dalam bentuk seperti fihima, fihinna, dan aidihim; berbeda dari ha tunggal. |
| الياء الساكنة الثابتة | Ya sukun yang tetap sebelum ha, seperti pada فيهما. |
| الياء المحذوفة | Ya yang dihapus karena jazm atau bentuk bina; contohnya يأتهم pada tempat yang telah disebutkan. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Tiga kata: عليهم، إليهم، لديهم Hamzah dan Ya‘qub; serta imam lainnya | Keduanya mendhammahkan ha; yang lain mengkasrahkannya sebelum huruf berharakat dan ketika waqaf. | Pembagiannya sama pada tiga kata tersebut. |
| Jika sesudahnya sukun, periksa hukum pertemuan dua sukun. | ||
| Dhamir lainnya sesudah ya sukun Ya‘qub; serta imam lainnya | Ya‘qub membaca dhammah; lainnya kasrah. | Ya‘qub membaca dhammah; lainnya kasrah. |
| Hamzah tidak menyamakan فيهما dengan tiga kata sebelumnya. | ||
| أيديَهُنَّ dalam Surah Yusuf Sepuluh imam | Ha dibaca dhammah. | Ha dibaca dhammah. |
| Ya berfathah; perbedaan sesudah ya sukun tidak berlaku. Al-Jami‘, materi: 84. | ||
| يأتهم pada tiga tempatnya Ruwais; serta pembaca lainnya | Ruwais mendhammahkan ha; lainnya mengkasrahkannya. | Hukumnya sama pada tempat-tempat ini. |
| Tempatnya: al-A‘raf 169, at-Taubah 70, dan Yunus 39. Rauh tidak disamakan dengan Ruwais; ya yang dihapus memiliki hukum berbeda dari ya yang tetap. | ||
| يغنهم الله Ruwais | Ha dibaca dhammah. | Dhammah atau kasrah menurut jalur. |
| Perbedaan mim mengikuti ha di sini; rinciannya terdapat pada bab mim. Al-Jami‘, materi: 94. | ||
Jangan membaca nama kata tanpa melihat bentuknya. أيديهن pada satu tempat dapat memiliki ya yang berbeda harakatnya dari tempat lain. Kaidah sesudah ya sukun hanya bekerja jika syarat itu benar-benar ada; inilah alasan contoh Surah Yusuf tidak dimasukkan ke dalam perbedaannya.
Periksa setiap unsur secara terpisah: harakat ha, hukum mim, dan keadaan waqaf. Kemudian hubungkan kembali sesuai ketentuan. Ruwais dan Rauh sama-sama meriwayatkan Ya‘qub, tetapi keduanya tidak selalu mempunyai hukum yang sama sesudah ya yang dihapus.
فيهما
Bagaimana membandingkan Ya‘qub dengan Hamzah?
1. Dhamirnya berbentuk mutsanna dan ya sebelum ha sukun.
2. Ya‘qub mendhammahkan ha.
3. Hamzah di sini mengkasrahkannya karena kata ini bukan termasuk tiga kata khusus tadi.
4. Contoh yang disebut dalam kitab berasal dari ar-Rahman 50; yang diperiksa hanya harakat ha, tanpa menarik hukum waqaf lain darinya.
أيديَهُنَّ
Apakah kata ini masuk dalam perbedaan setelah ya sukun?
1. Contoh ini berasal dari Surah Yusuf.
2. Ya berfathah, bukan sukun.
3. Ha dibaca dhammah oleh semuanya; jangan samakan dengan أيديهن dalam al-Mumtahanah.
• Khalaf dari Hamzah berbeda dari Khalaf al-‘Asyir: yang kedua mengkasrahkan ha tiga kata tadi pada keadaan yang dijelaskan.
• Dhammah pada ha tidak menetapkan silah mim, dan kaidah ini tidak mencakup ha tunggal.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
3.1 — Bolehkah فيه disamakan dengan فيهما dalam dhammah Ya‘qub?
3.2 — Apakah Rauh mendhammahkan ha يأتهم seperti Ruwais?
3.3 — Apakah kasrah Ruwais pada يغنهم الله berlaku pada setiap jalur?
Setelah mengetahui harakat ha, periksa mim: apakah sesudahnya huruf berharakat atau sukun? Apakah bacaan disambung atau dihentikan? Silah bukan sekadar dhammah pada mim; mim dapat didhammahkan untuk mengatasi pertemuan dua sukun tanpa waw silah.
• Membedakan silah mim dari dhammah tanpa silah.
• Menentukan hukum mim ketika washal lalu menerapkan hukum ketika waqaf.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| صلة الميم | Membaca mim dengan dhammah disertai waw yang dilafalkan saat washal pada tempat yang ditetapkan. |
| إسكان الميم | Melafalkan mim sukun tanpa waw silah. |
| إتباع الميم للهاء | Pada Ya‘qub sebelum sukun: mim mengikuti dhammah atau kasrah ha, tanpa silah. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Sebelum huruf berharakat: kaidah dasar Ibn Katsir dan Abu Ja‘far; serta kelompok yang membaca sukun | Dua imam pertama memakai silah; Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Ya‘qub, dan Khalaf al-‘Asyir membaca sukun. | Ketentuan dasar ini sama. |
| Pembahasan ini berlaku saat washal sebelum huruf berharakat. | ||
| Perbedaan pada Qalun Qalun | Sukun dan silah. | Sukun dan silah menurut sumber jalur. |
| Tidak setiap kitab meriwayatkan kedua wajah. Al-Jami‘, materi: 115. | ||
| Hamzah qatha‘ dan selainnya Warsy | Silah sebelum hamzah qatha‘; sukun sebelum huruf berharakat lainnya. | Kaidah berlaku bagi al-Azraq dan al-Ashbahani; panjang mad mengikuti jalur. |
| Ada-tidaknya silah berbeda dari kadar panjangnya. Al-Jami‘, materi: 116. | ||
| Sebelum sukun setelah ha Abu ‘Amr; serta Nafi‘, Ibn Katsir, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, dan Abu Ja‘far | Abu ‘Amr mengkasrahkan ha dan mim; kelompok kedua mengkasrahkan ha dan mendhammahkan mim, tanpa silah. | Pembagian yang sama tanpa silah. |
| Syaratnya ha didahului kasrah atau ya sukun; pembaca lain memiliki perincian tersendiri. | ||
| Waqaf pada mim Sepuluh imam | Mim disukunkan dan waw silah dihilangkan. | Mim juga disukunkan dan waw dihilangkan. |
| Ha kembali mengikuti kaidah pembaca pada kata tersebut. Al-Jami‘, materi: 137. | ||
Cara paling praktis ialah memeriksa huruf sesudah mim. Jika berharakat, gunakan kelompok pembacanya: misalnya Ibn Katsir bersilah, sedangkan Warsy membedakan hamzah qatha‘ dari huruf lainnya. Jika sesudahnya sukun, jangan membawa waw silah dari kaidah sebelumnya.
Waqaf mengubah keadaan pertemuan huruf. Pada بهم الأسباب, misalnya, dhammah mim saat washal tidak dipertahankan ketika berhenti pada بهم. Karena itu, latihan sebaiknya selalu membandingkan satu bentuk washal dengan bentuk waqafnya, sambil memeriksa ha dan mim secara terpisah.
عليهم غير
Bagaimana mim dibaca saat washal oleh Ibn Katsir dan Warsy?
1. Ghain berharakat dan bukan hamzah qatha‘.
2. Ibn Katsir mendhammahkan mim dan menyilahkannya dengan waw.
3. Warsy mensukunkan mim; apabila berhenti pada mim, silah dihilangkan bagi semua pembaca.
بهم الأسباب
Bandingkan washal Hafsh dengan waqaf pada بهم.
1. Ketika washal, mim diikuti sukun dan ha didahului kasrah.
2. Hafsh dari ‘Ashim mengkasrahkan ha dan mendhammahkan mim tanpa waw.
3. Ketika berhenti pada بهم, ha dibaca kasrah dan mim sukun.
• Jangan menganggap setiap dhammah pada mim sebagai silah; dhammah sebelum sukun di sini tanpa waw.
• Sukun mim tidak dengan sendirinya menunjukkan kasrah ha sebelumnya.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
4.1 — Apa yang tersisa dari waw silah saat waqaf?
4.2 — Apakah Warsy menyilahkan mim sebelum setiap huruf berharakat?
4.3 — Apakah dua wajah Qalun boleh dipilih dari kitab mana saja?
Tidak setiap dua huruf yang berdekatan makhrajnya boleh diidghamkan. Pertama, pahami bahwa huruf pertama di sini berharakat; kemudian kenali tempat yang diriwayatkan dan penghalangnya. Pada Abu ‘Amr, idgham berkaitan dengan ibdal hamzah dan qashr munfashil; batasan itu tidak otomatis berlaku pada imam lain.
• Membedakan idgham kabir dari sekadar pertemuan dua huruf.
• Menerapkan contoh yang diriwayatkan beserta syaratnya tanpa membuat kombinasi baru.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الإدغام الكبير | Mensukunkan huruf pertama yang semula berharakat lalu memasukkannya ke huruf kedua sehingga keduanya dilafalkan sebagai satu huruf bertasydid. |
| المانع | Keadaan yang menghalangi idgham, seperti tanwin pemisah atau tasydid pada huruf pertama. |
| طريق الإدغام | Jalur yang meriwayatkan pelafalan idgham; dalam riwayat yang sama dapat ada jalur izhar. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| As-Susi As-Susi dari Abu ‘Amr | Idgham bersama ibdal hamzah sukun yang memenuhi ketentuan dan qashr munfashil. | Idgham atau izhar menurut jalur; idgham disertai ibdal dan qashr. |
| Tambahan izhar tidak menghapus batasan idgham. Al-Jami‘, materi: 147. | ||
| Ad-Duri Ad-Duri dari Abu ‘Amr | Izhar melalui jalur asy-Syathibiyyah. | Izhar atau idgham menurut jalur; idgham disertai ibdal dan qashr. |
| Idghamnya tidak dipadukan dengan tahqiq hamzah yang semestinya diibdalkan. | ||
| Ya‘qub Ruwais dan Rauh | Kaidah umum izhar, dengan pengecualian tempat yang disebutkan dalam ad-Durrah. | Idgham umum dari al-Mishbah melalui az-Zubairi; jalur lain memakai izhar. |
| Tahqiq hamzah bersama idgham diriwayatkan di sini; jangan disamakan dengan Abu ‘Amr. Al-Jami‘, materi: 152. | ||
| مناسككم dan سلككم Abu ‘Amr | As-Susi mengidghamkan keduanya; huruf identik lain dalam satu kata dibaca izhar. | Keduanya diidghamkan melalui jalur kabir; jalur izhar tetap ada. |
| Jangan mengqiyaskan وجوههم kepada keduanya. Al-Jami‘, materi: 157. | ||
| Penghalang Abu ‘Amr melalui jalur kabir | Ta dhamir pada contohnya, tasydid huruf pertama, dan tanwin pemisah menghalangi idgham. | Penghalang yang sama berlaku beserta pengecualian yang dinyatakan. |
| جئت شيئا فريا memiliki perbedaan khusus. | ||
Pelajaran ini memiliki dua lapisan. Lapisan pertama ialah bentuk kata: ada huruf yang bertemu, syarat tertentu, serta penghalang. Lapisan kedua ialah jalur bacaan: bentuk kata yang memenuhi syarat belum cukup jika jalur yang sedang dibaca memakai izhar.
Perbandingan Susi dan Duri menunjukkan tambahan cakupan pada kubra tanpa menjadikannya pilihan bebas. Batasan Abu ‘Amr juga tidak dipindahkan kepada Ya‘qub. Latih pemeriksaan secara berurutan: pembaca dan jalur, kata yang diriwayatkan, syarat, penghalang, lalu hukum lain yang harus menyertainya.
مناسككم
Bagaimana membacanya untuk as-Susi melalui asy-Syathibiyyah?
1. Ini salah satu dari dua kata yang ditetapkan untuk huruf identik dalam satu kata.
2. As-Susi memasukkan kaf pertama ke kaf kedua.
3. Dalam bacaan, tetap ikuti ibdal hamzah yang memenuhi ketentuan dan qashr munfashil.
خلقكم — ميثاقكم — خلقك
Mengapa ketiga contoh ini berbeda bagi Abu ‘Amr melalui jalur idgham?
1. Pada خلقكم, huruf sebelum qaf berharakat dan sesudah kaf ada mim jamak; jalur kabir mengidghamkannya.
2. Pada ميثاقكم, huruf sebelum qaf sukun sehingga idgham ini terhalang.
3. Pada خلقك, tidak ada mim jamak sesudah kaf sehingga hukum ini tidak diterapkan.
• Kedekatan makhraj saja tidak menetapkan idgham yang tidak diriwayatkan.
• Jangan memadukan idgham Abu ‘Amr dengan pemanjangan munfashil atau tahqiq hamzah sukun yang memenuhi ketentuan ibdal.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
5.1 — Apakah kubra ad-Duri berarti idgham pada setiap jalur?
5.2 — Mengapa dua ‘ain pada واسع عليم tidak diidghamkan menurut bab ini?
5.3 — Apakah idgham Ya‘qub harus disertai ibdal hamzah dengan mengqiyaskan kepada Abu ‘Amr?
Yang dibahas ialah ha tunggal, bukan ha jamak. Periksa huruf sebelum dan sesudah ha ketika washal, lalu lihat pengecualiannya. Perbedaan penting bagi pemula: qashr tidak berarti sukun; kasrah atau dhammah dapat tetap dibaca tanpa ya atau waw silah.
• Membedakan iskan, qashr, dan silah.
• Menerapkan kaidah dasar lalu memeriksa pengecualian kata sebelum memutuskan.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الإسكان | Menghilangkan harakat ha dan membacanya sukun. |
| القصر هنا | Membaca ha berharakat tanpa waw atau ya silah; berbeda dari mensukunkannya. |
| الصلة | Waw yang dilafalkan sesudah dhammah ha atau ya sesudah kasrahnya ketika washal; kadar mad dibahas tersendiri. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Di antara dua huruf berharakat Sepuluh imam | Silah dengan waw untuk ha dhammah dan ya untuk ha kasrah ketika washal. | Kaidah dasarnya sama beserta pengecualian. |
| Jangan digeneralisasi pada يؤده، يرضه، dan أرجه. Al-Jami‘, materi: 248. | ||
| Sesudah sukun dan sebelum huruf berharakat Ibn Katsir; serta pembaca lainnya | Ibn Katsir memakai silah; yang lain pada dasarnya tanpa silah. | Pembagian kaidah dasarnya sama. |
| Harakat ha tetap diperhatikan; periksa kata yang dikecualikan. | ||
| فيه مهانا Hafsh | Ha disilahkan dengan ya ketika washal. | Ha disilahkan dengan ya ketika washal. |
| Al-Furqan 69; pengecualian yang tidak digeneralisasi pada setiap ha sesudah ya. Al-Jami‘, materi: 251. | ||
| Sebelum sukun Sepuluh imam | Kaidah dasarnya tanpa silah; pada بيده الملك ha kasrah tanpa silah. | Kaidah dasar dan contoh tersebut sama. |
| Periksa pengecualian, termasuk عنه تلهى bagi al-Bazzi ketika ta ditasydidkan saat washal. | ||
| يتقه Hafsh | Qaf sukun dan ha kasrah tanpa silah. | Qaf sukun dan ha kasrah tanpa silah. |
| Yang sukun ialah qaf, bukan ha. Al-Jami‘, materi: 268. | ||
Bayangkan pemeriksaan ha sebagai dua pertanyaan terpisah: harakat apa yang dibaca, dan apakah sesudah harakat itu ada silah? Jawaban “tanpa silah” belum memberitahukan bahwa ha sukun. Contoh يتقه pada Hafsh memperjelas perbedaan: qaf sukun, sedangkan ha tetap kasrah.
Kaidah letak huruf membantu menemukan dugaan awal, tetapi daftar pengecualian menentukan hasil akhirnya. Pada فيه مهانا, konteksnya sesudah sukun, namun Hafsh mempunyai silah yang khusus diriwayatkan. Karena itu, pelajaran ini tidak menambah wajah baru hanya demi membedakan shugra dan kubra; beberapa aturan memang sama pada keduanya.
فيه مهانا
Bagaimana menalar hukum Hafsh langkah demi langkah?
1. Tentukan dahulu tempat contohnya: al-Furqan 69; jangan memindahkan pengecualiannya ke tempat lain yang bentuknya serupa.
2. Sebelum ha ada ya sukun dan sesudahnya huruf berharakat.
3. Kaidah dasarnya bagi selain Ibn Katsir ialah tanpa silah dalam konteks ini.
4. Namun lafaz ini dikecualikan bagi Hafsh: ha disilahkan dengan ya ketika washal.
يتقه
Di mana letak sukun dan qashr pada bacaan Hafsh?
1. Kenali qaf dan ha sebagai dua huruf yang berbeda.
2. Qaf dibaca sukun.
3. Ha dibaca kasrah tanpa silah; inilah qashr ha, bukan iskan ha.
4. Dengan demikian, harakat huruf sebelumnya dibedakan dari hukum ha itu sendiri.
• Jangan menyamakan qashr dengan iskan; perbedaannya terdengar pada harakat ha.
• Jangan langsung menerapkan kaidah umum tanpa memeriksa kata yang dikecualikan beserta syaratnya.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
6.1 — Apa bentuk silah bagi ha kasrah pada tempat yang menetapkannya?
6.2 — Apakah tanpa silah berarti ha harus sukun?
6.3 — Apakah فيه مهانا membuktikan Hafsh menyilahkan setiap ha sesudah ya sukun?
Jangan langsung menghitung harakat sebelum mengenali sebab mad, jalur, dan keadaan washal atau waqaf. Qashr tetap mempertahankan mad alami, bukan menghapus huruf mad. Angka kadar mad membantu mendekati bacaan yang diterima melalui talaqqi, bukan izin memilih semua angka untuk setiap perawi.
• Mengelompokkan sebab sebelum menentukan kadar mad.
• Membedakan tambahan yang mengikuti jalur dari pilihan yang timbul karena waqaf.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| القصر ومراتب المد | Mempertahankan mad alami tanpa tambahan; bukan menghapus huruf mad. Tawassuth dan isyba‘ berada di atasnya dan ditentukan melalui talaqqi; adanya beberapa kadar bukan berarti kebebasan memilih tanpa batas. |
| المتصل | Huruf mad diikuti hamzah dalam kata yang sama, seperti جاء. |
| المنفصل | Huruf mad berada di akhir kata dan hamzah di awal kata berikutnya, termasuk mad yang tetap dalam pelafalan meskipun tidak dalam tulisan. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Mad muttashil Sepuluh imam | Dipanjangkan melebihi mad alami; tidak ada qashr murni padanya. | Tidak ada qashr murni padanya; kadarnya berbeda menurut jalur. |
| Ketika waqaf, jangan memperlakukannya seperti munfashil. Al-Jami‘, materi: 323. | ||
| Muttashil dan munfashil pada Hafsh Hafsh | Tawassuth pada keduanya; tidak ada qashr munfashil melalui asy-Syathibiyyah. | Terdapat tambahan qashr munfashil melalui jalur tertentu dari ‘Amr ibn ash-Shabbah. |
| Jangan digeneralisasi pada seluruh cabang ‘Amr atau dipindahkan kepada ‘Ubaid. | ||
| Mad badal Al-Azraq; serta pembaca lainnya | Al-Azraq memiliki qashr, tawassuth, dan panjang; lainnya qashr apabila tidak ada sebab lebih kuat. | Wajah al-Azraq mengikuti jalur; al-Ashbahani membaca qashr. |
| Mad al-Azraq tidak digeneralisasi kepada seluruh riwayat Warsy. Al-Jami‘, materi: 347. | ||
| Mad lazim Sepuluh imam | Isyba‘ bersama sukun asli, seperti الضالين. | Isyba‘ merupakan bacaan pilihan yang diamalkan. |
| Qashr munfashil tidak dipindahkan kepada sebab ini. Al-Jami‘, materi: 377. | ||
| Mad ‘aridh karena sukun Sepuluh imam | Qashr, tawassuth, dan panjang ketika sukun murni, juga isymam pada tempatnya. | Pilihan yang sama selama tidak menyalahi sebab yang lebih kuat. |
| Raum mengikuti kadar washal; ia tidak dengan sendirinya memunculkan pilihan mad ‘aridh. | ||
Urutan berpikir yang membantu ialah: kenali huruf mad, tentukan sebabnya, lalu tentukan pembaca dan jalur. Sesudah itu baru tanyakan apakah bacaan disambung atau dihentikan. Dengan urutan ini, qashr pada satu jenis mad tidak terbawa ke mad lain yang memiliki sebab berbeda.
Perluasan kubra terlihat jelas pada Hafsh: qashr munfashil terdapat pada jalur tertentu, tetapi tidak mengubah jalur asy-Syathibiyyah menjadi boleh qashr. Sementara itu, pilihan mad ‘aridh lahir dari keadaan waqaf. Kedua jenis pilihan tersebut perlu dibedakan supaya latihan tidak mencampur hukum jalur dengan hukum berhenti.
جاء
Apakah berhenti pada kata ini membolehkan qashr murni?
1. Sebab mad ialah hamzah yang menyatu dalam satu kata.
2. Qashr murni tidak berlaku padanya.
3. Sukun akibat waqaf tidak menggugurkan kadar mad yang telah tetap; ikuti kadar jalurnya.
نستعين
Apa pengaruh waqaf dengan sukun murni?
1. Ini termasuk contoh mad ‘aridh ketika waqaf.
2. Pada sukun murni berlaku qashr, tawassuth, dan panjang.
3. Jangan menerapkannya hanya karena waqaf dengan raum; raum mengikuti kadar washal.
• Angka yang lazim dipakai mendekati kadar bacaan; semuanya bukan pilihan untuk setiap jalur.
• Jangan menjumlahkan secara aritmetis kadar dua sebab pada satu huruf mad.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
7.1 — Apakah qashr berarti meninggalkan mad alami?
7.2 — Bolehkah membaca Hafsh dengan qashr munfashil melalui asy-Syathibiyyah?
7.3 — Jika dua sebab bertemu pada satu huruf mad, bagaimana menanganinya?
Tentukan harakat hamzah kedua, lalu ajukan dua pertanyaan terpisah: bagaimana hamzah dilafalkan, dan apakah ada alif yang disisipkan di antara keduanya? Tas-hil bukan ibdal, sedangkan tanpa idkhal bukan berarti menghapus hamzah. Kita mempelajari contoh tertentu dengan tetap memperhatikan pengecualian.
• Membedakan perubahan hamzah dari penyisipan alif.
• Menghubungkan hukum dengan pembaca, tempat, dan jalur ketika terdapat perbedaan.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التسهيل بين بين | Pelafalan di antara hamzah dan huruf yang sesuai harakatnya, bukan menggantinya dengan huruf murni. |
| الإبدال | Mengganti hamzah dengan huruf, seperti alif menggantikan hamzah kedua yang berfathah pada wajah al-Azraq. |
| الإدخال | Alif pemisah di antara dua hamzah; ketentuannya dibedakan dari tas-hil dan tahqiq. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Dua hamzah fathah: tas-hil Qalun, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, Ibn Katsir, dan Ruwais | Tas-hil kedua dengan idkhal bagi Qalun, Abu ‘Amr, dan Abu Ja‘far; tanpa idkhal bagi Ibn Katsir dan Ruwais. | Pembagian yang sama pada kaidah dasar bab. |
| Periksa kata yang dikecualikan, termasuk آمنتم. Al-Jami‘, materi: 449. | ||
| Dua hamzah fathah: tahqiq Ibn Dzakwan, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Rauh, dan Khalaf al-‘Asyir | Tahqiq kedua hamzah tanpa idkhal. | Tahqiq keduanya tanpa idkhal, selain tempat yang dikecualikan. |
| Jangan menerapkan kaidah ini begitu saja pada أعجمي، أن كان، dan pengecualian sejenis. Al-Jami‘, materi: 453. | ||
| Ibdal hamzah berfathah Warsy | Al-Azraq memiliki tas-hil atau ibdal tanpa idkhal; mad mengikuti huruf setelah hamzah kedua. | Al-Azraq memiliki keduanya; al-Ashbahani hanya tas-hil tanpa idkhal. |
| Ibdal dibaca isyba‘ sebelum sukun shahih, dan mad alami sebelum huruf berharakat. | ||
| Tiga tempat dengan hamzah kedua dhammah Qalun | Tas-hil hamzah kedua dengan idkhal. | Mayoritas memakai idkhal; tanpa idkhal terdapat pada jalur tertentu, termasuk Faris melalui al-Hulwani dalam al-Jami‘. |
| Yaitu أؤنبئكم، أأنزل، dan أألقي; perbedaan tidak berlaku bebas pada setiap jalur. Al-Jami‘, materi: 458. | ||
| Hamzah washal sesudah hamzah pertanyaan Sepuluh imam | Pada آلذكرين، آلله، dan آلآن: ibdal atau tas-hil tanpa idkhal. | Kedua wajah juga berlaku; ibdal dipanjangkan karena sukun lazim selama sukun itu tetap. |
| آلآن bersama naql memiliki perincian; isyba‘ tidak digeneralisasi. Al-Jami‘, materi: 505. | ||
Jangan menggabungkan dua keputusan menjadi satu. “Tas-hil dengan idkhal” menjelaskan cara melafalkan hamzah sekaligus adanya alif pemisah; “tas-hil tanpa idkhal” tetap mempertahankan hamzah yang di-tas-hil-kan. Tidak adanya alif pemisah bukan penghapusan hamzah.
Pada wajah ibdal al-Azraq, perhatikan huruf sesudah hamzah yang diganti. أأنذرتهم memiliki sukun sesudahnya sehingga ibdal dibaca panjang; أألد memiliki huruf berharakat sehingga kadarnya mad alami. Perbedaan ini tidak boleh dipindahkan kepada al-Ashbahani yang hanya mempunyai tas-hil dalam kaidah yang dibahas.
أَأَنْذَرْتَهُمْ
Bandingkan Qalun dengan Hafsh menurut kaidah dasar bab.
1. Kedua hamzah berfathah.
2. Qalun mentahqiqkan pertama dan men-tas-hil-kan kedua dengan idkhal.
3. Hafsh dari ‘Ashim mentahqiqkan keduanya tanpa idkhal.
أَأَلِدُ
Berapa kadar alif pada wajah ibdal al-Azraq?
1. Pastikan yang dibaca ialah wajah ibdal, bukan tas-hil.
2. Huruf sesudah hamzah kedua berharakat.
3. Hamzah kedua diganti alif sepanjang mad alami, tanpa idkhal.
• Tanpa idkhal tidak berarti hamzah kedua dihapus.
• Jangan mengganti setiap hamzah yang di-tas-hil-kan dengan huruf murni; tas-hil dan ibdal berbeda.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
8.1 — Apakah setiap tas-hil disertai idkhal?
8.2 — Apakah ibdal al-Azraq pada أأنذرتهم sepanjang mad alami?
8.3 — Apakah Qalun boleh meninggalkan idkhal pada tiga tempat tersebut melalui setiap jalur kubra?
Bab ini mensyaratkan hamzah akhir kata bertemu hamzah qatha‘ pada awal kata berikutnya ketika washal. Periksa kedua harakatnya, lalu tentukan hamzah mana yang berubah. Jika memulai dari kata kedua, hamzahnya dibaca tahqiq; hukum pertemuan saat washal tidak dipindahkan ke permulaan baru.
• Membedakan dua hamzah yang sama dan berbeda harakatnya.
• Menentukan hamzah pertama, kedua, serta hukum memulai setelah washal terputus.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| المتفقتان | Dua hamzah dengan harakat sama: fathah, kasrah, atau dhammah. |
| المختلفتان | Dua hamzah dengan harakat berbeda; terdapat lima pola dalam bab ini. |
| إسقاط الأولى | Menghapus hamzah akhir kata pertama dalam pelafalan yang disambung, dengan tahqiq hamzah kedua. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Dua hamzah sama pada Abu ‘Amr Abu ‘Amr | Menghapus pertama dan mentahqiqkan kedua pada tiga pola. | Pertama juga dihapus dan kedua ditahqiqkan. |
| Penghapusan ini tidak diterapkan pada dua hamzah berbeda harakat. Al-Jami‘, materi: 526. | ||
| Perincian Qalun dan al-Bazzi Qalun dan al-Bazzi | Pada dua fathah: pertama dihapus; pada dua kasrah atau dua dhammah: pertama di-tas-hil-kan, sedangkan kedua tetap tahqiq. | Perincian kaidah dasarnya sama. |
| السوء dan النبيء memiliki pengecualian tersendiri. | ||
| Dua hamzah sama pada Warsy Warsy | Al-Azraq mentahqiqkan pertama; kedua di-tas-hil-kan atau diganti huruf mad. | Al-Azraq memiliki kedua wajah menurut jalur; al-Ashbahani hanya men-tas-hil-kan kedua. |
| Kadar huruf pengganti mengikuti harakat atau sukun huruf sesudahnya. | ||
| Tambahan Ruwais pada dua hamzah sama harakat Ruwais | Tahqiq pertama dan tas-hil kedua. | Abu ath-Thayyib dari at-Tammar menghapus pertama dan mentahqiqkan kedua; jalur lainnya memakai tas-hil. |
| Kedua wajah tidak digabungkan untuk setiap jalur. Al-Jami‘, materi: 532. | ||
| Dua hamzah berbeda: lima pola Nafi‘, Ibn Katsir, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, dan Ruwais | Fathah lalu kasrah/dhammah: tas-hil kedua; kasrah lalu fathah: ya fathah; dhammah lalu fathah: waw fathah; dhammah lalu kasrah: tas-hil atau waw kasrah. | Kelima ketentuan sama, dengan tahqiq hamzah pertama. |
| Tas-hil pada pola dhammah lalu kasrah berada antara hamzah dan ya, bukan waw. | ||
Nama proses saja belum cukup. Jika dikatakan “tas-hil”, tanyakan hamzah yang mana: pada dua kasrah, Qalun men-tas-hil-kan pertama; dalam kaidah Warsy yang dibahas, perubahan mengenai kedua. Menandai urutan hamzah sebelum menentukan hukum membantu menghindari pertukaran ini.
Perhatikan pula bahwa “pengganti hamzah” tidak selalu huruf mad. Pada السماء أو, penggantinya ialah ya berfathah yang tetap berharakat. Hukum ini berlaku saat dua kata disambung; ketika memulai dari kata kedua, syarat pertemuan hamzah tidak ada dan hamzah awal kembali dibaca tahqiq.
جَاءَ أَمْرُنَا
Bandingkan washal Abu ‘Amr dengan memulai pada kata kedua.
1. Kedua hamzah berfathah dan berasal dari dua kata.
2. Saat menyambungnya, Abu ‘Amr menghapus pertama dan mentahqiqkan kedua; kadar mad mengikuti jalur.
3. Jika memulai dari أمرنا, hamzahnya ditahqiqkan karena kedua hamzah tidak lagi bertemu dalam washal.
السَّمَاءِ أَوْ
Bagaimana dibaca untuk Nafi‘ ketika washal?
1. Pertama kasrah dan kedua fathah; keduanya berbeda harakat.
2. Pertama ditahqiqkan, sedangkan kedua diganti ya fathah.
3. Ini ya berharakat, bukan ya mad dan bukan tas-hil antara dua bunyi.
• Jangan menganggap perubahan selalu mengenai hamzah kedua; pertama dapat dihapus atau di-tas-hil-kan.
• Saat memulai dari kata kedua, hamzahnya ditahqiqkan; waqaf pada pertama dibahas dalam bab tersendiri.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
9.1 — Apakah Abu ‘Amr menghapus pertama pada setiap dua hamzah berbeda harakat?
9.2 — Pada هؤلاء إن, hamzah mana yang di-tas-hil-kan Qalun menurut kaidah dasar?
9.3 — Apakah penghapusan pertama oleh Ruwais berlaku pada seluruh jalurnya?
Mulailah dengan mengenali harakat dan posisi hamzah, lalu tentukan rawi serta jalurnya. Ibdal tidak berlaku pada setiap hamzah sukun bagi semua qari. Cakupan kubra yang lebih luas menambah jalur dengan ketentuan tertentu.
• Membedakan tahqiq, ibdal, dan tashil.
• Menerapkan kaidah sambil mempertahankan pengecualian rawinya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التحقيق | Mempertahankan dan melafalkan hamzah sebagai hamzah. |
| الإبدال | Mengganti hamzah dengan huruf lain; pada hamzah sukun yang dibahas di sini, huruf mad mengikuti harakat sebelumnya. |
| فاء الكلمة | Huruf pertama akar kata, yang tidak selalu menjadi huruf pertama dalam tulisan. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Hamzah sukun pada huruf pertama akar Warsh | Al-Azraq melakukan ibdal, kecuali kelompok kata iwa’. | Al-Azraq tetap demikian; al-Ashbahani melakukan ibdal pada posisi hamzah sukun yang lebih luas, dengan pengecualiannya. |
| Contohnya يؤمن; perhatikan jenis harakat sebelum hamzah. Al-Jami‘, materi: 605. | ||
| Kelompok kata iwa’ Warsh | Al-Azraq membaca hamzah dengan tahqiq. | Al-Azraq membaca tahqiq; al-Ashbahani membaca ibdal, kecuali تؤوي dan تؤويه yang dibacanya tahqiq. |
| Jangan memindahkan pengecualian suatu jalur ke jalur lain. Al-Jami‘, materi: 606. | ||
| Kaidah hamzah sukun Abu ‘Amr | As-Susi membaca ibdal kecuali pada pengecualian; ad-Duri membaca tahqiq. | Keduanya memiliki tahqiq dan ibdal menurut jalurnya. |
| Pengecualian ibdal tetap berlaku. Al-Jami‘, materi: 607. | ||
| Hamzah sukun dan pengecualian نبئنا Abu Ja‘far | Ibdal, kecuali أنبئهم dan نبئهم. | Kaidah tersebut tetap; pada نبئنا terdapat tahqiq dan ibdal menurut jalur. |
| Jangan memperluas perbedaan pada نبئنا ke semua kata. Al-Jami‘, materi: 609. | ||
| ننسأها، يهيئ، ينبأ Abu ‘Amr | Tahqiq bagi kedua rawi. | Tahqiq juga bagi kedua rawi. |
| Kata-kata ini dikecualikan dari jalur ibdal hamzah sukun. Al-Jami‘, materi: 618. | ||
Cara membaca tabel ini ialah mengurutkan tiga pertanyaan: hamzahnya seperti apa, siapa rawinya, dan jalur mana yang digunakan. Dua jalur dapat menghasilkan bunyi yang sama melalui pengecualian yang berbeda. Pada تؤوي, misalnya, al-Azraq dan al-Ashbahani sama-sama melakukan tahqiq, tetapi cakupan kaidah ibdal keduanya berbeda.
Kubra bukan daftar pilihan bunyi yang boleh dicampur. Ketika tabel menyebut tahqiq dan ibdal bagi seorang rawi, keduanya harus dikembalikan kepada jalurnya. Pelajaran ini membangun cara mengenali kaidah dan pengecualian; pembahasan khusus waqaf Hamzah dan Hisyam berada pada pelajaran tersendiri.
يؤمن
Bagaimana menerapkan kaidah al-Azraq di sini?
1. Kenali hamzah sukun yang didahului dhammah.
2. Hamzah menempati huruf pertama akar kata; kata ini bukan kelompok iwa’.
3. Al-Azraq menggantinya dengan waw mad dalam sughra dan kubra.
تؤوي
Apakah hamzah yang sukun sudah cukup untuk menetapkan ibdal?
1. Tentukan jalur Warsh: al-Azraq atau al-Ashbahani.
2. Al-Azraq membacanya tahqiq karena termasuk kelompok iwa’.
3. Al-Ashbahani juga membacanya tahqiq karena kata ini disebut sebagai pengecualian ibdalnya.
• Tashil bukan nama semua bentuk peringanan; ibdal jangan disebut tashil baina baina.
• Adanya tahqiq dan ibdal dalam kubra tidak membolehkan pergantian jalur sesuka hati ketika membaca.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
10.1 — Bagaimana kaidah hamzah sukun ad-Duri dari Abu ‘Amr dalam sughra?
10.2 — Apakah fa’ kata selalu merupakan huruf pertama yang tertulis?
10.3 — Apa tambahan bagi Abu Ja‘far pada نبئنا?
Naql merupakan proses tertentu: huruf sukun menerima harakat hamzah berikutnya, lalu hamzah dihilangkan. Sebelum menerapkannya, periksa jenis huruf sukun dan sambungan kata. Huruf mad serta mim jamak tidak termasuk kaidah umum Warsh di sini.
• Membedakan naql dari ibdal.
• Memeriksa syarat naql sebelum menerapkannya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| النقل | Memberi huruf sukun harakat hamzah qatha‘ berikutnya dan menghilangkan hamzah itu. |
| لام التعريف | Lam pada alif-lam pengenal; dalam bab ini diperlakukan seperti huruf yang terpisah dari kata berikutnya. |
| حرف المد | Huruf mad tidak menerima pemindahan harakat dalam kaidah naql ini. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Kaidah umum Warsh | Harakat hamzah qatha‘ dipindahkan ke huruf sukun akhir yang bukan huruf mad, lalu hamzah dihilangkan. | Kaidah yang sama bagi al-Azraq dan al-Ashbahani, dengan pengecualian. |
| Contohnya قد أفلح، من إله، من أوتي. | ||
| Lam alif-lam Warsh | Naql pada kata seperti الأرض، الإنسان، الأولى. | Naql berlaku bagi al-Azraq dan al-Ashbahani dalam kaidah ini. |
| Penulisan alif-lam yang menyatu tidak menghalangi naql. Al-Jami‘, materi: 707. | ||
| Sesudah huruf mad Warsh | Tidak ada naql pada قالوا آمنا dan في أنفسكم. | Tidak ada naql pada kedua jalur; panjang mad mengikuti jalurnya. |
| Tidak adanya naql tidak berarti panjang mad selalu sama. Al-Jami‘, materi: 709. | ||
| Mim jamak sebelum hamzah Warsh | Tidak ada naql; mim dibaca dengan shilah waw sebelum hamzah qatha‘. | Ketentuan yang sama bagi al-Azraq dan al-Ashbahani. |
| Jangan membuat bacaan mim sukun kemudian melakukan naql kepadanya. Al-Jami‘, materi: 710. | ||
| القرآن dan bentuk yang disebut bersamanya Ibnu Katsir | Fathah hamzah dipindahkan ke ra dan hamzah dihilangkan, ketika washal maupun waqaf. | Naql yang sama ketika washal dan waqaf. |
| Termasuk قرآن dan قرآنه; bukan semua turunan akar قرأ. Al-Jami‘, materi: 736. | ||
Naql sebaiknya dipahami sebagai dua tindakan yang saling berkaitan: harakat berpindah dan hamzah dihilangkan. Karena itu, menggerakkan huruf sebelumnya sambil tetap membaca hamzah bukan penerapan naql yang dibahas. Contoh من إله juga menunjukkan bahwa harakat yang dipindahkan tidak selalu fathah.
Jangan berhenti pada pengamatan bahwa ada huruf sukun sebelum hamzah. Periksa apakah huruf itu merupakan huruf mad, mim jamak yang memiliki shilah, atau lam alif-lam. Ketiga keadaan tersebut menjelaskan mengapa bentuk yang tampak mirip dalam tulisan dapat memiliki hukum berbeda.
من إله
Harakat apa yang dipindahkan dalam bacaan Warsh?
1. Perhatikan nun sukun di akhir من.
2. Hamzah berikutnya berkasrah; nun bukan huruf mad.
3. Kasrah dipindahkan ke nun dan hamzah dihilangkan ketika kedua kata disambung.
قالوا آمنا
Mengapa naql Warsh tidak diterapkan di sini?
1. Kenali huruf sebelum hamzah: waw mad.
2. Kaidah mensyaratkan huruf sukun yang bukan huruf mad.
3. Hamzah tetap dibaca; panjang mad mengikuti jalur yang ditentukan.
• Naql tidak mengubah hamzah menjadi huruf mad; hamzah dihilangkan setelah harakatnya dipindahkan.
• Naql pada عادا الأولى merupakan ketentuan khusus; jangan diterapkan pada setiap tanwin sebelum alif-lam.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
11.1 — Harakat apa yang dipindahkan pada من أوتي?
11.2 — Apakah alif-lam yang ditulis menyatu menghalangi naql pada الأرض?
11.3 — Apakah naql Ibnu Katsir pada القرآن hanya berlaku ketika washal?
Sakt adalah penghentian suara sejenak tanpa mengambil napas. Pelajarilah bersama lokasi dan rawinya; jangan menyamakannya dengan waqaf. Tiga cakupan yang dipelajari ialah sakt sebelum hamzah, empat tempat sakt Hafsh, dan huruf pembuka surah bagi Abu Ja‘far.
• Membedakan sakt, waqaf, dan idraj.
• Menghubungkan ketiadaan sakt dengan idgham yang menyertainya apabila ditetapkan.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| السكت | Jeda singkat tanpa mengambil napas dalam sambungan bacaan. |
| الإدراج | Menyambung tempat tersebut tanpa sakt yang diriwayatkan padanya. |
| غير المد | Huruf sukun yang bukan huruf mad; huruf lin dibedakan dari huruf mad. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Alif-lam sebelum hamzah Khalaf dari Hamzah | Sakt pada lam ketika washal. | Sakt atau tanpa sakt menurut jalur. |
| Yang dimaksud ialah Khalaf sebagai rawi Hamzah, bukan Khalaf al-‘Asyir. Al-Jami‘, materi: 752. | ||
| عوجا dan مرقدنا Hafsh | Sakt pada alif عوجا dan alif مرقدنا ketika disambung. | Sakt atau idraj menurut jalur. |
| Pada عوجا, sakt berada pada alif pengganti tanwin. | ||
| من راق dan بل ران Hafsh | Sakt disertai izhar nun dan lam. | Sakt dengan izhar, atau idraj dengan idgham, menurut jalur. |
| Meniadakan sakt tidak menghasilkan pilihan ketiga berupa izhar. | ||
| Qashr munfashil dan sakt sebelum hamzah Hafsh | Tidak ada sakt sebelum hamzah pada bab ini. | Sakt ini tidak digabung dengan qashr munfashil; jalur al-Fil termasuk contohnya. |
| Batasan ini tidak digeneralisasi kepada empat sakt Hafsh. Al-Jami‘, materi: 774. | ||
| Huruf pembuka surah Abu Ja‘far melalui kedua rawinya | Sakt setelah setiap nama huruf muqaththa‘ah. | Sakt yang sama setelah setiap nama huruf. |
| Ini cakupan berbeda dari sakt sebelum hamzah. Al-Jami‘, materi: 792. | ||
Sakt tetap menjadi bagian dari sambungan bacaan. Karena itu, istilah “berhenti sebentar” belum cukup: tidak ada pengambilan napas, tempatnya harus benar, dan riwayatnya harus ditentukan. Menyebut nama Hafsh saja belum menjawab apakah yang dibicarakan empat sakt atau sakt sebelum hamzah dari jalur kubra.
Pada من راق dan بل ران, sakt berkaitan langsung dengan kejelasan huruf pertama. Jalur yang membaca idraj memiliki idgham; kita tidak boleh membuat kombinasi baru dengan menghapus sakt tetapi mempertahankan izhar. Inilah contoh sederhana mengapa tabel perbandingan harus dibaca per jalur.
من راق
Bandingkan bacaan Hafsh pada dua jenis jalur yang disebut.
1. Dalam sughra, suara berhenti singkat pada nun من tanpa mengambil napas.
2. Nun dibaca jelas bersama sakt.
3. Dalam kubra, jalur sakt mempertahankan izhar; jalur idraj mengidghamkan nun ke ra.
الم
Bagaimana urutan sakt Abu Ja‘far pada huruf-huruf ini?
1. Huruf-huruf dibaca dengan nama hurufnya.
2. Lakukan sakt setelah alif, setelah lam, dan setelah mim.
3. Sakt tetap tanpa mengambil napas; ketentuannya berlaku dalam sughra dan kubra.
• Jangan memilih sakt atau tanpa sakt secara terpisah di setiap tempat; suatu sumber dapat mengikat beberapa tempat sebagai satu rangkaian.
• Waqaf pada kata pertama berbeda dari sakt ketika menyambungkannya dengan kata kedua.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
12.1 — Sakt pada عوجا berada di jim atau alif?
12.2 — Apa yang menyertai bacaan Hafsh tanpa sakt pada بل ران?
12.3 — Apakah larangan menggabung sakt sebelum hamzah dengan qashr menghapus seluruh sakt Hafsh?
Tidak ada satu bentuk peringanan untuk seluruh hamzah. Ketentuannya bergantung pada harakat hamzah, huruf sebelumnya, serta posisinya di tengah atau akhir. Peringanan ketika waqaf tidak otomatis berlaku ketika washal atau memulai bacaan.
• Menggolongkan hamzah sebelum menentukan cara waqaf.
• Membedakan cakupan bacaan Hamzah dan Hisyam.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التخفيف | Istilah umum yang mencakup ibdal, naql, idgham, dan tashil. |
| المتطرف | Hamzah pada akhir kata; dalam bab ini dibedakan dari hamzah di tengah. |
| السكون الأصلي | Sukun hamzah yang sudah ada sebelum waqaf, bukan sukun yang timbul akibat waqaf. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Cakupan bab Hamzah | Meringankan hamzah tengah dan akhir ketika waqaf. | Meringankan keduanya ketika waqaf, dengan memperhatikan bentuk hamzah dan jalur. |
| Tidak setiap peringanan berupa tashil baina baina. Al-Jami‘, materi: 826. | ||
| Hamzah akhir kata Hisyam | Peringanan melalui jalur Syathibiyyah. | Peringanan dan tahqiq menurut jalur. |
| Jangan memperluas ketentuan ini ke seluruh hamzah tengah. Al-Jami‘, materi: 827. | ||
| Hamzah yang asalnya sukun Hamzah; Hisyam pada hamzah akhir dengan wajah peringanan | Sesudah fathah diganti alif, sesudah kasrah ya; bagi Hamzah, sesudah dhammah diganti waw. | Ibdal yang sama pada bentuk-bentuk tersebut. |
| Tidak ada contoh hamzah akhir yang asalnya sukun sesudah dhammah; jangan membuat contohnya. | ||
| Hamzah berharakat sesudah huruf sukun non-mad/non-lin Hamzah pada hamzah tengah | Harakat dipindahkan ke huruf sebelumnya dan hamzah dihilangkan. | Naql yang sama ketika waqaf. |
| Contohnya القرآن، الأفئدة، مسؤولا. Al-Jami‘, materi: 849. | ||
| Memulai dengan hamzah qatha‘ Hamzah | Tahqiq ketika memulai bacaan dengannya. | Tahqiq juga ketika memulai bacaan dengannya. |
| Harakat tidak dipindahkan ke kata yang tidak dibaca. Al-Jami‘, materi: 832. | ||
Gunakan klasifikasi sebelum menirukan bunyinya. Pada يأكل, hamzah sudah sukun dan diganti alif ketika Hamzah melakukan waqaf. Pada القرآن, hamzah berharakat setelah ra sukun, sehingga yang dilakukan ialah pemindahan harakat dan penghilangan hamzah. Kata “takhfif” mencakup keduanya, tetapi prosesnya berbeda.
Nama imam Hamzah dan nama huruf hamzah mudah tertukar dalam penjelasan lisan. Di sini “bacaan Hamzah” menunjuk imamnya, sedangkan “hamzah tengah” menunjuk hurufnya. Untuk Hisyam, pelajaran ini membatasi pembahasan pada hamzah akhir dan tetap membedakan jalur tahqiq dari jalur peringanan.
يأكل
Bagaimana Hamzah meringankan hamzah saat waqaf pada kata ini?
1. Hamzah berada di tengah dan asalnya sukun.
2. Harakat sebelumnya fathah; huruf pengganti yang sesuai ialah alif.
3. Hamzah diganti alif; proses ini bukan naql atau tashil baina baina.
القرآن
Apa perbedaan hamzah ini dari hamzah يأكل dalam waqaf Hamzah?
1. Hamzah di sini berharakat dan didahului ra sukun, bukan huruf mad atau lin.
2. Fathah hamzah dipindahkan ke ra dan hamzah dihilangkan.
3. Jenis peringanannya berbeda karena keadaan hamzah dan huruf sebelumnya berbeda.
• Jangan menerapkan ibdal hamzah yang asalnya sukun kepada setiap hamzah yang disukunkan karena waqaf tanpa pemeriksaan.
• Perbedaan bacaan Hisyam dalam kubra terikat jalur; bukan pilihan bebas pada setiap tempat dan sanad.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
13.1 — Dengan huruf apa hamzah بئر diganti dalam waqaf Hamzah?
13.2 — Apakah tahqiq ketika memulai bacaan bertentangan dengan peringanan ketika waqaf?
13.3 — Apa tambahan bagi Hisyam pada hamzah akhir dalam kubra?
Bab ini berawal dari huruf pertama yang sukun. Kedekatan makhraj saja tidak cukup untuk menetapkan idgham bagi seluruh qari. Periksa pasangan huruf, kata, rawi, dan jalurnya apabila terdapat perbedaan.
• Mengenali idgham kecil dari sukunnya huruf pertama.
• Membaca perbedaan jalur tanpa menggeneralisasikannya kepada huruf lain.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الإدغام الصغير | Idgham dengan huruf pertama sukun; dapat terjadi dalam satu atau dua kata. |
| الإظهار | Mempertahankan kejelasan huruf pertama, berbeda dari meleburkannya ke huruf berikutnya. |
| قيد الطريق | Mengaitkan wajah bacaan dengan cabangnya; berbagai wajah tidak digabung tanpa jalur yang mendukungnya. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| إذ sebelum dal Ibnu Dzakwan | Idgham. | Al-Akhfasy membaca idgham; ash-Shuri membaca izhar. |
| Contohnya إذ دخلوا; jangan digeneralisasi ke semua huruf setelah إذ. | ||
| قد sebelum jim Sepuluh qari | Abu ‘Amr, Hisyam, Hamzah, al-Kisa’i, dan Khalaf al-‘Asyir membaca idgham; lainnya izhar. | Pembagian yang sama di antara para qari. |
| Contohnya لقد جاءكم. Al-Jami‘, materi: 927. | ||
| Ta ta’nits sebelum tsa Ibnu Dzakwan | Idgham pada kata seperti كذبت ثمود. | Al-Akhfasy membaca idgham; ash-Shuri membaca izhar. |
| Perhatikan huruf berikutnya, bukan hanya adanya ta sukun. | ||
| Lam هل dan بل sebelum ta Hisyam | Idgham, dengan pengecualian أم هل تستوي dalam ar-Ra‘d. | Mayoritas jalurnya membaca idgham; terdapat pula jalur izhar. |
| Contohnya بل تأتيهم dan هل تعلم; pengecualian harus dipertahankan. | ||
| اركب معنا Abu ‘Amr dan Ya‘qub; Warsh dan Ibnu ‘Amir | Abu ‘Amr dan Ya‘qub membaca idgham; Warsh dan Ibnu ‘Amir membaca izhar. | Pembagian yang sama bagi kedua kelompok ini. |
| Ini pilihan contoh untuk pembelajaran; baris ini tidak merangkum hukum seluruh rawi lainnya. | ||
Pembagian bab berdasarkan إذ، قد، ta ta’nits, serta هل dan بل membantu mengelompokkan pola, tetapi tidak menghapus perbedaan tiap huruf berikutnya. Cara belajar yang aman ialah menyebut pasangan huruf dahulu, baru menyebut siapa yang melakukan idgham atau izhar.
Ibnu Dzakwan memberi contoh jelas tentang tambahan kubra: pada dua pasangan yang dicontohkan, jalur al-Akhfasy dan ash-Shuri berbeda. Mengetahui dua wajah itu belum berarti boleh berganti-ganti. Sebaliknya, pada kelompok pembaca اركب معنا yang dipilih dalam tabel, pembagian sughra dan kubra tetap sama.
إذ دخلوا
Jelaskan perbedaan dua jalur Ibnu Dzakwan.
1. Huruf pertama ialah dzal sukun, diikuti dal.
2. Dalam sughra, Ibnu Dzakwan membaca idgham.
3. Dalam kubra, tentukan jalurnya: al-Akhfasy dengan idgham, ash-Shuri dengan izhar.
اركب معنا
Apakah bentuk huruf yang sama berarti semua qari membacanya sama?
1. Kenali ba sukun dan mim sesudahnya.
2. Abu ‘Amr, al-Kisa’i, dan Ya‘qub membaca idgham dalam sughra dan kubra.
3. Warsh dan Ibnu ‘Amir membaca izhar; ketentuan mengikuti riwayat qarinya.
• Ketentuan إذ sebelum dal tidak mewakili hukum إذ sebelum semua huruf.
• Jika idgham terjadi di dalam satu kata, jangan mensyaratkannya harus disambung dengan kata berikutnya.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
14.1 — Apa ciri pertama idgham kecil?
14.2 — Bagaimana ash-Shuri membaca كذبت ثمود dalam kubra?
14.3 — Bolehkah izhar اركب معنا dinisbatkan kepada Ya‘qub dalam cakupan ini?
Empat nama hukum tetap berlaku: izhar, idgham, iqlab, dan ikhfa. Perbandingan menyoroti perbedaan sebagian qari, terutama ikhfa Abu Ja‘far dan ghunnah dalam beberapa jalur idgham.
• Membedakan hukum bersama dari tambahan jalur.
• Memperhatikan satu kata dan keadaan washal ketika menerapkan hukum.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التنوين | Nun tambahan dalam pelafalan; hukum yang dibahas berlaku ketika washal. |
| القلب | Mengubah nun atau tanwin sebelum ba menjadi mim yang disamarkan dengan ghunnah. |
| الغنة في الإدغام | Sifat yang dapat dipertahankan atau ditiadakan sesuai riwayat; ketiadaannya tidak mengubah nama hukum idgham. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Ghain dan kha Abu Ja‘far; para qari lainnya | Abu Ja‘far membaca ikhfa dengan ghunnah, kecuali المنخنقة، إن يكن غنيا، فسينغضون yang dibacanya izhar; qari lain membaca izhar. | Pada tiga pengecualian itu terdapat izhar dan ikhfa menurut jalur; kaidah lainnya tetap. |
| Perbedaan tiga tempat itu tidak digeneralisasi ke semua kata. | ||
| Lam dan ra Sepuluh qari | Idgham tanpa ghunnah. | Semua qari memiliki jalur tanpa ghunnah; bagi sebagian juga terdapat ghunnah menurut jalur. |
| Ghunnah tidak berlaku bagi setiap qari dan setiap sanad. | ||
| Ya Ad-Duri dari al-Kisa’i | Idgham dengan ghunnah. | Abu ‘Utsman adh-Dharir tanpa ghunnah; Ja‘far bin Muhammad dengan ghunnah. |
| Jangan dipindahkan kepada waw atau ad-Duri dari Abu ‘Amr. Al-Jami‘, materi: 1062. | ||
| Nun dan ya dalam الدنيا Sepuluh qari | Izhar. | Izhar juga. |
| Keduanya berada dalam satu kata, sehingga tidak disamakan dengan idgham antarkata. Al-Jami‘, materi: 1070. | ||
| Ba Sepuluh qari | Nun dan tanwin diubah menjadi mim yang disamarkan dengan ghunnah. | Iqlab yang sama dengan ghunnah. |
| Bukan idgham mim ke ba. | ||
Bekal tajwid dasar tetap dipakai, tetapi identitas qari harus ditambahkan. Huruf ghain dan kha tidak menghasilkan hukum yang sama bagi semua qari: Abu Ja‘far memiliki ikhfa dengan ghunnah, disertai tiga pengecualian yang berbeda cakupannya antara sughra dan kubra.
Pisahkan tiga pertanyaan: hukum apa yang berlaku, apakah ghunnah menyertainya, dan jalur siapa yang meriwayatkannya. Ketiadaan ghunnah tidak otomatis berarti izhar. Sebaliknya, pada الدنيا hukum izhar berkaitan dengan pertemuan nun dan ya dalam satu kata, sehingga tidak disamakan dengan pola antarkata.
من خير
Bagaimana hukum nun bagi Abu Ja‘far di sini?
1. Nun sukun diikuti kha pada kata berikutnya.
2. Lafaz ini bukan salah satu dari tiga pengecualian.
3. Abu Ja‘far membaca ikhfa dengan ghunnah dalam sughra dan kubra; qari lainnya membaca izhar.
الدنيا
Mengapa idgham nun ke ya tidak diterapkan di sini?
1. Nun dan ya berada dalam satu kata.
2. Bab ini menetapkan izhar pada kata tersebut.
3. Sepuluh qari membacanya izhar dalam sughra dan kubra; jangan disamakan dengan من يقول.
• Ketiadaan ghunnah sebelum ya pada Khalaf dari Hamzah tidak berarti berlaku pula bagi Khalaf al-‘Asyir.
• Tambahan ghunnah pada lam dan ra memiliki ketentuan jalur serta rasm; bukan pembenaran ghunnah pada setiap idgham.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
15.1 — Bagaimana المنخنقة bagi Abu Ja‘far dalam sughra?
15.2 — Bagaimana hukum من بعد bagi sepuluh qari?
15.3 — Apakah ad-Duri dari al-Kisa’i meninggalkan ghunnah sebelum ya pada semua jalur kubra?
Pahami sifat pelafalannya sebelum menghafal daftar kata. Imalah tidak menjadikan alif sebagai ya murni; taqlil berada antara fath dan imalah. Selanjutnya, riwayat menentukan tempat dan pembacanya. Sebab kebahasaan atau bentuk tulisan ya saja belum cukup.
• Membedakan ketiga cara pelafalan tanpa mengubah alif menjadi ya.
• Menghubungkan kata dengan qari serta syarat waqaf atau washalnya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الفتح | Melafalkan alif tanpa imalah; bukan berarti menebalkan seluruh huruf. |
| التقليل | Pelafalan antara fath dan imalah. |
| الإمالة | Mendekatkan alif kepada ya dan fathah kepada kasrah. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Kata benda dengan alif yang berasal dari ya Hamzah, al-Kisa’i, Khalaf al-‘Asyir | Imalah, seperti pada الهدى، الهوى، المأوى. | Imalah juga, dengan mempertahankan pengecualian. |
| Asal bahasa membantu penggolongan; riwayat menetapkan bacaannya. | ||
| Alif asal ya yang tidak didahului ra, di luar akhir ayat Warsh | Al-Azraq: fath dan taqlil menurut jalur. | Al-Azraq tetap demikian; al-Ashbahani membaca fath. |
| Jangan digeneralisasi pada alif sesudah ra atau akhir ayat. Al-Jami‘, materi: 1110. | ||
| Pola fa‘la, fu‘la, fi‘la tanpa ra sebelum alif Abu ‘Amr | Taqlil. | Fath dan taqlil menurut jalur. |
| Batasan di sini: di luar akhir ayat; الدنيا memiliki rincian tersendiri. Al-Jami‘, materi: 1112. | ||
| الناس dalam keadaan majrur Ad-Duri dari Abu ‘Amr | Imalah. | Fath dan imalah menurut jalur. |
| Jika tidak majrur dibaca fath; perbedaan ini tidak dipindahkan kepada as-Susi. Al-Jami‘, materi: 1264. | ||
| Nama huruf ha dan ya pada pembuka Maryam Abu ‘Amr | Imalah pada ha dan fath pada ya menurut penetapan jalur kedua kitab. | Kaidah itu tetap; bagi ad-Duri melalui Ibnu Farah terdapat imalah pada keduanya dalam sumber tertentu. |
| Imalah ya bagi as-Susi berada di luar jalur an-Nasyr dalam pembahasan ini. Al-Jami‘, materi: 1303. | ||
Pelajaran ini memisahkan alasan penggolongan dari izin membaca. Asal alif, bentuk kata, atau rasm membantu menemukan kelompoknya, tetapi bacaan tetap harus dinisbatkan kepada qari dan jalur. Karena itu, mengetahui sebuah kata ditulis dengan bentuk ya belum cukup untuk melakukan imalah.
Syarat kecil dapat mengubah cakupan besar. Pada الناس, keadaan majrur harus disebut; pada pembuka Maryam, ha dan ya tidak otomatis memiliki bacaan yang sama. Saat mempelajari contoh dari guru, sebutkan kata atau hurufnya, rawinya, dan syaratnya sebelum menyimpulkan bahwa suatu wajah berlaku umum.
الهدى
Apa yang menentukan pelafalan alif di sini?
1. Kata ini termasuk isim dengan alif yang berasal dari ya.
2. Hamzah, al-Kisa’i, dan Khalaf al-‘Asyir membacanya imalah dalam sughra dan kubra.
3. Jangan menjadikan imalah sebagai ya murni atau otomatis memindahkan hukum mereka kepada qari lain.
كهيعص
Apakah ya pada pembuka Maryam selalu mengikuti ha dalam bacaan Abu ‘Amr?
1. Yang dibahas ialah alif dalam pelafalan nama huruf ha dan ya.
2. Ketentuan sughra yang ditetapkan ialah imalah ha dan fath ya.
3. Dalam kubra, imalah keduanya diriwayatkan bagi ad-Duri melalui jalur tertentu; jangan menisbatkan bentuk ini kepada as-Susi.
• Tulisan berbentuk ya tidak membolehkan imalah على، حتى، إلى bagi tiga qari tadi; ketiganya dibaca fath.
• Jika alif hilang dalam pelafalan ketika washal, tidak tersisa tempat untuk imalah alif itu; harakat ra memiliki rincian tersendiri.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
16.1 — Apakah taqlil sama dengan imalah?
16.2 — Apakah imalah ad-Duri pada الناس berlaku untuk semua keadaan i‘rab?
16.3 — Apakah as-Susi membaca imalah pada ya pembuka Maryam dalam jalur an-Nasyr di sini?
Yang dimaksud ialah ha ketika waqaf, pengganti ta di akhir kata benda, bukan setiap ha dalam Al-Qur’an. Mulailah dengan memastikan waqaf, lalu periksa huruf sebelum ha, metode bacaan, dan jalurnya. Makna feminin saja tidak cukup.
• Menentukan cakupan bab pada waqaf, bukan washal.
• Menerapkan satu contoh huruf tanpa syarat dan satu dari kelompok أكهر.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| هاء التأنيث هنا | Ha yang dilafalkan ketika waqaf pada ta akhir kata benda, misalnya رحمة. |
| التفصيل | Pembagian huruf sebelum ha menjadi kelompok imalah, fath, dan yang bersyarat. |
| أكهر | Singkatan untuk hamzah, kaf, ha, dan ra; alif dalam singkatan ini bukan alif mad. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Keadaan washal Sepuluh qari | Tidak ada imalah dari bab ini karena huruf akhirnya ta. | Ketentuan yang sama ketika washal. |
| Imalah alif التوراة merupakan bab lain. Al-Jami‘, materi: 1410. | ||
| Mim sebelum ha Al-Kisa’i melalui kedua rawinya | Imalah ketika waqaf, seperti رحمة dan نعمة. | Imalah dalam metode tafshil dan ta‘mim. |
| Tidak disyaratkan kasrah atau ya sebelum mim. Al-Jami‘, materi: 1427. | ||
| Alif sebelum ha Al-Kisa’i melalui kedua rawinya | Fath, seperti الصلاة dan الزكاة. | Fath juga pada kedua metode. |
| Alif dikecualikan dari perluasan imalah. Al-Jami‘, materi: 1430. | ||
| Syarat kelompok أكهر Al-Kisa’i melalui kedua rawinya | Dalam tafshil: imalah sesudah ya sukun atau kasrah, meskipun terhalang huruf sukun; tanpa syarat itu dibaca fath. | Metode tafshil yang dipilih tetap; terdapat tambahan perbedaan jalur pada hamzah dan ha. |
| Kasrah terletak sebelum huruf أكهر, bukan langsung sebelum ha waqaf. | ||
| Kaidah bab bagi Hamzah Khalaf dan Khallad dari Hamzah | Fath. | Fath; imalah juga diriwayatkan melalui beberapa jalur dengan rinciannya. |
| Jangan memperluas imalah ke seluruh jalur kedua rawi. Al-Jami‘, materi: 1457. | ||
Langkah pertama bukan mencari kata yang bermakna perempuan, melainkan melihat perubahan ta menjadi ha ketika waqaf. Itulah sebabnya خليفة masuk ke dalam pembahasan. Setelah bentuk waqaf dikenali, huruf tepat sebelum ha menentukan kelompok kaidahnya.
Pada رحمة, mim termasuk kelompok yang dibaca imalah tanpa perlu kasrah atau ya sebelumnya. Pada كبيرة, ra termasuk أكهر dan syarat ya sukun terpenuhi. Memahami dua contoh ini lebih berguna daripada menghafal satu slogan “semua ta marbuthah diimalahkan”, sebab alif sebelum ha tetap dikecualikan dan rincian jalur harus dijaga.
رحمة
Bagaimana menggolongkannya untuk al-Kisa’i ketika waqaf?
1. Huruf akhirnya ta yang menjadi ha ketika waqaf.
2. Huruf sebelum ha ialah mim, termasuk kelompok imalah.
3. Dibaca imalah ketika waqaf dalam kedua metode; ketentuan bab ini tidak dipindahkan ke washal.
كبيرة
Bagaimana syarat أكهر terpenuhi di sini?
1. Ketika waqaf, ra berada sebelum ha waqaf.
2. Sebelum ra ada ya sukun; inilah syarat imalah pada tempat ini.
3. Al-Kisa’i membaca imalah dalam tafshil yang dipilih dan ta‘mim; yang dibahas ialah ha waqaf serta huruf sebelumnya.
• Jangan menganggap ta‘mim sebagai tambahan khusus kubra; Syathibiyyah juga menyebutkannya.
• Jangan mengeluarkan خليفة karena yang disebut laki-laki; patokannya ialah bentuk ketika waqaf.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
17.1 — Apakah ha pada الصلاة dibaca imalah oleh al-Kisa’i dalam metode ta‘mim?
17.2 — Apa maksud alif dalam singkatan أكهر?
17.3 — Apakah hukum رحمة dalam bab ini berlaku ketika disambung?
Tarqiq dan tafkhim merupakan sifat bunyi ra, bukan padanan fath dan imalah. Periksa harakat ra serta huruf sebelum dan sesudahnya. Bedakan pula washal dari waqaf dan ketentuan khusus al-Azraq dari hukum bersama.
• Menentukan sebab tarqiq dan letak penghalangnya.
• Memeriksa ulang ra ketika waqaf dengan sukun.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الترقيق والتفخيم | Tipis dan tebalnya bunyi ra; tarqiq tidak selalu berarti imalah pada harakatnya. |
| سبب متصل | Kasrah atau ya sukun dalam kata yang sama dengan ra pada kaidah al-Azraq yang dibahas. |
| وقف السكون | Harakat ra tidak terdengar ketika waqaf dengan sukun; huruf sebelumnya diperhatikan. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Ra berkasrah Sepuluh qari | Tarqiq selama kasrah tetap dilafalkan. | Tarqiq juga. |
| Ketika waqaf, hukumnya diperiksa kembali. Al-Jami‘, materi: 1538. | ||
| Ra berfathah sesudah kasrah atau ya dalam satu kata Warsh | Al-Azraq membaca tarqiq, dengan pengecualian bab. | Al-Azraq tetap demikian dengan rincian jalur; al-Ashbahani membaca tafkhim pada bentuk ini. |
| Ini berbeda dari ra berkasrah, ra sukun, dan hukum imalah. Al-Jami‘, materi: 1482. | ||
| Sebab berada pada kata lain Sepuluh qari | Tafkhim pada kata seperti في ريب dan لربك. | Tafkhim juga. |
| Kasrah pada huruf jar bukan bagian dari bentuk kata yang mengandung ra. Al-Jami‘, materi: 1488. | ||
| صهرا dan kelompok katanya Al-Azraq dari Warsh | Tafkhim dan tarqiq disebut dalam cakupan matan Hirz; bukan izin semua kombinasi. | Kedua wajah menurut jalur; suatu jalur dapat menipiskan صهرا saja dan menebalkan kata-kata sekelompoknya. |
| Yang dibahas ialah bentuk manshub; jangan dipindahkan ke bentuk marfu‘. | ||
| Waqaf dengan sukun Sepuluh qari | Sesudah fathah atau dhammah: tafkhim; sesudah ya sukun: tarqiq. | Kedua ketentuan tetap sama, dengan memperhatikan rincian lainnya. |
| Isymam mengikuti hukum sukun dalam bab ini. | ||
Jangan menjadikan “ada kasrah sebelumnya” sebagai satu-satunya patokan. Tempat kasrah, kesatuan kata, huruf penghalang, dan riwayat pembaca ikut menentukan. Kaidah khusus al-Azraq pada ra berfathah juga tidak boleh dipindahkan begitu saja kepada jalur al-Ashbahani.
Keadaan waqaf perlu diperiksa dari awal karena harakat akhir tidak lagi terdengar ketika ra disukunkan. Inilah alasan ra yang tipis karena kasrah saat washal dapat menjadi tebal saat waqaf. Bedakan perubahan kondisi ini dari perbedaan jalur pada kata tertentu seperti صهرا, yang tetap memerlukan penetapan sumber.
كبيرة
Bagaimana memeriksa ra berfathah bagi al-Azraq?
1. Sebelum ra terdapat ya mad sukun dalam kata yang sama.
2. Ini sebab tarqiq bagi al-Azraq, dengan tetap memperhatikan penghalang dan pengecualian.
3. Ra di sini ditipiskan; tarqiq tidak berarti mengubah fathah menjadi kasrah.
القمر
Bagaimana ra dibaca ketika waqaf dengan sukun?
1. Tentukan keadaan bacaan: waqaf dengan menyukunkan ra.
2. Huruf sebelum ra berfathah.
3. Ra dibaca tafkhim; sekalipun sebelumnya berkasrah ketika washal, kasrah itu tidak bertahan ketika disukunkan.
• Kha sukun pada إخراجا tidak menjadi penghalang seperti shad pada إصرا bagi al-Azraq.
• Jangan menerapkan kaidah tarqiq secara analogi pada إبراهيم، إسرائيل، عمران; al-Azraq membacanya tafkhim.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
18.1 — Apakah tarqiq ra sama dengan imalah alifnya?
18.2 — Mengapa ra pada قرطاس dibaca tafkhim meski sebelumnya kasrah?
18.3 — Bagaimana waqaf dengan sukun pada خبير?
Mulailah dengan harakat lam dan huruf sebelumnya, kemudian tentukan qari dan jalurnya. Kaidah al-Azraq memiliki syarat khusus; lam pada lafaz Allah memiliki kaidah tersendiri yang berlaku bagi para qari.
• Membedakan syarat penebalan lam al-Azraq dari hukum lam pada lafaz Allah.
• Memahami perbedaan jalur tanpa menganggap setiap wajah sebagai pilihan bebas.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التغليظ | Menebalkan bunyi lam; dalam pembahasan ini juga disebut tafkhim. |
| الترقيق | Melafalkan lam secara tipis; bukan memiringkan bunyi harakatnya. |
| اقتران الوجهين | Keterkaitan hukum lam dengan alif; taqlil pada kasus ini disertai lam tipis. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Syarat pada lam Al-Azraq dari Warsy | Lam berfathah ditebalkan setelah sad, ta, atau za yang berfathah atau sukun. | Inilah kaidah dasarnya; jalur penipisan setelah ta dan za diperinci tersendiri. |
| Lam berkasrah tidak masuk; demikian pula lam setelah za berkasrah atau berdammah. | ||
| Selain al-Azraq Al-Ashbahani dan para qari lainnya | Qari lainnya menipiskan lam yang ditebalkan secara khusus oleh al-Azraq. | Al-Ashbahani dan para qari lainnya membaca tipis dalam bab ini. |
| Hukum lafaz Allah tetap dibahas tersendiri. Al-Jami‘, materi: 1578. | ||
| Lam setelah ta Al-Azraq dari Warsy | Ditebalkan jika syaratnya terpenuhi. | Dibaca tipis dalam al-‘Unwan, al-Mujtaba, al-Tadzkirah, dan Irsyad Ibn Ghalbun; demikian al-Dani membaca kepada Abu al-Hasan. |
| Ini penetapan jalur tertentu; tidak berlaku bagi seluruh riwayat Warsy. Al-Jami‘, materi: 1590. | ||
| Lam bersama taqlil alif Al-Azraq dari Warsy | Lam tebal bersama fath; taqlil bersama lam tipis. | Lam tebal bersama fath; taqlil bersama lam tipis. |
| Taqlil tidak ditetapkan sebelum kata dan jalurnya diketahui. Al-Jami‘, materi: 1603. | ||
| Lam pada lafaz Allah Sepuluh qari | Tebal setelah fathah dan dammah, tipis setelah kasrah, dan tebal ketika memulai dengan lafaz Allah. | Tebal setelah fathah dan dammah, tipis setelah kasrah, dan tebal ketika memulai dengan lafaz Allah. |
| Yang diperhatikan ialah harakat sebelum lam, bukan harakat ha di akhir lafaz. | ||
Dua pemeriksaan membantu mencegah kesalahan: pastikan harakat lam, lalu periksa huruf dan harakat sebelumnya. Kemiripan ejaan atau akar kata belum cukup. Setelah syarat bunyi terpenuhi, barulah jalur riwayat menentukan apakah kaidah penebalan al-Azraq berlaku.
Perluasan dalam kubra dapat berupa jalur yang membaca tipis pada tempat tertentu. Itu tidak menjadikan seluruh riwayat Warsy bebas memilih tebal atau tipis. Lafaz Allah tetap mengikuti kaidah tersendiri; perubahan dari washal ke ibtida dapat mengubah harakat sebelumnya dan karena itu mengubah hukum lam.
صَلاة — مُصْلِحون
Analisis harakat lam pada kedua contoh menurut al-Azraq.
1. Lam pada salah berfathah dan sad sebelumnya juga berfathah; syarat penebalan terpenuhi.
2. Lam pada muslihun berkasrah; lam dibaca tipis meskipun sebelumnya ada sad sukun.
3. Hukum mengikuti harakat kata yang dibaca, bukan hanya kemiripan akar katanya.
بسم الله — قال الله
Bandingkan lam pada lafaz Allah ketika disambung.
1. Pada bismillah, sebelum lam terdapat kasrah; lam dibaca tipis.
2. Pada qala Allah, sebelumnya terdapat fathah; lam dibaca tebal.
3. Jika memulai dengan Allah, lam dibaca tebal karena hamzah washal dimulai dengan fathah.
• Jangan menyamakan lam tipis dengan taqlil alif; keduanya hukum berbeda meskipun terkait pada kasus tertentu.
• Jangan memindahkan penebalan al-Azraq kepada al-Ashbahani hanya karena keduanya meriwayatkan dari Warsy.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
19.1 — Apakah lam pada zilal ditebalkan dengan kaidah ini?
19.2 — Bolehkah lam tebal digabung dengan taqlil alif sesudahnya?
19.3 — Mengapa hukum lam Allah dapat berubah antara menyambung dan memulai?
Saat waqaf, jangan hanya melihat harakat yang tampak. Tanyakan dahulu apakah harakat itu asli atau sementara, lalu bedakan sukun, raum, dan isymam. Hukum washal tidak otomatis berlaku ketika waqaf.
• Membedakan raum yang terdengar dari isymam yang terlihat.
• Menentukan wajah waqaf berdasarkan harakat dan syaratnya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| السكون المحض | Menghilangkan harakat huruf; inilah bentuk dasar waqaf. |
| الروم | Sebagian kecil harakat dengan suara lirih yang terdengar oleh orang dekat; sebagian besar harakat dihilangkan. |
| الإشمام | Membulatkan bibir setelah menyukunkan huruf sebagai isyarat dammah tanpa suara. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Dasar waqaf Sepuluh qari | Sukun merupakan dasar; raum dan isymam berlaku pada tempat dan syaratnya. | Sukun merupakan dasar; raum dan isymam berlaku pada tempat dan syaratnya. |
| Kesamaan kaidah dasar tidak menghapus pengecualian bab ini. | ||
| Dammah asli Sepuluh qari | Pada al-samadu dan yakhluqu: sukun, raum, dan isymam. | Pada al-samadu dan yakhluqu: sukun, raum, dan isymam. |
| Jangan diperluas kepada mim jamak atau harakat sementara; ha dhamir memiliki perincian. Al-Jami‘, materi: 1665. | ||
| Kasrah asli Sepuluh qari | Pada al-rahimi dan al-dini: sukun dan raum, tanpa isymam. | Pada al-rahimi dan al-dini: sukun dan raum, tanpa isymam. |
| Isymam di sini merupakan isyarat dammah, sehingga tidak berlaku pada kasrah. | ||
| Fathah tanpa tanwin Sepuluh qari | Pada la rayba: hanya sukun, tanpa raum atau isymam. | Pada la rayba: hanya sukun, tanpa raum atau isymam. |
| Syarat tanpa tanwin penting; jangan disamakan dengan tanwin fathah. Al-Jami‘, materi: 1669. | ||
| Tempat tanpa raum dan isymam Sepuluh qari | Huruf yang asalnya sukun, fathah tanpa tanwin, ta feminin yang diwaqafkan sebagai ha, mim jamak, dan harakat sementara. | Lima kelompok tersebut tidak menerima raum maupun isymam. |
| Shilah mim jamak ketika washal tidak membuatnya menerima isyarat saat waqaf. | ||
Cara belajar yang paling aman ialah mengelompokkan akhir kata berdasarkan sebab harakatnya. Kasrah asli dapat menerima raum, sedangkan kasrah yang muncul untuk mengatasi dua sukun tidak. Bentuk tanda yang sama pada mushaf dapat mempunyai fungsi berbeda dalam bacaan.
Raum dan isymam juga perlu dibedakan melalui pendengaran dan penglihatan. Raum menyisakan bunyi harakat yang sangat lirih; isymam waqaf hanya memperlihatkan isyarat bibir setelah sukun. Tabel ini memberi dasar bersama shugra dan kubra, sementara rincian ha dhamir tetap mengikuti pembahasannya sendiri.
الصمدُ
Jelaskan tiga wajahnya, bukan hanya jumlahnya.
1. Dammah dal bukan harakat sementara untuk mengatasi dua sukun; berlaku hukum huruf berdammah.
2. Pada sukun, harakat hilang; pada raum, sebagian kecilnya tetap terdengar.
3. Pada isymam, dal disukunkan dahulu, lalu bibir dibulatkan tanpa suara dammah.
قمِ الليل
Bagaimana waqaf pada qum saja untuk latihan pengujian?
1. Kasrah mim bersifat sementara ketika disambung dengan al-layl.
2. Dengan berhenti, sebab pertemuan dua sukun hilang; mim kembali sukun.
3. Tidak dilakukan raum karena kasrah itu bukan harakat yang menetap pada asal kata.
• Raum bukan ikhtilas; jangan mengucapkan sebagian besar harakat lalu menamakannya raum.
• Membulatkan bibir sambil membunyikan dammah tidak memenuhi isymam waqaf yang dijelaskan di sini.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
20.1 — Berapa wajah waqaf pada al-rahimi menurut kaidah ini?
20.2 — Apakah mim jamak menerima isyarat karena sebagian qari membaca shilah?
20.3 — Apa yang harus diperiksa sebelum menerapkan hukum kasrah pada andziri al-nas?
Rasm dibaca bersama riwayat, bukan digunakan untuk menciptakan wajah baru. Dalam pelajaran ini, bentuk bacaan ketika berhenti dibedakan dari kelayakan tempat berhenti. Sebuah kata dapat diuji cara waqafnya walaupun berhenti di sana tidak tepat dalam tilawah biasa.
• Membedakan ta yang berubah menjadi ha dari ha sakt tambahan.
• Mengaitkan penetapan dan penghilangan huruf dengan washal, waqaf, serta riwayat qari.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| مرسوم الخط | Bentuk penulisan kata; diikuti saat waqaf dengan tetap memperhatikan riwayat. |
| هاء السكت الملحقة | Ha sukun yang tidak tertulis dan ditambahkan saat waqaf pada tempat yang diriwayatkan. |
| الوقف الاختباري | Pengujian bentuk waqaf; tidak otomatis berarti tempat tersebut baik untuk berhenti dalam tilawah. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Ta pada rahmat Ibn Katsir, Abu ‘Amr, al-Kisa’i, Ya‘qub, dan qari lainnya | Empat qari tersebut waqaf dengan ha; lainnya dengan ta, pada kata tunggal yang masuk kaidah. | Empat qari tersebut waqaf dengan ha; lainnya dengan ta, pada kata tunggal yang masuk kaidah. |
| Semuanya membaca ta saat washal; kaidah ini tidak mencakup ta pada verba atau bentuk jamak. | ||
| Ha tertulis pada kitabiyah Sepuluh qari | Ya‘qub menghilangkan ha saat washal, lainnya menetapkannya; semuanya waqaf dengan ha. | Ya‘qub menghilangkan ha saat washal, lainnya menetapkannya; semuanya waqaf dengan ha. |
| Ini tempat pada al-Haqqah 19; harakat ha bersama naql memiliki perincian tersendiri. Al-Jami‘, materi: 1882. | ||
| Ha tambahan pada ‘amma Al-Bazzi, Ya‘qub, dan qari lainnya | Ya‘qub memakai ha menurut penafsiran al-Bahjah yang dipakai di sini; al-Bazzi memiliki dua wajah; lainnya tanpa ha. | Al-Bazzi dan Ya‘qub memiliki dua wajah menurut jalur; lainnya tanpa ha. |
| Bentuk waqafnya ‘ammah atau ‘amm; alif pada ma tidak dikembalikan. | ||
| Ya pada ya’ti Allah biqawm Sepuluh qari | Bunyi ya hilang saat washal dan ditetapkan ketika waqaf pada ya’ti. | Bunyi ya hilang saat washal dan ditetapkan ketika waqaf pada ya’ti. |
| Ya tetap tertulis; hilangnya bunyi saat washal disebabkan pertemuan dua sukun. Al-Jami‘, materi: 1898. | ||
| Penulisan bersambung dan terpisah Sepuluh qari | Bentuk yang ditulis bersambung diwaqafkan pada akhirnya; pada bentuk terpisah, waqaf tiap bagian dapat diuji. | Bentuk yang ditulis bersambung diwaqafkan pada akhirnya; pada bentuk terpisah, waqaf tiap bagian dapat diuji. |
| Tempat yang memiliki perbedaan riwayat diperinci tersendiri; pemilihan waqaf tetap memperhatikan makna. | ||
Pisahkan tiga lapis informasi: bentuk tulisan, bunyi ketika disambung, dan bunyi ketika berhenti. Ya yang tertulis dapat tidak terdengar saat washal karena pertemuan dua sukun. Sebaliknya, ha tambahan tertentu hanya hadir ketika waqaf berdasarkan riwayat, meskipun tidak tertulis.
Rasm juga tidak menentukan sendiri tempat yang baik untuk menghentikan bacaan. Pengujian bentuk waqaf bertujuan mempelajari bunyi akhirnya. Dalam tilawah, kelayakan berhenti tetap mempertimbangkan hubungan makna, lalu cara memulai kembali. Karena itu contoh pengujian tidak otomatis menjadi anjuran tempat waqaf.
رحمت — البقرة ٢١٨
Tentukan huruf yang dibaca saat washal dan waqaf.
1. Contoh ini merupakan nomina tunggal yang ditulis dengan ta dan masuk dalam kaidah.
2. Saat washal, semua qari membaca ta.
3. Saat waqaf, empat qari yang disebutkan menggantinya dengan ha; lainnya tetap ta. Ha ini bukan huruf tambahan yang disisipkan.
يأتي الله بقوم
Jelaskan perbedaan terdengarnya ya antara washal dan waqaf pengujian.
1. Ya tertulis pada ya’ti; jangan memulai analisis dengan kaidah ya yang dihilangkan dari rasm.
2. Saat washal, ya bertemu sukun pada kata berikutnya sehingga bunyinya dihilangkan.
3. Jika menguji waqaf pada ya’ti, ya ditetapkan. Benarnya bentuk waqaf tidak otomatis berarti tempat itu baik untuk berhenti secara sengaja.
• Jangan menarik wajah bacaan yang tidak diriwayatkan hanya dari bentuk tulisan mushaf.
• Jangan memindahkan perbedaan ha tambahan kepada ha tertulis; ha pada mahiyah ditetapkan oleh semua qari saat waqaf.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
21.1 — Apakah Ya‘qub membaca kitabiyah tanpa ha saat waqaf?
21.2 — Apakah alif ma dikembalikan saat waqaf pada ‘amma?
21.3 — Apakah ta pada rahmat berubah menjadi ha saat washal bagi empat qari itu?
Ya idhafah ialah kata ganti orang pertama; perbedaannya biasanya berupa fathah atau sukun saat washal. Buku induk mencatat 212 ya yang diperselisihkan. Contoh berikut mengajarkan cara menganalisisnya, bukan menggantikan daftar seluruh tempat.
• Membedakan harakat ya dari keberadaan huruf ya itu sendiri.
• Mengaitkan hukum washal dengan qari, jalur, dan huruf berikutnya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| ياء الإضافة | Ya yang menunjuk orang pertama; perbedaan dalam bab ini biasanya berkaitan dengan harakatnya saat washal. |
| الفتح والإسكان | Membaca ya dengan fathah atau sukun saat washal; ketika waqaf, ya yang ditetapkan dibaca sukun. |
| الياء الساكنة قبل همز الوصل | Bunyinya dihilangkan saat washal karena pertemuan dua sukun; hal ini perlu dibedakan dari penetapan fathah atau sukun pada ya. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Dzaruni aqtul Sepuluh qari | Ibn Katsir membaca fathah; lainnya sukun. | Ibn Katsir dan al-Ashbahani membaca fathah; lainnya sukun. |
| Ghafir 26; fathah al-Ashbahani tidak dipindahkan kepada al-Azraq. Al-Jami‘, materi: 2202. | ||
| ‘Indi awalam Sepuluh qari | Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, dan Qunbul membaca fathah; lainnya sukun. | Tiga imam pertama membaca fathah; al-Bazzi dan Qunbul memiliki fathah dan sukun menurut jalur; lainnya sukun. |
| Al-Qashash 78; fathah al-Bazzi dan sukun Qunbul bukan dari jalur al-Hirz dan al-Taysir. Al-Jami‘, materi: 2209. | ||
| ‘Ahdi al-zhalimin Sepuluh qari | Hamzah dan Hafsh membaca sukun; lainnya fathah. | Hamzah dan Hafsh membaca sukun; lainnya fathah. |
| Al-Baqarah 124; pada wajah sukun, bunyi ya dihilangkan saat washal sebelum hamzah washal. | ||
| Qawmi ittakhadzu Sepuluh qari | Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, al-Bazzi, dan Rawh membaca fathah; lainnya sukun. | Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, al-Bazzi, dan Rawh membaca fathah; lainnya sukun. |
| Al-Furqan 30; terapkan kaidah ya sukun sebelum hamzah washal. | ||
| Wa liya na‘jah Sepuluh qari | Hafsh membaca fathah; lainnya sukun. | Hafsh membaca fathah; Hisyam memiliki fathah dan sukun menurut jalur; lainnya sukun. |
| Shad 23; perbedaan Hisyam terbagi menurut sumber, sehingga satu wajah tidak boleh diberlakukan pada seluruh jalur al-Hulwani. | ||
Analisis ya idhafah mempunyai dua tahap. Pertama tentukan apakah ya dibaca fathah atau sukun menurut riwayat. Kedua periksa pengaruh huruf berikutnya ketika disambung. Ya yang ditetapkan sukun dapat tidak terdengar sebelum hamzah washal karena kaidah pertemuan dua sukun; ini bukan perubahan keputusan menjadi fathah.
Perbedaan shugra dan kubra kadang sangat terbatas: bertambahnya jalur untuk satu harakat pada satu kata. Contoh al-Ashbahani tidak otomatis berlaku bagi al-Azraq, dan dua wajah Hisyam tidak otomatis berlaku dalam setiap sanadnya. Mencatat kata, keadaan bacaan, serta sumber jalur membuat perbandingan lebih mudah dipahami.
عهدي الظالمين
Jelaskan bacaan Hafsh ketika washal lalu ketika menguji waqaf.
1. Hukum ya bagi Hafsh ialah sukun, bukan fathah.
2. Ketika menyambung al-zhalimin, hamzah washal gugur; bunyi ya sukun dihilangkan karena pertemuan dua sukun.
3. Saat menguji waqaf pada ‘ahdi, ya tetap ada dan sukun; sebab penghilangannya saat washal telah hilang.
ولي نعجة
Apakah nama Hisyam saja cukup untuk menentukan harakat dalam kubra?
1. Dalam al-Hirz dan al-Taysir, Hisyam membaca sukun.
2. Dalam al-Mustanir melalui al-Hulwani: fathah melalui Ibn al-‘Allaf, dan sukun melalui jalur selainnya yang disebutkan.
3. Karena itu, tuliskan sumber dan cabangnya sebelum menentukan harakat; jangan membebaskan pilihan dalam setiap sanad.
• Fathah ya saat washal tidak berarti ya tetap berfathah saat waqaf; ya yang ditetapkan disukunkan saat berhenti.
• Jangan memasukkan setiap ya orang pertama ke daftar bab ini; atani dan fabasysyir ‘ibadi dibahas pada ya zawaid.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
22.1 — Bagaimana al-Azraq membaca dzaruni aqtul dalam kubra?
22.2 — Apakah sukun Qunbul pada ‘indi awalam berasal dari jalur al-Taysir?
22.3 — Apa pertanyaan pertama setelah melihat dua wajah Hisyam pada wa liya na‘jah?
Zawaid di sini ialah ya yang tidak tertulis dalam rasm dan diperselisihkan penetapannya saat washal atau waqaf. Setiap tempat mempunyai dua keadaan yang harus dibaca terpisah lalu dihubungkan melalui jalur yang sama; istilah ini tidak berarti menambah huruf berdasarkan pendapat sendiri.
• Membedakan penetapan ya pada kedua keadaan dari penetapan hanya saat washal.
• Menghindari penggabungan washal dari satu jalur dengan waqaf dari jalur lain.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| الياءات الزوائد | Ya yang tidak tertulis dalam rasm; pembahasannya menelusuri riwayat penetapan dan penghilangannya. |
| الإثبات والحذف | Mempertahankan atau menghilangkan bunyi ya dengan menyebut keadaan bacaannya. |
| الحالان | Washal dan waqaf; hukum ya dapat berbeda pada keduanya. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Ya’t dan nabgh Sepuluh qari | Ibn Katsir dan Ya‘qub menetapkan ya pada kedua keadaan; Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, dan al-Kisa’i hanya saat washal; lainnya menghilangkan pada keduanya. | Ya ditetapkan pada kedua keadaan bagi Ibn Katsir dan Ya‘qub; hanya saat washal bagi empat imam tersebut; lainnya menghilangkan pada keduanya. |
| Ya’t: Hud 105; nabgh: al-Kahf 64. Al-Jami‘, materi: 2289. | ||
| Atani saat washal Sepuluh qari | Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, Hafsh, dan Ruways menetapkan ya berfathah; lainnya menghilangkannya. | Nafi‘, Abu ‘Amr, Abu Ja‘far, Hafsh, dan Ruways menetapkan ya berfathah; lainnya menghilangkannya. |
| Al-Naml 36; Rawh menghilangkan saat washal meskipun menetapkannya saat waqaf. Al-Jami‘, materi: 2306. | ||
| Atani saat waqaf Sepuluh qari | Ya‘qub menetapkan; Qalun, Abu ‘Amr, dan Hafsh memiliki penghilangan dan penetapan; lainnya menghilangkan. | Ya‘qub menetapkan; Qalun, Abu ‘Amr, dan Hafsh mempunyai kedua wajah. Qunbul menetapkan melalui Ibn Syanbudz dan menghilangkan melalui Ibn Mujahid; lainnya menghilangkan. |
| Jika ya ditetapkan saat waqaf, ia sukun; setiap wajah diperhatikan menurut jalurnya. Al-Jami‘, materi: 2307. | ||
| Du‘a’ pada surah Ibrahim Qunbul | Melalui Ibn Mujahid: dihilangkan pada kedua keadaan. | Ibn Mujahid menghilangkan pada kedua keadaan; Ibn Syanbudz menetapkan saat washal dan menghilangkan saat waqaf pada jalur al-Nasyr. |
| Ibn al-Jazari juga menyampaikan cakupan bacaan lebih luas; jangan menetapkan ya saat waqaf bagi setiap jalur Ibn Syanbudz. Al-Jami‘, materi: 2311. | ||
| Kidun Hisyam | Al-Nasyr memilih penetapan pada kedua keadaan untuk jalur al-Taysir, dengan perincian redaksi al-Hirz. | Dalam al-Mustanir dan al-Kifayah: al-Hulwani menetapkan saat waqaf, al-Dajuni menghilangkan saat waqaf; washal memakai penetapan pada jalur kitab. |
| Penghilangan saat waqaf tidak berlaku bagi seluruh jalur Hisyam. Al-Jami‘, materi: 2303. | ||
Buat dua kolom kecil setiap kali mempelajari satu kata: washal dan waqaf. Isilah keduanya untuk perawi dan jalur yang sama. Cara ini memperlihatkan bahwa seorang perawi dapat menghilangkan ya saat menyambung tetapi menetapkannya saat berhenti, seperti Rawh pada atani.
Kata “dua wajah” belum menjelaskan pasangan yang boleh dibaca dalam satu jalur. Buku induk membedakan jalur terpilih al-Nasyr dari riwayat lain yang juga disebutkan pengarangnya. Pelajaran ini mempertahankan perbedaan tersebut agar siswa tidak mengambil satu bagian dari masing-masing jalur lalu menganggapnya satu bacaan yang diriwayatkan.
آتاني — النمل ٣٦
Bandingkan Ruways dan Rawh pada kedua keadaan.
1. Ruways menetapkan ya berfathah saat washal; Rawh menghilangkannya saat washal.
2. Keduanya, sebagai perawi Ya‘qub, menetapkan ya sukun saat waqaf.
3. Kesamaan saat waqaf tidak menghapus perbedaan saat washal; catat keduanya secara terpisah.
دعاء — إبراهيم
Ibn Mujahid dan Ibn Syanbudz dari Qunbul: di mana perbedaannya?
1. Menurut jalur al-Nasyr yang dijelaskan, keduanya menghilangkan ya saat waqaf.
2. Saat washal, Ibn Mujahid menghilangkan ya dan Ibn Syanbudz menetapkannya.
3. Jangan memasangkan penetapan saat waqaf dari riwayat yang lebih luas dengan washal ini tanpa menentukan sanadnya.
• Jangan menghitung satu tempat dua kali hanya karena berbeda hukum washal dan waqaf atau karena banyak qari.
• Benarnya sebuah wajah dalam suatu riwayat bukan izin menggabungkannya dengan setiap wajah lain dalam riwayat itu.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
23.1 — Bagaimana al-Kisa’i membaca nabgh saat waqaf?
23.2 — Apakah penetapan Qunbul pada atani saat waqaf berlaku bagi seluruh jalurnya?
23.3 — Mengapa tidak cukup mengatakan: Hisyam menghilangkan ya pada kidun?
Hamzah washal dibaca ketika memulai dan gugur ketika bacaan disambung. Kita menentukan harakat awal berdasarkan bentuk kata, lalu memeriksa maknanya; harakat yang benar tidak menjadikan setiap tempat layak dijadikan awal bacaan.
• Menentukan harakat awal yang tepat pada contoh yang diriwayatkan.
• Membedakan dammah asli dan sementara, serta hamzah washal dan qatha‘.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| همزة الوصل | Hamzah yang dibaca ketika memulai dan gugur ketika disambung dengan kata sebelumnya. |
| الضم العارض | Dammah sementara yang tidak dijadikan dasar untuk mendammahkan hamzah washal, seperti pada imsyu. |
| همزة القطع | Hamzah yang tidak gugur hanya karena kata disambung dengan sebelumnya, berbeda dari hamzah washal. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Alif-lam ta‘rif Sepuluh qari | Dimulai dengan fathah pada al-hamdu dan al-rahman; hamzah gugur saat washal. | Dimulai dengan fathah pada al-hamdu dan al-rahman; hamzah gugur saat washal. |
| Memulai pada lam yang menerima perpindahan harakat hamzah memiliki perincian lain. Al-Jami‘, materi: 2358. | ||
| Harakat huruf ketiga verba Sepuluh qari | Hamzah berdammah jika huruf ketiga berdammah asli, seperti ud‘u; hamzah berkasrah jika huruf ketiga berkasrah atau berfathah, seperti ihdina dan idzhab. | Hamzah berdammah karena dammah asli; berkasrah jika huruf ketiga berkasrah atau berfathah. |
| Fathah pada huruf ketiga tidak mengharuskan fathah pada hamzah washal. | ||
| Imsyu Sepuluh qari | Dimulai dengan kasrah: imsyu. | Dimulai dengan kasrah: imsyu. |
| Dammah yang tampak bersifat sementara; tidak dijadikan dasar untuk menyamakan awalnya dengan ud‘u. Al-Jami‘, materi: 2362. | ||
| Nomina dengan hamzah washal yang diterima melalui pemakaian Sepuluh qari | Awal ibn, ibnat, imri’, imra’ah, itsnayn, itsnatayn, dan ism dibaca kasrah. | Awal ketujuh nomina tersebut dibaca kasrah. |
| Perubahan harakat akhir nomina menurut konteks tidak mengubah kaidah awal ini. Al-Jami‘, materi: 2370. | ||
| I’tuni dan u’tumina Sepuluh qari | Dimulai ituni dengan mengganti hamzah sukun menjadi ya, dan utumina dengan menggantinya menjadi waw. | Dimulai ituni dengan mengganti hamzah sukun menjadi ya, dan utumina dengan menggantinya menjadi waw. |
| Ini hukum memulai; penggantian pada awal bacaan tidak otomatis dipindahkan kepada washal. | ||
Jangan menjadikan bentuk harakat yang tampak sebagai satu-satunya petunjuk. Kaidah dammah pada huruf ketiga verba mensyaratkan dammah asli. Imsyu merupakan contoh bahwa dammah sementara tidak memenuhi syarat tersebut. Karena itu siswa perlu menghafal contoh bersama alasan penerapannya, bukan sekadar pola visualnya.
Memulai dan menyambung adalah dua keadaan bunyi yang berbeda. Pada i’tuni, bentuk awal bacaan melibatkan hamzah washal berkasrah dan penggantian hamzah sukun menjadi ya. Bentuk itu tidak boleh disalin otomatis ketika menyambung. Selain ketepatan bunyi, keputusan memulai tetap harus menjaga hubungan makna.
امشوا
Apakah melihat dammah cukup untuk memutuskan hamzah washal berdammah?
1. Periksa dammahnya: pada kata ini, dammah bersifat sementara.
2. Terapkan bacaan yang ditetapkan pada contoh ini: mulai imsyu dengan kasrah.
3. Sesudah tepat bunyinya, periksa tempat memulai; jangan memutus konteks hanya karena harakatnya telah benar.
ائتوني — يوسف ٥٤
Bagaimana siswa memulai dari kata ini?
1. Bedakan i’tuni dari atuni; kata pertama di sini memiliki hamzah washal.
2. Mulai dengan hamzah washal berkasrah, kemudian ganti hamzah sukun dengan ya: ituni.
3. Jika menyambung dari kata sebelumnya, periksa kembali hukum hamzah menurut qari; jangan memakai bentuk awal bacaan untuk washal.
• Jangan menghilangkan hamzah qatha‘ pada akrama atau anzala hanya karena kata itu berupa verba.
• Jika terpaksa berhenti di tempat yang kurang tepat, kembalilah ke bagian yang membuat makna tersambung dengan baik sebelum melanjutkan.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
24.1 — Dengan harakat apa idzhab dimulai, dan mengapa?
24.2 — Bagaimana bentuk awal bacaan pada u’tumina?
24.3 — Apakah harakat hamzah yang benar saja cukup untuk memilih tempat memulai?
Bab ini membedakan pertemuan dalam satu kata dari pertemuan yang muncul saat dua kata disambung. Huruf mad dapat dihilangkan bunyinya, sedangkan konsonan sukun dapat diberi harakat. Karena itu satu cara tidak diterapkan kepada semua contoh.
• Membedakan huruf mad, konsonan sukun, dan waw lin.
• Membedakan harakat sementara saat washal dari bentuk waqaf dan ibtida.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التقاء الساكنين | Pertemuan dua sukun; hukumnya dibedakan menurut tempatnya dalam satu kata atau di antara dua kata. |
| حركة التخلص | Harakat sementara saat washal untuk mengatasi dua sukun, yang hilang ketika waqaf. |
| نون التنوين | Bunyi nun saat washal, bukan huruf baru yang ditambahkan dalam rasm. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Huruf mad sebelum sukun Sepuluh qari | Bunyi huruf mad dihilangkan saat washal, seperti fi al-ardh dan qalu al-hamdu. | Bunyi huruf mad dihilangkan saat washal, seperti fi al-ardh dan qalu al-hamdu. |
| Al-dhallin tidak termasuk; pertemuan di dalam katanya bersifat tetap dan mempunyai hukum mad. | ||
| Lam pada qul ud‘u Sepuluh qari | ‘Ashim, Hamzah, dan Ya‘qub membaca kasrah; lainnya dammah, termasuk Abu ‘Amr. | ‘Ashim, Hamzah, dan Ya‘qub membaca kasrah; lainnya dammah, termasuk Abu ‘Amr. |
| Ini perbedaan yang diriwayatkan sebelum verba dengan huruf ketiga berdammah asli; kaidah dasar kasrah tidak boleh digeneralisasi. | ||
| Min sebelum alif-lam Sepuluh qari | Nun berfathah pada min Allah dan min al-jinnah. | Nun berfathah pada min Allah dan min al-jinnah. |
| Kasus ini tidak disamakan dengan min idhthurra yang diikuti verba. Al-Jami‘, materi: 2399. | ||
| Waw pada isytaraw al-dhalalah Sepuluh qari | Waw berdammah saat washal dan sukun ketika waqaf pada isytaraw. | Waw berdammah saat washal dan sukun ketika waqaf pada isytaraw. |
| Sebelum waw terdapat fathah; waw ini berbeda dari waw mad pada qalu al-hamdu. Al-Jami‘, materi: 2400. | ||
| Tanwin kasrah sebelum verba Qunbul | Tanwin diberi dammah dalam bab ini. | Ibn Mujahid membaca dammah; Ibn Syanbudz membaca kasrah pada tanwin jar menurut al-Dani, al-Mubhij, dan al-Mustanir, tetapi dammah dalam Jami‘ Ibn Faris dan Kifayat al-Sitt. |
| Batasnya sebelum verba yang hamzah washalnya berdammah karena dammah asli; satu penukilan tidak berlaku bagi semua sumber. | ||
Kunci pelajaran ini ialah mengenali jenis huruf pertama. Waw pada qalu adalah huruf mad, sedangkan waw pada isytaraw didahului fathah. Akibatnya, penyelesaian pertemuan dua sukun berbeda: bunyi mad pada contoh pertama hilang saat washal, sementara waw pada contoh kedua diberi dammah.
Harakat yang muncul karena washal bukan harakat permanen akhir kata. Saat berhenti, penyebabnya hilang; saat memulai kata berikutnya, hamzah washal dibaca kembali. Di samping kaidah umum ini terdapat perbedaan yang diriwayatkan, seperti lam pada qul ud‘u dan tanwin Qunbul, sehingga keputusan akhir tetap mengikuti qari serta sumber jalurnya.
قالوا الحمد — اشتروا الضلالة
Mengapa kedua waw tidak diperlakukan sama?
1. Waw pada qalu ialah huruf mad; bunyi mad dihilangkan saat menyambung al-hamdu.
2. Waw pada isytaraw didahului fathah; waw diberi dammah ketika disambung dengan al-dhalalah dan tidak diperlakukan sebagai waw mad.
3. Ketika waqaf pada isytaraw, waw sukun; dammah tadi berkaitan dengan washal.
قل ادعوا
Analisis washal, kemudian pisahkan kedua kata untuk pengujian.
1. Saat washal, hamzah washal gugur dan lam pada qul diberi harakat menurut qari.
2. ‘Ashim, Hamzah, dan Ya‘qub membaca lam dengan kasrah; qari lainnya dengan dammah.
3. Ketika waqaf pada qul, lam sukun; ketika memulai ud‘u, hamzah washal kembali dibaca dengan dammah.
• Jangan menghilangkan huruf mad pada al-dhallin dengan menyamakannya pada fi al-ardh; tempat pertemuannya berbeda.
• Jangan mempertahankan harakat pengatasi dua sukun ketika waqaf, atau menambahkan nun tertulis untuk menggambarkan tanwin.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
25.1 — Bagaimana Abu ‘Amr memberi harakat pada lam qul ud‘u?
25.2 — Apakah mim jamak dipanjangkan dengan waw shilah sebelum sukun?
25.3 — Mengapa kasrah tanwin jar tidak boleh dinisbatkan kepada semua jalur Ibn Syanbudz?
Takbir ialah zikir yang diriwayatkan melalui jalur tertentu dan bukan bagian dari lafaz surah. Menetapkan adanya takbir bagi seorang qari belum cukup; tentukan lafaz, awal, dan akhirnya, kemudian pelajari cara berhenti dan menyambung yang sesuai.
• Membedakan takbir yang dikaitkan dengan akhir surah dari takbir yang dikaitkan dengan awal surah.
• Menjaga batas jalur saat mempelajari lafaz takbir dan cara pemisahannya.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| التكبير | Mengucapkan Allahu akbar pada tempat yang diriwayatkan; bukan ayat dari surah. |
| القطع هنا | Berhenti disertai mengambil napas, bukan sakt secara istilah yang tanpa napas. |
| تكبير الأوائل والخواتم | Mengaitkan takbir dengan awal atau akhir surah; penentuan awal dan akhir rangkaian takbir mengikuti kaitan tersebut. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Al-Bazzi dan Qunbul Al-Bazzi dan Qunbul | Takbir ditetapkan bagi al-Bazzi; Qunbul mempunyai takbir dan tanpa takbir dalam al-Hirz. | Perincian al-Bazzi lebih luas; Qunbul memiliki takbir dan tanpa takbir menurut jalur. |
| Penetapan dasar takbir tidak sekaligus menentukan seluruh lafaz dan awalnya. | ||
| Takbir al-Susi Al-Susi | Tidak ada takbir baginya melalui al-Syathibiyyah. | Ditetapkan melalui Ibn Habasy dalam al-Tajrid; Abu al-‘Ala menyebut mulai dari al-Syarh, dengan syarat basmalah. |
| Perawi lain yang disebutkan tidak membaca takbir; jangan diberlakukan pada semua jalur al-Susi. Al-Jami‘, materi: 2409. | ||
| Takbir akhir surah Pembaca yang mengambil jalur ini | Mulai setelah akhir al-Dhuha; membaca takbir setelah akhir al-Nas. | Dengan mengaitkan takbir pada akhir surah: setelah al-Dhuha sampai setelah akhir al-Nas. |
| Takbir terakhir terkait akhir al-Nas, bukan awal al-Fatihah. | ||
| Takbir awal surah Pembaca takbir sesuai jalur | Diriwayatkan bagi al-Bazzi mulai awal al-Dhuha; akhirnya mengikuti kaitan takbir dengan awal surah. | Yang memulai awal al-Dhuha atau awal al-Syarh berakhir pada awal al-Nas, tanpa takbir setelah akhirnya. |
| Jangan memilih awal dari satu jalur dan akhir dari jalur lainnya. | ||
| Lafaz dan urutannya Pembaca takbir sesuai jalur | Lafaz dasarnya Allahu akbar; tahlil mendahuluinya jika diriwayatkan, kemudian basmalah. | Tahlil, takbir, tahmid jika diriwayatkan, lalu basmalah; tidak ada tahmid tanpa tahlil. |
| Bagian zikir yang diriwayatkan disambung sebagai satu rangkaian; pilihan pemisahan antarsurah tidak diterapkan di antara bagiannya. | ||
Pisahkan dua pertanyaan: apakah jalur ini meriwayatkan takbir, dan bagaimana takbir itu ditempatkan? Takbir setelah al-Dhuha dapat dikaitkan dengan penutup surah, sedangkan takbir awal al-Syarh dikaitkan dengan pembuka surah. Perbedaan kaitan ini tampak ketika menentukan kapan rangkaian takbir berakhir.
Setelah jalur dan lafaznya jelas, barulah dipilih cara berhenti atau menyambung yang sesuai. Sebagian pilihan pemisahan merupakan pilihan pelaksanaan, sehingga tidak harus diulang semuanya setiap kali berganti surah. Namun awal, akhir, dan susunan zikir mengikuti riwayat; ketiganya tidak diambil terpisah dari jalur yang berbeda.
الله أكبر
Urutkan wajah memisah seluruh bagian apabila takbir ditetapkan pada jalur tersebut.
1. Berhenti pada akhir surah dengan mengambil napas.
2. Ucapkan takbir lalu berhenti; baca basmalah lalu berhenti.
3. Mulai surah berikutnya. Cara pemisahan ini dapat sesuai dengan takbir akhir atau awal surah, setelah riwayatnya ditetapkan.
فحدِّثِ الله أكبر
Analisis menyambung akhir al-Dhuha dengan takbir saja; takbir bukan bagian surah.
1. Akhir fahaddits sukun ketika waqaf; saat disambung dengan takbir saja, huruf akhirnya berkasrah untuk mengatasi dua sukun.
2. Jangan menerapkan contoh ini kepada rangkaian yang diawali tahlil; rangkaian itu memiliki hukum lain.
3. Jika berhenti terlebih dahulu, jangan mempertahankan kasrah washal pada akhir surah.
• Jangan menyambung akhir surah, takbir, dan basmalah lalu berhenti pada basmalah; itu memisahkan basmalah dari surah yang berkaitan dengannya.
• Pilihan pemisahan tidak membentuk jalur takbir baru; tidak wajib mengulang seluruh wajah pada setiap pergantian surah.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
26.1 — Jika mulai takbir pada awal al-Syarh dengan pola awal surah, di mana berakhir?
26.2 — Apakah qath‘ dalam bab ini berarti sakt tanpa napas?
26.3 — Apakah tahmid ditetapkan bersama takbir tanpa tahlil pada jalur yang disebutkan?
Dua wajah dapat masing-masing benar tetapi tidak boleh dipasangkan dalam satu jalur. Tahrirat memeriksa penisbatan dan pasangan wajah agar siswa membaca apa yang diriwayatkan melalui jalur itu, bukan rangkaian yang dibuat dari berbagai kemungkinan terpisah.
• Membedakan qiraah, riwayah, thariq, dan wajah.
• Memeriksa kebenaran pasangan dua wajah sebelum menisbatkannya kepada qari.
| Istilah | Makna |
|---|---|
| القراءة والرواية | Yang dinisbatkan kepada imam disebut qiraah; yang dinisbatkan kepada perawinya disebut riwayah. |
| الطريق | Yang dinisbatkan kepada periwayat di bawah rawi; pasangan wajah dapat berbeda menurut jalurnya. |
| وجه التخيير | Pilihan yang diizinkan pada tempatnya; tidak sama dengan perbedaan sanad dan tidak mengizinkan penggabungan sembarang sanad. |
Baca nama pembaca dan batas masalah sebelum membandingkan kedua kolom.
| Masalah dan pembaca | Sughra | Kubra |
|---|---|---|
| Batas sumber Sepuluh qari | Mengikuti jalur al-Syathibiyyah dan al-Durrah beserta batasnya. | Mengikuti jalur al-Thayyibah yang diperinci dalam al-Nasyr beserta batas sumbernya. |
| Kesamaan nama rawi tidak menetapkan setiap pasangan bagi seluruh jalurnya. Al-Jami‘, materi: 2478. | ||
| Riwayat dan pilihan Sepuluh qari | Mengikuti yang diriwayatkan dan memilih dari wajah yang diizinkan. | Mengikuti yang diriwayatkan dan memilih dari wajah yang diizinkan. |
| Mempelajari seluruh wajah tidak menciptakan satu jalur yang menggabungkan semuanya. | ||
| Syarat penggabungan bacaan Sepuluh qari | Waqaf dan ibtida yang benar, pelafalan yang baik, serta menghindari pencampuran jalur. | Waqaf dan ibtida yang benar, pelafalan yang baik, serta menghindari pencampuran jalur. |
| Siswa menyiapkan diri dengan menguasai bacaan satu per satu dan memahami istilah kitab. | ||
| Mad munfashil dan mim jamak Qalun; sebelum huruf berharakat | Dengan qashr: mim sukun atau shilah; dengan tawassuth: mim sukun atau shilah. | Empat pasangan itu terdapat pada jalur Abu Nasyith yang disampaikan al-Khaliji; bukan pada setiap jalur di bawahnya. |
| Sebelum hamzah qatha‘, panjang shilah mim mengikuti mad munfashil dan tidak dihitung sebagai pilihan mandiri. | ||
| Tawassuth badal dan alif asal ya Al-Azraq, menurut tahrirat al-Khaliji | Tawassuth mad badal dipasangkan dengan taqlil. | Taqlil; fath ditambahkan melalui jalur al-Talkhish yang ditentukan al-Khaliji. |
| Pada alif asal ya yang menerima dua wajah; ini tambahan pasangan tertentu. | ||
Kebenaran sebuah wajah dan kebenaran pasangannya merupakan dua pemeriksaan berbeda. Mengetahui bahwa seorang rawi mempunyai qashr serta taqlil belum membuktikan bahwa keduanya dapat dibaca bersama pada satu jalur. Tahrirat menelusuri sumber yang memberi pasangan tersebut dan membatasi tempat penerapannya.
Bagi siswa, kebiasaan terpenting ialah selalu menanyakan “menurut jalur mana?” sebelum menghitung banyak kemungkinan. Mulailah dengan bacaan yang telah dikuasai secara terpisah, kemudian pelajari penggabungan yang menjaga waqaf, ibtida, pelafalan, dan ketepatan riwayat. Jumlah pilihan dalam tabel tidak boleh dihitung dengan mengalikan semua wajah secara bebas.
قصر البدل مع التقليل
Ini label latihan, bukan ayat: uji pasangannya dalam tahrirat al-Khaliji untuk al-Azraq.
1. Batasi contoh pada alif asal ya yang menerima fath dan taqlil.
2. Dalam tahrirat ini, qashr badal dipasangkan dengan fath; taqlil tidak ditetapkan bersamanya.
3. Adanya taqlil bersama tawassuth atau isyba‘ badal tidak memindahkannya kepada qashr.
قصر المنفصل مع إسكان الميم أو صلتها
Ini label latihan: bagaimana menghitung wajah Qalun secara tepat?
1. Pastikan mim berada sebelum huruf berharakat; secara umum terdapat mim sukun dan shilah bersama qashr.
2. Tambahkan mim sukun dan shilah bersama tawassuth munfashil sehingga jumlahnya empat pasangan.
3. Sebelum hamzah qatha‘, jangan melipatgandakan jumlah dengan memisahkan panjang shilah dari munfashil; untuk jalur tertentu, periksa sumbernya.
• Jangan menisbatkan gabungan yang tidak diriwayatkan kepada suatu jalur meskipun tampak benar dalam bahasa Arab.
• Jangan menganggap akhir ayat saja cukup untuk penggabungan bacaan; hubungan makna dan awal bacaan kembali tetap diperhatikan.
Jawab dahulu sebelum membuka kunci di bagian akhir buku.
27.1 — Termasuk tingkatan apa bacaan yang dinisbatkan kepada periwayat di bawah rawi?
27.2 — Apa tambahan pada tawassuth badal bersama alif asal ya di sini?
27.3 — Apakah lam tebal boleh dipasangkan dengan taqlil alif berikutnya bagi al-Azraq?
1.1 — Sebelum mulai membaca.
1.2 — Ya; ini salah satu dari empat cara dalam konteks ini.
1.3 — Tidak perlu karena pertanyaan itu berkaitan dengan bacaan.
2.1 — Tidak; permulaan mandiri memakai basmalah.
2.2 — Ya: akhir surah sebelumnya, basmalah, dan awal surah berikutnya.
2.3 — Tidak; susunan waqaf dan washal bersama basmalah merupakan pilihan.
3.1 — Tidak; فيه memakai ha tunggal yang dibahas pada ha kinayah.
3.2 — Tidak pada tempat-tempat ini; ia termasuk yang membaca kasrah.
3.3 — Tidak; kedua wajah dibagikan menurut jalur. Karena itu, jangan memilih kasrah hanya karena tercantum pada tabel kubra tanpa menentukan jalurnya.
4.1 — Waw dihilangkan dan mim disukunkan.
4.2 — Tidak; silah berlaku sebelum hamzah qatha‘, sedangkan sebelum yang lain mim sukun.
4.3 — Tidak; sumber jalurnya harus ditentukan.
5.1 — Tidak; terdapat jalur izhar dan jalur idgham.
5.2 — Karena tanwin memisahkan keduanya dan memiliki hukum sendiri.
5.3 — Tidak; tahqiq hamzah diriwayatkan bersama idgham Ya‘qub melalui jalur yang disebutkan.
6.1 — Ya yang dilafalkan ketika washal.
6.2 — Tidak; ha dapat tetap berharakat tanpa silah, seperti يتقه pada Hafsh.
6.3 — Tidak; ini pengecualian tertentu dalam al-Furqan.
7.1 — Tidak; qashr mempertahankannya tanpa tambahan.
7.2 — Tidak; qashr tersebut merupakan tambahan melalui jalur tertentu dalam kubra.
7.3 — Ikuti sebab yang lebih kuat, bukan menjumlahkan kadarnya.
8.1 — Tidak; Ibn Katsir dan Ruwais men-tas-hil-kan hamzah kedua fathah tanpa idkhal pada kaidah yang disebutkan.
8.2 — Tidak; dibaca isyba‘ karena setelah hamzah kedua terdapat sukun shahih.
8.3 — Tidak; tanpa idkhal terbatas pada sumber dan jalur tertentu.
9.1 — Tidak; kaidah penghapusan tersebut berlaku pada dua hamzah yang sama harakatnya.
9.2 — Pertama, dengan tahqiq kedua.
9.3 — Tidak; di sini khusus melalui Abu ath-Thayyib dari at-Tammar.
10.1 — Tahqiq; kaidah ibdal as-Susi tidak dipindahkan kepadanya.
10.2 — Tidak; maksudnya huruf pertama akar kata.
10.3 — Tahqiq di samping ibdal menurut jalur dalam kubra.
11.1 — Dhammah; dipindahkan ke nun dan hamzah dihilangkan dalam bacaan Warsh.
11.2 — Tidak; lam alif-lam diperlakukan seperti huruf terpisah dalam bab ini.
11.3 — Tidak; berlaku ketika washal dan waqaf.
12.1 — Pada alif pengganti tanwin.
12.2 — Idgham pada jalur idraj, bukan pilihan izhar tersendiri.
12.3 — Tidak; batasan itu khusus untuk sakt pada huruf sukun sebelum hamzah, bukan empat tempat sakt.
13.1 — Dengan ya sukun, karena hamzah asalnya sukun dan didahului kasrah.
13.2 — Tidak; setiap keadaan memiliki ketentuannya. Hamzah qatha‘ yang menjadi awal bacaan dibaca tahqiq.
13.3 — Adanya tahqiq melalui beberapa jalur, sementara jalur peringanan tetap ada.
14.1 — Huruf pertama sukun.
14.2 — Dengan izhar ta sebelum tsa.
14.3 — Tidak; idgham berlaku bagi Ruwais dan Rauh dalam cakupan perbandingan ini.
15.1 — Izhar; termasuk tiga pengecualian.
15.2 — Nun diubah menjadi mim yang disamarkan dengan ghunnah.
15.3 — Tidak; Abu ‘Utsman adh-Dharir tanpa ghunnah, Ja‘far bin Muhammad dengan ghunnah.
16.1 — Tidak; taqlil berada antara fath dan imalah.
16.2 — Tidak; yang dimaksud ialah keadaan majrur. Selain itu dibaca fath.
16.3 — Tidak; riwayat imalah ya darinya berada di luar jalur-jalur ini.
17.1 — Tidak; alif sebelumnya menjadi pengecualian pada kedua metode.
17.2 — Hamzah, bukan alif mad.
17.3 — Tidak; huruf akhirnya ta ketika washal, sedangkan ketentuan ini berlaku pada ha waqaf.
18.1 — Tidak; tarqiq merupakan sifat huruf, sedangkan imalah berkaitan dengan harakat dan alif.
18.2 — Karena sesudahnya terdapat huruf isti‘la dalam kata yang sama, yaitu tha.
18.3 — Tarqiq karena ya sukun sebelum ra, bagi semua qari.
19.1 — Tidak; za berkasrah, sedangkan syaratnya fathah atau sukun.
19.2 — Tidak dalam pasangan yang dijelaskan; penebalan bersama fath, sedangkan taqlil bersama penipisan.
19.3 — Karena harakat sebelumnya dapat berupa kasrah saat disambung, sedangkan saat memulai terdapat fathah hamzah washal.
20.1 — Dua: sukun dan raum; tidak ada isymam pada kasrah.
20.2 — Tidak; mim diwaqafkan dengan sukun, tanpa raum atau isymam.
20.3 — Periksa sebab kasrahnya; kasrah itu sementara, sehingga ra diwaqafkan sukun tanpa raum.
21.1 — Tidak; ha dihilangkan saat washal dan ditetapkan sukun saat waqaf.
21.2 — Tidak; bentuk yang diriwayatkan ialah ‘ammah dan ‘amm, sesuai qari dan jalurnya.
21.3 — Tidak; semua membaca ta saat washal. Perbedaannya ada saat waqaf.
22.1 — Dengan ya sukun; tambahan fathah berlaku bagi al-Ashbahani, bukan al-Azraq.
22.2 — Tidak; jalur al-Taysir membaca fathah, sedangkan sukun berasal dari jalur kubra lainnya.
22.3 — Apa sumber dan cabangnya? Kedua wajah dibedakan menurut jalur.
23.1 — Ya dihilangkan; penetapannya hanya saat washal.
23.2 — Tidak; ditetapkan melalui Ibn Syanbudz dan dihilangkan melalui Ibn Mujahid dalam perincian tersebut.
23.3 — Karena keadaan dan jalur menjadi batasnya; penghilangan saat waqaf yang disebutkan berlaku bagi al-Dajuni, bukan semua cabang Hisyam, sedangkan washal di sini menetapkan ya.
24.1 — Dengan kasrah; huruf ketiga verba berfathah, dan fathah huruf ketiga tidak mengharuskan hamzah berfathah.
24.2 — Utumina; hamzah washal berdammah, dan hamzah sukun diganti waw.
24.3 — Tidak; awal bacaan juga harus benar dari segi makna.
25.1 — Lam diberi dammah saat washal; dalam kasus ini ia termasuk selain ‘Ashim, Hamzah, dan Ya‘qub.
25.2 — Tidak; mim diberi harakat menurut qari dan huruf sebelumnya, tanpa waw shilah sebelum sukun.
25.3 — Karena Jami‘ Ibn Faris dan Kifayat al-Sitt meriwayatkan dammah secara umum; sumber harus disebut bersama wajahnya.
26.1 — Pada awal al-Nas; tidak bertakbir setelah akhirnya menurut pola ini.
26.2 — Tidak; yang dimaksud ialah berhenti disertai napas.
26.3 — Tidak; tahmid disyaratkan bersama tahlil dengan urutan lafaz yang diriwayatkan.
27.1 — Thariq; tingkatan ini tidak disamakan dengan qiraah yang dinisbatkan kepada imam.
27.2 — Pasangannya dengan fath melalui jalur al-Talkhish yang ditentukan, bukan pembebasan fath dalam setiap sanad.
27.3 — Tidak; pada tempat yang dijelaskan, penebalan bersama fath dan taqlil bersama penipisan.
Pelajaran ini disusun dari Al-Jami‘ fi Usul al-Qira’at al-‘Asyr versi 0.57. Angka pada rujukan “Al-Jami‘” adalah nomor materi di kitab tersebut. Tautannya membuka halaman materi pada PDF utama, yang memuat rujukan lebih terperinci dan cabang tariq.
| Sumber | Perannya dalam perbandingan |
|---|---|
| حرز الأماني — الشاطبية | Dasar perbandingan tujuh qiraat dalam sughra. |
| الدرة المضية | Melengkapi qiraat sepuluh dengan qiraat Abu Ja‘far, Ya‘qub, dan Khalaf. |
| طيبة النشر | Matan yang memuat jalur qiraat sepuluh kubra. |
| النشر في القراءات العشر | Penjelasan sanad, wajah bacaan, sumber, dan batas penerapannya. |
| الجامع في أصول القراءات العشر | Rujukan langsung pelajaran ini. Kitab tersebut memuat rincian perbandingan, rujukan sumber, dan perbedaan tahrir. |
Kunci jawaban membantu mengecek pemahaman atas materi pilihan dalam buku belajar ini. Praktik pelafalan dipelajari melalui talaqqi, sedangkan rincian perbedaan ditelusuri melalui rujukan ke kitab utama.